Rabu, 31 Desember 2008

Panggung sandiwara(?)

Mengamati tingkah kehidupan manusia, tak jarang membuat kita geleng kepala.  Kenapa?  Mungkin karena pola fikir yang berbeda.  Dari pola fikir ini merambah menjadi target kehidupan yang berbeda pula. 
Sesuatu yang nyata berbeda dari sesama insan yang sebenarnya punya potensi yang sama.
Ah, namanya juga mahluk sosial, justru barangkali karena adanya perbedaan itulah akhirnya bisa terjalin komunikasi.  Dan lewat jejaring sosial inilah kemudian Allah memilih siapa yang terbaik amalanya diantara kita.

Mengamati tingkah kehidupan manusia, tak jarang membuat kita mengurut dada.  Apalagi jika ego seseorang kemudian bersinggungan dengan kepentingan kita.  Pun sebaliknya.  Rasa sebal, kesal dan marah itulah yang akhirnya ada.  Tapi sabar sebenarnya bisa jadi pilihan juga.  Pilihan yang kita tahu bahwa itulah yang terbaik meski begitu susah terasa.

Mengamati tingkah kehidupan manusia, sah-sah saja.  Tapi kita tak pernah berhak untuk menghakimi.  Karena yang mengetahui segala isi hati dan segala yang tersembunyi hanyalah ilahi Robbi.  Biarlah setiap pribadi bertanggungjawab pada DIA sang pencipta sejati.
DIA memang telah mengamanahkan kita untuk beramar makruf, meyeru kepada kebenaran, mencegah dari berbuat mungkar, juga saling menasehati.  Hanya saja semua tidak semudah yang kita ingini.

Mengamati tingkah kehidupan manusia,samakah dengan mengamati panggung sandiwara?

Pertandakah?

Waktu itu, baru sekitar satu-dua bulan kami sampai di Negri Diesel ini.  Bulan-bulan pertama, ketika kami sibuk mencari berbagai isi rumah plus perlengkapanya.  Ketika suamiku pergi untuk berbelanja, mencari berbagai perlengkapan, pernah dia salah beli, dikiranya bantal (karena bantai disini tipis dan rata-rata berukuran 80X80cm²), ternyata yang dikira bantal itu adalah selimut bayi dan sarung selimutnya plus sarung untuk bantal bayi.
Hm, inikah pertanda pertama?
Kemudian, Tetangga di lantai atas yang memang dia sering memberi sesuatu yang masih bisa kita gunakan, pernah memberi sepasang kaus kaki rajutan baru, katanya sih hasil rajutan temennya.  Pernah juga dia memberikami guling untuk bayi.
Inikah pertanda kedua?
Dan ketka tamu dari Gotingen(salah ga nulisnya ya?) yang menginap dirumah kami pulang, selain mereka meninggalkan oleh-oleh.  Ternyata ada barang mereka juga yang ketinggalan.  Dan barang itu adalah bedak bayi.
Inikah pertanda ketiga?

Itulah tiga rangkaian kejadian yang terjadi ketika pertanda kehamilanku sama sekali belum datang.  Ketika aku tidak berfikir untuk memberi adik pada ketiga buah hatiku saat itu.  Ketika aku masih merasa sangat kerepotan membagi waktu, mencurahkan kasih sayang dan memberikan yang terbaik untuk tiga buah hatiku.
Tapi Allah berkehendak lain.  Amanah itu datang lagi.  Jika tidak ada sesuatu yang merintang, kelak di pertengahan maret, amanah itu akan hadir untuk dicintai.  Kini, saat waktu kehadirannya kian mendekat, saat sibuk menyiapkan berbagai hal untuk bekal kehadirannya, aku jadi teringat tiga rangkaian kejadian diatas dan bertanya pada diri sendiri ; itukah sebenarnya pertanda akan datang amanah ini?
Pertanda yang barangkali saat terjadinya sama sekali tak disadari, tak dimengerti.  Kini seolah semua peristiwa terasa sangat istimewa.

