Rabu, 16 Juli 2008

Anak bukanlah orang dewasa dalam ukuran kecil

“Kita memang miskin, tapi bukan berarti kita tidak punya harga diri, jangan pernah biarkan orang lain menghina kita”  Kurang lebih begitulah kalimat yang di”dogmakan” orang tua Nanda (bukan nama sebenarnya) kepada Nanda putri sulungnya.

Sayangnya, orang tua Nanda lupa bahwa anak bukanlah orang dewasa dalam ukuran kecil.  Mereka juga lupa bahwa penderitaan orang tua tidak sepatutnya dibebankan pada anak.  Mereka barangkali juga lupa bahwa pendidikan yang utama adalah cinta, dan cinta tidak identik dengan harga diri.

Satu hal yang mungkin tidak dimengerti orang tua Nanda adalah bahwa fase berfikir anak-adalah adalah fase berfikir kongkrit.  Anak-anak tidak tahu konsep harga diri itu seperti apa.  Tapi Nanda terlanjur menerima dogma seperti itu.  Dogma yang kemudian dimengerti Nanda bahwa ia harus mempunyai harga diri yang tinggi.  Orang lain, teman-temannya dan siapapun harus tunduk pada dia, barangkali itu yang kemudian disimpulkan Nanda.  Akhirnya, setiap hari Nanda pun berulah. 

Sebenarnya Nanda adalah anak yang cerdas, terbukti dengan imajinasi yang tinggi serta kemampuan berbahasa yang luar biasa.  Salah satu contoh dari dua kecerdasan itu adalah bagaimana ketika dia berhasil membuat teman-temannya percaya bahwa kekayaan milik keluarga Putri adalah hasil curian ayah Putri yang dicuri dari ayah Nanda.

 

Orang tua mana yang tidak ingin menunjukkan cinta yang mendalam pada anaknya?  Termasuk juga orangtua Nanda, tentu mereka ingin menunjukkan cinta yang mendalam pada Nanda.  Tapi sayangnya bentuk cintanya itu malah membuat Nanda semakin dijauhi teman-temannya.  Kenapa?  Karena orang tua Nanda sering menerima pengaduan Nanda yang mungkin tidak semuanya benar.  Dan Karena sakit hati anaknya tidak perlakukan dengan baik, sering orang tua Nanda melabrak orang tua dari teman yang diadukan Nanda.

 

( ceritanya sih  masih panjang….)

 

***

 

Anak, memang merupakan Anugrah sekaligus ujian bagi orang tua.  Ketika anak tertawa, orang tua akan bahagia.  Ketika anak terluka,menderita,apalagi mendapat perlakuan yang semena-mena tentu orang tua akan terluka.  Sebenarnya, sebijak apakah pendidikan yang harus kita berikan?  Haruskah orangtua ikut campur dalam permasalahan anak?

Bercermin pada pengalaman masa kecil, rasanya aku bersyukur sekali ketika ibuku hanya menyuruhku bersabar ketika aku mengadukan permasalahan tentang rasa sakit hati yang kurasakan karena ulah seorang teman.  Tak pernah ibu dan  menyuruhku membalas apalagi membantu membantu membalaskan rasa sakit hatiku.  Sabar.  itu yang selalu mereka tanamkan.

Satu hal yang kulihat begitu mulia dari kedua almarhum orangtuaku adalah.  Ibuku tidak pernah membeda-bedakan mana anaknya sendiri dan mana anak orang lain.  Itulah yang mungkin membuat teman-temanku, teman-teman kakaku, juga teman-teman adik-adiku, betah berlama-lama main dirumahku.  Tak pernah sekalipun aku mendengarkan ibuku menceritakan,mengomentari apalagi merasa sebel dengan kelakuan seorang anak yang dimata orang lain mungkin menjengkelkan.  Mungkin karena saat itu ibuku sudah bisa mengerti betul bahwa anak-anak bukanlah orang dewasa dalam ukuran kecil.  Sehingga wajar-wajar saja jika seorang anak terkadang super kreatif alias nakal, atau super imajinatif sehingga selalu berbuat iseng, dan lain-lain.

 

Sekali lagi, anak bukanlah orang dewasa dalam ukuran kecil, sehingga tak sewajarnya kita memperlihatkan apalagi membebankan kesedihan kita,permasalah kita, kekecewaan kita,rasa tidak suka kita, pada anak-anak.  Anak-anak Allah ciptakan dengan cinta & karena cinta.  Karenanya, hanya cintalah yang berhak mereka terima.  Semoga saja, cinta yang kita berikan, memang cinta yang selayaknya mereka terima.  Bukan cinta yang kita rekayasa.

11 komentar:

  1. setuju!!!
    kadang sering bingung ngeliat orangtua marahin anaknya..
    dengan mengatakan,"kamu ngerti dong, papa/mama susah2 nyari uang buat kamu!!"
    makin ngerti atau makin bingung itu anak..?

    BalasHapus
  2. ^_^ kejadian di saya tuh mbak ... dan saya tidak habis pikir ... insyaAllah semua akan baik2 saja ... selama saya bisa berpikir positif dan dengan kepala dingin ^_^

    BalasHapus
  3. teh, tp saya punya persepsi yang dipengaruhi pengalama saya bersama anak2 selama di Jerman, nih. Pernah suatu kali saat makan siang berdua dng anak laki2 Gastfamilie saya, dia kasih saya penjelasan ttg cita2nya dan apa yg akan dia lakukan dng hidupnya ... di masa depan. padahal, teh ... dia baru 10 tahun! saya jadi termenung dibuatnya ... dan kalimatnya yg saya ingat sampai sekarang adalah "Aku mau seperti Papa, kalau bisa lebih ... supaya aku tenang di hari tua" .... hmmm...Gastpapa saya seorang pengacara ternama di HH ;p ...

    *sering dia bertanya ttg hal2 yg kebanyakan anak2 tidak akan berpikir sampai ke sana ... kemudian saya coba memahaminya dan saya ambil kesimpulan, pemikirannya dipengaruhi orang tuanya ^_^*

    BalasHapus
  4. Kalo yang ini pengaruh yang bener-bener positif & harus ditiru...

    BalasHapus
  5. Kayaknya makin bingun....

    BalasHapus
  6. benerr mbak....

    *sangatt setujuu dgn teteh....^_^

    Anak selayaknya dikasihi dan dilindungi ya kan teh..:)

    BalasHapus
  7. Subhanallah, jzk ya mb... Bisa buat pembelajaran untuk yang belum punya anak^_^

    BalasHapus
  8. Betul Vin, & satu hal yang harus diingat adalah bahawa setua apapun seorang manusia adalah anak, anak dari kedua orangtuanya :D

    BalasHapus