Sabtu, 28 Juni 2008

Mencintai itu bukan dosa,

“mencintai itu bukan dosa Nak.  Cinta itu hanyalah salah satu dari tiga naluri yang Allah berikan pada manusia.  Setiap orang pasti punya, seperti halnya mereka punya naluri untuk mempertahankan diri, dan naluri untuk menuhankan sesuatu”
Kalimat itu yang biasanya kugunakan sebagai “awalan” jika dulu ada murid-muridku yang curhat padaku tentang perasaan suka alias cinta mereka pada lawan jenis.  Tapi kalimat itu belum titik.  Ada penjelasan panjang berikutnya.  Penjelasan yang rencananya akan ku uraikan tahap demi tahap bahwa ada banyak hal yang harus dipikirkan selain cinta dan rasa.  Ada banyak tugas menanti seiring perkembangan usia menuju dewasa.  Ada cita-cita yang harus digapai, ada banyak mimpi yang harus diwujudkan.
Aku khawatir jika aku langsung meng”cut” perasaan yang sebenarnya merupakan pelajaran dan ujian bagi mereka, mereka malah akan lari dan mencoba mencari solusi sendiri yang menyenangkan bagi diri dan hati.  Aku khawatir malah akan ada “backstreet” yang akhirnya membawa sesuatu yang dikhawatirkan.  Jelas tidak ada pacaran dalam Islam, tapi untuk menjelaskan hal yang demikian pada anak yang baru gede, tentu butuh uraian dan penalaran agar bisa diterima dengan nyaman.

Mungkin hanya aku yang toleran dengan hal yang demikian.  Sementara rekan-rekan yang lain, dalam rangka menjaga generasi muda,mencoba menjelaskan langsung melalui dalil yang telah mereka urai dalam sebuah kajian.
Yang protes padaku?  tidak sedikit.  Ada yang bilang aku terlalu berpihak pada siswa sehingga akhirnya malah memberi batasan yang berlebihan pada siswa.  Ada yang menegur langsung bahwa caraku hanya akan menjamurkan perasaan cinta terhadap lawan jenis diantara para siswa.  Tapi aku tetap pada pendirianku bahwa mencintai bukanlah dosa.  Hanya perlu cara agar cinta itu datang tidak terlalu awal, tidak merusak konsentrasi belajar, dan tentunya tiidak memupus harapan semua orang pada siswa yang bersangkutan.  Juga agar siswa tahu bahwa cinta sejati kelak kan datang tepat waktu,  sedangkan cinta hakiki adalah cinta dari Sang Pemberi rasa Cinta.

Ada juga ketika aku mencoba membahas perihal surat cinta yang ditemukan diantara siswa, seorang rekan berkata ”Kenapa ya, kalau ada Bu Rani pasti ada surat cinta, kalau ga ada Bu Rani ga ada tuh…”  Pernyataan yang cukup menggelitik juga, cukup menjadi perhatian untuk kemudian aku harus mengkaji ulang mengenai “treatment” yang aku berikan pada siswaku.  Tapi aku tetap kembali pada prisnsipku, bahwa mencintai adalah bukan dosa, yang merupakan perbuatan dosa berkaitan dengan cinta adalah jika cinta tersebut ditindaklanjuti dengan perbuatan-perbuatan yang melanggar syara.  Misalnya Khalwat, lalai dalam sholat, dan lain-lain.

Ah, Rasanya mudah saja menghadapi penyakit cinta yang menjangkit pada siswa, mencoba memberikan perhatian dan pengertian, setelah itu menanamkan pemahaman tentang cinta sesuai syari’at islam, dalam artian berani cinta ya harus berani nikah.
Tapi lain halnya berkaitan dengan anak sendiri.  Kemarin adikku bilang dia menemukan surat cinta yang ditujukan pada keponakannya alias putriku.
Barangkali itulah mengapa para kiyai yang punya pesantren menitipkan putranya pada Kyai di pesantren lain, karena menghadapi anak sendiri, tidak semudah menghadapi para santri.  Tapi ini Cuma barangkali lho ya….

21 komentar:

  1. ^_^ hehehehe....
    yup, kadang dakwah pada keluarga sendiri justru lebioh syuliitz.

    syukron katsir, Teh
    Jazaakillah khoyr.

    BalasHapus
  2. waah mbak Hani sudah besar ya mbak...hayo siap-siap mantu:))
    terima kasih sharingnya mbak, jadi sedikit ada pencerahan untuk bekal nanti....

    BalasHapus
  3. emang umurnya brp teh kok udah pinter nulis surat cinta?

    BalasHapus
  4. Poin penting yang kadang sering terlupakan...Makasih ya, mb...

    BalasHapus
  5. barangkali yg kasih surat cinta itu punya " RASA " sm putrinya teteh....hehehe...^_^

    BalasHapus
  6. sejatinya cinta adalah cinta yang diselimuti cinta pada sang pemilik cinta ya kan teh ^_^

    BalasHapus
  7. Karena terlhat sulit maka perlu semangat yang kuat ya... ^_^

    BalasHapus
  8. Waaah, ya masih lama lah Dwi... :)

    BalasHapus
  9. surat cinta yang ketemu dari anak lelakinya Kang, Usianya kira-kira 12- 13 tahun,
    cinta monyet kali ya???

    BalasHapus
  10. Koq Vina tahu sih???
    *pengalaman ya?*

    BalasHapus
  11. Betul sekali Akmal,... ^_^

    BalasHapus
  12. hiihihihi....

    mmmm....

    Pengalaman duuuluuuu...teh....:D upsss....*jadi maluuww.....^_^
    kalo' skrg sih,....uda gak zaman lagi surat2an kaliy yahh,...

    *BERANI CINTA BERANI NIKAH.....*gituu kann Teh...ingett2 kata Teteh....;)

    BalasHapus
  13. Terus, Vina sekarang dah berani belum???
    Hayooooo *wink*

    BalasHapus
  14. Silahkan,... dengan senang hati

    BalasHapus
  15. sssssttt......

    ngomongin ' Berani ' nya jgn dsni donk Teh....^_^

    *InsyaALLOH.....Berani,....! Mencintai yg Cinta padaNYA....^_^

    BalasHapus
  16. Betul Vin, lelaki dengan cinta sejati adalah lelaki yang selalu mencintaiNYA

    BalasHapus
  17. Ada titipan pertanyaan:
    - kalau suami mencintai wanita lain yang bukan muhrim selain pasangan nikahnya dosa tidak?
    - kalau isteri mencintai pria lain yang bukan muhrim selain pasangan nikahnya dosa tidak?

    BalasHapus
  18. kalo menurut pendapat pribadi saya, yang jelas pedomannya adalah "wa laa taqrobu zinaa"... selanjutnya biasanya banyak terjemahan & interpretasi yang berbeda-beda,...

    atau

    Rekan-rekan MPers yang lain PUNYA JAWABAN GA?.....

    BalasHapus
  19. Naay banyaaak ngalamin gtuaan bu..
    meskipunn sbenarnya sudaah pahaaam tapi..
    mungkinn Bu Rani bisa ngasih jawabannya..
    tapi Bu Rani ,, makasihh bangeeed tas infony..
    bisa jadi inspirasi Naay k depaan nihh..
    makasihh Bu..

    BalasHapus