Pertanda-pertandadan pertanda hanya bisa kita reka-reka belaka.  Kenapa?  karena hidup kita dibatasi oleh ruang dan waktu.  Karena kita tidak pernah tahu pasti apa yang akan terjadi esok lusa dan hari selanjutnya.  Pertanda, hanya semata mencoba menduga, mencoba merangkai kisah yang terpatah agar terlihat seperti sebuah rangkaian kisa yang indah.
Pertanda, barangkali sah-sah saja kita duga, selama kita tidak menduakan DIA.  Selam kita tidak mencoba menembus batas ruang dan waktu lewat sebuah kata ajaib "Ramalan".
Pertanda, jika dia hanya mencoba menjebak kita pada duka, pada prasanka belaka, barangkali sebaiknya dikembalikan saja pada DIA yang maha KUASA

Maafkan aku,

Maafkan aku saudaraku,
ketika mataku hanya bisa menangisi kepergianmu,
ketika hati hanya bisa mengutuki mereka yang berbuat teramat sangat zalim padamu,
ketika kaki tak mampu melangkah ketempatmu,
ketika tanganku tak mampu berbuat sesuatu untuk menolongmu,
Ketika hanya doá terbata yang mampu ku kirimkan untukmu,
maafkan aku,

Ampuni aku ya Allah,
yang dengan beribu dalih belum bisa memenuhi seruanMU,
untuk menolong mereka;saudaraku,
Ampuni daku ya Allah,
yang KAU tahu begitu menginginkan surgaMU,
Tapi tak mampu berjual beli denganMU,
dengan menolong mereka yang teraniaya,
Ampuni daku Ya Allah,


Sabtu, 27 Desember 2008

Revenge


Revenge alias balas dendam, sebuah kata yang terasa menakutkan.  Meski menakutkan, kata itu seolah melekat pada mahluq yang bernama manusia.  Mungkin itu sudah merupakan satu kesatuan dalam kehidupan.  Kenapa menjadi kesatuan?  karena dalam diri manusia ada fitrah untuk mempertahankan diri, fitrah untuk melawan kedzaliman fitrah untuk langsung bereaksi "secara reptil" ketika manusia hanya berfikir dengan menggunakan otak reptil.  Tapi bukankah Allah memberi manusia lebih dari sekedar otak reptil? Yup dalam otak kita masih banyak bagian otak yang lain yang semuanya bisa difungsikan untuk mengendalikan kehidupan.  Tidak hanya sekedar otak, tapi dalam Al Qur-an Allah berulang-ulang menegaskan bahwa DIA telah memberi "pendengaran, penglihatan&hati"  kemudian Allah bertanya pada kita "Afalaa ta´qiluun? afalaa tatadzakkaruun?"
Orang yang selalu mengunakan seluruh perangkat otak,dibarengi dengan pendengaran,penglihatan dan hati untuk memikirkan sesuatu, tentu tidak akan terjebak dalam sebuah misteri "revenge".  Sudah menjadi fitrah jika sakit hati jika dilukai,dikhianati,dilecehkan,direndahkan dan lain-lain.  Dan menjadi fitrah juga jika saat itu langsung terfikir untuk melakukan sebuah pembalasan agar orang yang menyakiti kan jera karena iapun bisa merasa.  Tapi bukankah Allah yang Maha Melihat telah berpesan bahwa sabar lebih utama, bahwa setiap perbuatan akan ada balasan.  Jadi biarkan saja hukum sunatullah yang akan membuat "revenge" itu datang pada orang yang berbuat aniaya.  Tanpa melakukan revenge pun secara otomatis semua perbuatan akan berbalas.  Perbuatan baik, akan bebalas baik dan berlipat pula.  Perbuatan buruk? juga akan orang yang berbuatnya akan merasakan hal yang sama, minimal efek negatif dari perbuatan yang telah ia lakukan. 
Revenge,barangkali seharusnya tak pernah ada selain dalam cerita.  Seperti cerita di drama east of eden yang aku suka,pokoknya sukaaaaaa banget.  Mo nonton?  Stay tune tiap selasa & rabu pagi (waktu gilching) di viikii.net.  Dijamin!
Revenge, itulah tema utama dari drama korea yang tengah menjadi favoritku saat
ini.  Tiap hari selasa dan rabu, kutunggu dan kutunggu kelanjutan cerita yang memikat hati itu. 

