Selasa, 05 Februari 2008

engkau yang menggenggam seikat bunga

engkau yang menggenggam seikat bunga,

Mula ku terpesona,

Akan  indah warna,

Ketika mewangi hari,

Kala kata berkisah bahagia

 

engkau yang menggenggam seikat bunga

Sungguh aku terkesima

Kala kau buka tabir muka

Dan beribu warna tergambar di sana

Sehingga ku ragu,

Putihkah?

Merahkah?

KelabuKah?

Dan akupun bimbang;

Bisakah kau bedakan,

mana impian dan dimana kenyataan

 

engkau yang menggengam seikat bunga

Terimakasih telah kau beri aku setangkai mawar

yang kusimpan disudut hari

menemaniku merajut mimpi

 

engkau yang menggenggam seikat bunga

Terimakasih telah kau hujamkan duri dan duri dilubuk hati

Menggores luka yang tak terkira

Meminta selaksa airmata

 

Kan kubawa luka ini padaNYA

Kan ku kabarkan duka ini padaNYA

Dalam do’a

Dalam pinta

Agar kelak hanya bahagia ku punya

Hanya ceria ku rasa

 

4 komentar:

  1. engkau yang menggengam seikat bunga,
    sungguh ku tak mengerti untuk siapakah bunga itu
    namun,
    biarlah bisunya gunung yang menjawab,
    atau dalamnya laut yang memberikan penjelasan

    karena sekiranya aku jawab
    niscaya rembulan akan enggan bersinar
    burung gagak pun jadi enggan terbang




    BalasHapus
  2. ujungnya... religius banget!

    BalasHapus
  3. emang mo jawab apa atau siapa?? ^_^
    (jika rembulan enggan bersinar,masih ada gugusan gemintang, jika gagak enggan terbang, masih ada pipit bernyanyi riang)

    BalasHapus
  4. Religius??? ^_^ saya ingin religi menjadi poros semua aktifitas saya ^_^

    BalasHapus