Jumat, 26 Desember 2008

bukan untuk dibandingkan

Anak kecil, dengan segala kelucuan, keluguan, kepolosan dan wajahnya yang bersih bersinar mencerminkan hati yang belum ternoda dosa, selalu saja menarik perhatian, mengundang kasih sayang.  Seperti suatu pagi waktu itu.  Ketika pagi masih belum bertemankan mentari, serombongan anak kindergarten memasuki Sbahn dikawal oleh beberapa oranng dewasa.  Sepertinya 2 orang guru dan 2 orang tua yang bertugas menemani mereka.  Perawakan Kaukasian yang sempurna memang selalu menarik mata.  Ditambah balutan pakaian yang rapi bersih, hanya menambah keindahan pesona anak-anak itu.  Aku dan suami banyak berbicara tentang mereka, tentang anak-anak kindergarten itu.  Kesimpulan dari pembicaraan itu berujung pada :  Pantas saja Jerman bisa maju karena pemerintahnya mempersipakan SDM Handal sejak awal.  Dari mulai pendidikan gratis dengan segala fasilitas yang memadai,  Guru yang kompeten yang terjamin kesejahteraannya, kurikulum yang mengacu pada teori-teori bagaimana mengembangkan segala kemampuan pada anak-anak.  Makan bergizi yang murah karena disubsidi dan lain-lain.  Intinya ya karena pemerintahnya terlihat bertanggungjawab untuk mempersiapkan generasi berikutnya menjadi generasi yang unggul lewat jaminan pangan dan pendidikan, belum lagi berbagai tunjangan lain yang telah disediakan.

Indonesia?  Yah memang bukan lawannya untuk disandingkan apalagi ditandingkan.  Hanya saja, sebenarnya Indonesia juga bisa melakukan hal yang sama andai saja kepedulian dan keberpihakan pada rakyat itu benar-benar ada.  Syukur Alhamdulillah, barangkali niatan kearah sana suda ada, misalnya dengan membuat para guru menjadi sejahtera.  Tapi apakah cukup hanya itu saja?  Tentu tidak!!

10 komentar:

  1. Sayang teh,pembukaan awal th 2009,anak-anak diIndonesia,mulai merealisasikan,sekolah masuk lebih awal.mereka jadi korban kebijaksanaan pemerintah demi mengatasi macet di Jakarta.
    padahal BUS WAY itu biangnya keroknya kemacetan di Jakarta.

    BalasHapus
  2. Bukan membandingkan Teh... tapi setidaknya kita bisa mengukur kesungguhan pembuat kebijakan, masih segar dalam ingatan kita.. ketika UU BHP disahkan... yg jelas2 menikam dengan belati karatan persis di jantung kaum miskin......

    BalasHapus
  3. Saya juga sering berandai-andai Teh, terutama ketika melihat anak saya yang pindah sekolah dari kindergarten di indonesia ke sini. Udara yang bersih, makanan yang sehat dan terjangkau, dan kreativitas sekolahnya membuat anak saya jarang sakit dan ingin bersekolah setiap hari. Di Indonesia sempat mogok pergi sekolah krn pernah dimarahin ibu guru gara2 bolak balik minta pipis.

    BalasHapus
  4. iya.. jangan dibandingin...
    yang nggak ngerasain di sana kan jadi makin sirik :D

    BalasHapus
  5. insyaAllah ya bu...kalo islam ditegakkan...

    BalasHapus
  6. Mungkin karena bagi pemerintah Indonesia, anak bukanlah harta yang berharga, tapi hanya obyek yang bisa diperlakukan sesuka mereka,...

    BalasHapus
  7. Pembuat kebijakan terlihat hanya melirik & memperhatikan kaum miskin ketika mereka membutuhkan suara para kaum miskin agar mereka tetapp bisa duduk di kursi mereka...
    Ironis sekali!

    BalasHapus
  8. Kita berdoá aja kali ya Hesti, supaya anak-anak Indonesia bisa mendapatkan apa yang terbaik buat mereka.

    BalasHapus
  9. Kalo udah sirik kan nanti akan berusaha & berdoá supaya bisa menikmati hal yang sama,
    iya kan?

    BalasHapus
  10. Tentu bu Sofi,....
    So :
    Buah benkuang diatas kayu = berjuang yuuuuuu

    BalasHapus