Dongeng sebelum tidur

Dongeng?  Pasti semua orang suka dengan dongeng.  Dongen membawa kita ke negri khayali yang indah tempat kita temukan semua yang kita sukai.  Ketika anak-anak masih di Insantama, kami tidak pernah mengantar tidur anak-anak dengan dongeng.  Sebab kupikir, selain mereka telah lelah karena program sekolah yang Fullday, mereka sudah mendapatkan asupan "dongeng" alias cerita yang memadai.  Cerita tentang para Baginda Nabi saw & para sahabat (karena Insantama memulai hari dengan BSI alias Bina Syakshiyah Islamiyah dengan metode memberikan cerita yang bisa diteladani) plus berbagai macam cerita yang dirangkaikan dengan pembelajaran.  Jadi, tanpa dongeng sebelum tidur, mereka sudah menemukan berbagai cerita yang akan menjadi mutiara dalam hidup mereka.
Tapi, karena sekarang mereka sekolah di Grundschule yang notabene kristen, maka, aku berfikir perlu kerja ekstra untuk menetralisir hal-hal yang tidak diinginkan yang diajarkan disekolah mereka baik dari guru maupun dari lingkungan teman-teman mereka.  So, mulailah anak-anak mendapat hadiah "dongeng" sebelum tidur dengan tujuan memperkuat aqidah mereka.  Dan yang bertugas membawakan dongeng adalah abinya anak-anak, bukan aku .  Kalau abi lagi ga bisa cerita karena satu dan lain hal, biasanya Teh Hani akan membacakan sebuah buku untuk diceritakan.  Atau kadang-kadang Hasbi yang memabacakan cerita.  Tapi biasanya Alfi akan protes "Ga mau, ntar kalau ade ada yang ga ngerti, ga ada yang bisa jawab"  Walau akhirnya dia harus terima juga daripada tidak ada yang mendongeng.
Sebelum dongeng dibacakan, anak-anak biasanya diminta untuk membaca QS Alfatihah&hafalan surat-surat pendek.  Dongennya tidak melulu tentang kisah Baginda Nabi & Para sahabat, kadang tentang ilmu pengetahuan juga misalnya tentang bulan, listrik & lain-lain.  Lumayan ngefek sih kalo dongengnya tentang ilmu pengetahuan.  Seperti tadi malem, ketika anak-anak dihantarkan dengan dongeng tentang listrik statis, mereka baru bisa tidur jam 11.30 malam.  Bukan apa-apa, mereka penasaran & langsung praktek tentang listrik statis
.  Rasa takjub,&ajaib serta suprais kali yang membuat rasa kantuk mereka jadi terlambat datang.

Pernah beberapa malem Abi ga cerita.  Ujung-ujungnya hasbi berkata " Abi, abi harus cerita lho, sebab Aa kan disekolah diajari tentang agama kristen, nanti kalau Aa pindah agama gimana (na'udzubillahi min dzalika)"  Abi cukup kaget juga mendengar "tuntutan" Hasbi tersebut, tapi saat itu juga akhirnya Abi menerangkan Jalan Allah & Jalan thagut.  Hm, anak sekarang "pinter" juga ya menuntut hak mereka....
Tapi karena itu hak mereka yang berarti adalah kewajiban kita, ya mau tidak mau harus dijalanin.  Semoga Allah selalu memberi kemudahan agar kita bisa menjalankan semua kewajiban kita. Amin


(Semoga Allah menujukkan kita kejalan yang lurus, jalan yang diridhoiNYA.
Semoga Allah melindungi kita dari kesesatan & kekufuran, dari segala bencana dan dari sesuatu yang tidak DIA ridhio.  Amin)

Bola & Bir

Sejak liga Eropa Usai, anak-anak jadi hoby main bola.  Hasbi yang asalnya bingung melihat satu bola diperebutkan banyak orang, sekarang mulai ketagihan bola.  Ga udara panas, ga dingin, tetep aja main & main bola.  Mungkin dia mulai menemukan "sesuatu" dalam permainan bola.  Tapi suatu ketika aku mendengar ia berpesan pada adiknya :
"Ade, jangan mau jadi artis pemain bola lho"
Alfi "Emang kenapa A?"
Hasbi "Nanti ade bisa melakukan dosa, sebab para pemain bola itu kalo menang terus pada minum-minum bir"
Abi ikutan nimbrung "Bilangin aja A, aku muslim, aku ga minum alkohol, pestanya pake air putih aja"
Hasbi diam.


Jumat, 26 Desember 2008

bukan untuk dibandingkan

Anak kecil, dengan segala kelucuan, keluguan, kepolosan dan wajahnya yang bersih bersinar mencerminkan hati yang belum ternoda dosa, selalu saja menarik perhatian, mengundang kasih sayang.  Seperti suatu pagi waktu itu.  Ketika pagi masih belum bertemankan mentari, serombongan anak kindergarten memasuki Sbahn dikawal oleh beberapa oranng dewasa.  Sepertinya 2 orang guru dan 2 orang tua yang bertugas menemani mereka.  Perawakan Kaukasian yang sempurna memang selalu menarik mata.  Ditambah balutan pakaian yang rapi bersih, hanya menambah keindahan pesona anak-anak itu.  Aku dan suami banyak berbicara tentang mereka, tentang anak-anak kindergarten itu.  Kesimpulan dari pembicaraan itu berujung pada :  Pantas saja Jerman bisa maju karena pemerintahnya mempersipakan SDM Handal sejak awal.  Dari mulai pendidikan gratis dengan segala fasilitas yang memadai,  Guru yang kompeten yang terjamin kesejahteraannya, kurikulum yang mengacu pada teori-teori bagaimana mengembangkan segala kemampuan pada anak-anak.  Makan bergizi yang murah karena disubsidi dan lain-lain.  Intinya ya karena pemerintahnya terlihat bertanggungjawab untuk mempersiapkan generasi berikutnya menjadi generasi yang unggul lewat jaminan pangan dan pendidikan, belum lagi berbagai tunjangan lain yang telah disediakan.

Indonesia?  Yah memang bukan lawannya untuk disandingkan apalagi ditandingkan.  Hanya saja, sebenarnya Indonesia juga bisa melakukan hal yang sama andai saja kepedulian dan keberpihakan pada rakyat itu benar-benar ada.  Syukur Alhamdulillah, barangkali niatan kearah sana suda ada, misalnya dengan membuat para guru menjadi sejahtera.  Tapi apakah cukup hanya itu saja?  Tentu tidak!!

semua adalah pilihan

Setiap langkah adalah pilihan.  Pilihan yang semuanya berimbang antara bias suka dan konsekwensi duka.  Semua serba seimbang dan berimbang.  Sayangnya, kita yang benar-benar terbatasi oleh ruang dan waktu, tak tahu apa yang ada diantara bias dan konsekwensi yang kelak kan terasa.  Barangkali dengan logika semua bisa terbaca.  Hanya saja logika yang adapun terbatas jua.  Berazam, dan bertawakkal itusaja yang barangkali kita bisa.
Semoga saja stiap pilihan yang kita tetapkan, kan menjadi rangkaian dan titian menuju kebahagiaan surga abadi. amiiin

sherina - indonesia menangis




Sabtu, 13 Desember 2008

Bikin Schneemann




Kemarin pagi, Bude Yulis dateng kerumah, nganterin hadiah perlengkapan winter untuk anak-anak. Kebetulan salju lagi turun deras pula. Langsung deh perlengkapan winternya dipake & anak-anak mulai beraksi plus berkreasi.

Kamis, 11 Desember 2008

Angka 5 dimana-mana,

Sewaktu maih di kindergarten, Alfi masih kebalik-balik kalau menulis angka 5.  Angka 5 selalu menghadap ke kiri.  Alhamdulillah, kini Alfi sudah bisa menulis angka 5 tanpa kebalik lagi.  Dan mungkin ia mencoba meluapkan kegembirannya dengan menulis angka 5 dimana, mana.  Di kartunya teh Hani, di bawah layar monitor komputer, atau di kertas-kertas yang ia temui .
Yaaah, namanya juga anak-anak.

cinta sejati

Cinta sejati itu Dik, dia tidak berbataskan segenap kriteria yang kau gariskan.  Karena kelak garis-garis yang kau batasi hanya akan menjadi sebuah kepamrihan. 
Cinta sejati itu dik, dia datang tanpa diundang, datang dalam kepasrahan, juga datang tanpa tuntutan.
Jika sebuah lukisan wajah telah kau sketsakan,apatah lagi sebuah nama telah engkau sematkan, kemudian semua sarana menuju masa depan telah kau syaratkan, maka itu adalah cinta kriteria.
Ya, kau memang berhak mencari bahagia seperti apa yang ada dalam lukisan masa disetiap jiwa,
kau memang berhak mendapatkan apa yang terbaik dari yang kau inginkan,
Tapi Dik, karena kita manusia hidup dalam batasan ruang & waktu,  Karena rahasia hati, kelebihan dan kekurangan diri tertutupi jasad yang tak tampak kasat dimata,
Maka, hanya DIA saja yang tahu apa yang kan membuat kita bahagia,
Karenanya Dik, terimalah sesorang yang kan DIA pilihkan,
jika dia yang datang membawa segenggam harapan, karena cintanya pada Yang maha Penyayang,
Ketahulilah dik, bahwa dengan bekal cinta pada Sang Pecipta cinta, maka kau akan mendapatkan semua cinta, seluruh cita dan segenap bahagia.....

.....biarkan saja......

Biarkan saja gemuruh angin bernyanyi diharimu,
atau keringnya dedaunan yang jatuh
gemerisik dilangkahmu
juga
usah hiraukan gemericik rintik hujan
mencuri setitik perhatianmu,
teruslah melangkah
menuju DIA yang telah kau azamkan untuk menjadi segala tujuan.

Jangan pernah kau biarkan segala keindahan mepesonakanmu,
jangan pernah kau biarkan segenap luka surutkan langkahmu,
dan jangan pernah kau jadikan dirimu sendiri sebagai tujuanmu.

waspadalah pada jebakan riang,
berhati-hatilah pada setiap kepedihan,
dan tetaplah berazam,
bahwa DIA adalah segala yang kau dambakan.




Elternsprechabend

Setelah dapet undangan berkali-kali untuk datang ke acara Elternsprechabend, baru tadi malem, Abi bisa dateng ke sekolah.  Bukan apa-apa, karena sibuknya ngurusin riset & disertasi, Abi tuh suka lupa melulu bawaanya.  Jadi walaupun sudah mengisi surat kesediaan untuk datang, suka baru nyadar besoknya atau beberapa hari sesudahnya .  Aku sendiri belum bisa datang mewakili Abi sebab Deutschku baru mulai kursus lagi... masih sangat sedikit kosa kata yang kumiliki, jadi belum pede deh, & belum masuk kualifikasi.
Elternsprechabend adalah pertemuan antara orangtua & guru untuk membahas perkembangan anak selama disekolah.  Setiap orangtua diberi waktu sekitar 15 menit untuk mendengarkan penjelasan dari guru plus diskusi jika ada permasalahan.  Penjelasan yang disampaikan adalah berupa prestasi anak, kelebihankelebihan anak plus kekerangan yang harus segera diperbak.  Alhamdulillah wa syukurillah 90% kabar gembira.  Dan kabar gembira itu kami sampaikan juga ke anak-anak supaya mereka bisa tambah percaya diri.  Supaya mereka bisa mendapatkan tambahan citra opsitif tentang diri mereka sendiri.  Sinar kegembiraan terpancar dari wajah mereka ditambah lonjakan ekspresi lewat gerak dan sedikit "teriak".  Tapi segera kami ingatkan bahwa semua adalah berkat pertolongan Allah, tidak boleh sedikitpun terbersit dihati mereka rasa sombong ujub, takabur & ria. 

Elternsprechabend disini memang selalu dilaksanakan pada "jam malam".  Acara biasanya berlangsung sekitar jam 8-an.  Lain lagi dengan Insantama.  Pertemuan antara orangtua dan guru rutin dilaksanakan setiap sebulan sekali.  Waktu yang dipilih adalah hari sabtu usai anakanak mengikuti program ekspresi.  Waktunya juga diatur sedemikian rupa supaya orang tua yang mempunyai lebih dari satu anak di insantama bisa mengikuti setiap pertemuan, jadi diusahakan sedemikian rupa supaya tidak ada yang bentrok.
Sama, seperti diacara Elternsprechabend, pada peretemuan ini dfbahas mengenai kelebihan & kekurangan siswa, prestasi, serta rencana pembelajaran sebulan kedepan.  Kadang ada orangtua yang menyampaikan keluhan yang mereka terima dari anaknya, misalnya ada anak yang merasa terdzalimi.  Biasanya kita menangani hal tersebut secara umum dalam arti, permasalahan akan dibahas dikelas, dibahas dalam sebuah cerita, dan anak diberi kesempatan untuk sumbang saran.  Semua itu dilakukan agar pesan-pesan moral sampai kepada semua siswa.  Tapi hal itu sangat jarang dan jarang sekali terjadi, karena sebagai sekolah Islam terpadu, Insantama selalu berusaha memadukan setiap pelajaran dengan pesan-pesan ruhiyah dalam kehidupan.

Jumat, 05 Desember 2008

Tunggu aku (puisi)

Kutitipkan rindu ini pada angin,
agar kala ia ia menyapamu,
kau tahu bahwa masih ada aku,
disebuah sudut hati
yang mungkin tak sering kau jumpai
dalam do'a
dalam sapa

aku kan tetap setia menanti,
meski nama diri
barangkali telah tergantikan bersama kembara masa

betapa jarak kini terasa begitu jadi kendala
tapi aku tak akan putus asa,
akan kuterjang rintang,
kupupus rindu
hingga kala kelak kan menghapus semua.

Tunggulah aku
kelak aku kan bersamamu,
mewarnaimu kembali,
mencandaimu,
dan bersamu melukis hari,
merajut mimpi,
menggapai ridho Ilahi,
agar keindahan surgawi bisa kita dapati.

Selasa, 02 Desember 2008

Pindah belajar?

Beberapa hari yang lalu di S Bahn telihat segerombolan anak masuk dengan membawa koper dan tas yang besar-besar.  Rupanya mereka anak kelas 5 gymnasium yang mau nginep di daerah pedesaan.  Menurut seorang teman, disini memang ada program menginap selama seminggu untuk anak kelas 5 gymnasium.  Katanya sih walau nginep, proses belajar mengajar berjalan seperti biasanya.  Dan mereka yang tidak ikut nginep tetep wajib harus kudu belajar di sekolah, tapi nebeng dengan kelas 5 yang lain.

Lain Halnya dengan Insantama, dalam program mabit alias nginep, sama sekali tidak ada proses belajat mengajar, sebab biasanya waktu yang dipilih memang sengaja diluarwaktu KBM.  Nginep di Insantama programnya macem-macem, tergantung angkatannya.  Kelas satu programnya berkaitan dengan upaya melatih kemandirian anak, kelas 2 mengawatiawan dan langit pada sore dan malamhari.  Kelas tiga mengamati banyak hal di berbagai Fakultas di IPB, kelas 4 tinggal di perkampungan dan berbaur bersama penduduk desa sambil bertani dan mengadakan acara khusus dengan siswa SD di daerah tersebut.  Kelas 5 Kemping dan praktek langsung teori2 kepanduan.  Kelas 6 karantina dan AMT untuk persiapan ujian.

Berhasil tidaknya program tersebut, barangkali tergantung pada masing-masing anak.  Tapi waktu hasbi nginep dulu sih kayaknya betul2 berhasil jadi mandiri.  Ceritanya dulu Alfi ikutan nginep walau masih TK.  Dia ikut karena kebetulan bertemu Pak Fajar & Pak Fajar mengajaknya.  Tapiuntukusia TK memang belum waktunya kali ya, sebabkataHasbi, malemnya Hasbiharus bertugas jadi orang tua pengganti.  Malemnya Alfi bangunin kakaknya untuk minta minum dan minta dianter pipis.  Mungkin dia malu kalau mau bangunin Pak Fajar.

Cerdas Finansial

Dalam rangka memperbaiki kesalahan yang ada pada diriku sebagai seorang ibu yang belum bisa mengelola uang dengan bijak, maka aku bermaksud melatih anak-anakku untuk memanage uang sedari kecil.  Aku tak ingin mereka berpendapat seperti aku misalnya : salah satu tugas istri adalah ngabisin uang suami (& gara-gara pendapat ini sering aku tularkan ke temen2 yang baru nikah, aku banyak diprotes para suami2 ).  Atau beberapa pendapat yang teranjur saah yang kini sedang kucoba perbaiki.
Maka... tiap bulan sekarang anak-anak mulai dapet uang bulanan.  Dan ketika mereka dapet jatah uang bulanan, mereka akan mendapatkan wejangan alias teori bagaimana cara bijak mengelola uang. Contoh pesan bijak itu adalah "Gunakan uang untuk membeli sesuatu yang betul-betul kita perlukan"  Dan sesudah berfikir agak lama, Alfi yang baru kelas satu bilang "Mi, Aku butuh Pokemon kartu".... (Gubraghks aku jadi mikir, apa sudah waktunya menerangkan tentang kebutuhan primer,sekunder dan tertier ke anak sebesar Alfi?).
Kemudian aku meminta anak-anak untuk menyimpan uang di celengan yang ada kuncinya.  Tapi Hasbi Protes "Umi Aa mau celengan yang ga bisa dibuka"  Aku bilang : "Pake celengan yang bisa dibuka aja, supaya kalian bisa latihan mengendalikan diri, melihat uang itu tidak harus selalu dibelanjakan" (yang ini solanya sudah jadi penyakit ibunya )
Hasbi protes lagi : "Umi, kalo latihan itu jangan langsung yang susah, latihan itu yang mudah dulu kalo celengannya ga bisa dibuka, Aa kan bisa menahan diri"
Wah kalo dijawab, pasti ga akan ada ujungnya, so aku diam saja.  Hasbi memang selalu punya alasan.  Padahal untuk urusan uang dia sudah pintar nabung meski kadang pingin beli ini itu, dia bisa mengerti kalau diberi penjelasan. 
Mungkin, kecerdasan finansial pada anak berbanding lurus dengan usia juga kali ya, sebab Teh Hani sebagai anak pertama adalah yang paling banyak tabungannya.

Senin, 01 Desember 2008

(puisi) sepenggal pelayaran

Titian hari kadang tak seindah mimpi
sehingga angan kadang harus tersimpan,
tapi jala pinta akan tetap ku anyam,
dan tetap kan kulepas di samudra do'a
Meski angin dingin menyergap nurani kala kulepas jangkar dari bibir pantai.

kuyakin jejaringku kelak kan berisi
walau dalam resah dan lelah harus kumenanti,

Biarlah aku berlayar tanpa nyanyian camar
dan hanya bertemankan nyanyian ombak ketika ia berlarian
angin kan kujadikan teman,
dan langit kan kujadikan panduan,
hingga tiba saatnya nanti kepastian yang dijanjikan.

aku kan tegar menanti.


(puisi) bait ku kali ini

Barangkali kusimpan saja nada itu
di irama hati sanubari
karena ketika ku coba dentingkan dalam alun melodi
getar nada itu seperti gaung meraung.

aku mencoba memilah irama,
tapi nyanyian rasa tak jua sempurna,
ketika dawai malah memecah angan,
ketika seruling mendendang lagu yang tak ku ingin,

kini, biarlah kubernyanyi
hanya dalam hati.