Kamis, 09 Januari 2020

Aku Bukan Cleopatra part 35

Part 35.

Masih terbayang dalam ingatanku bagaimana dulu aku pertama kali bertemu Hamid.
Waktu itu aku dan Nura teman sebangku ketika SMA. Kami seperti sendal. Kemana-mana selalu berdua. Dimana ada aku. Di situ ada Nura.

Hingga suatu saat, bunda meninggal setelah lama menderita sakit types. Ususnya bocor. Begitu yang aku dengar.
Aku merasa kehilangan. Aku merasa seperti perahu tanpa nahkoda. Saat itulah Nura sering mengajak aku ke rumahanya. Seperti  kerbau dicocok hidung, aku menurut saja. Tidak punya pilihan.

Ibu Nura menyambutku penuh kehangatan. Aku merasa punya bunda yang baru. Punya rumah yang baru. Tak jarang aku minta ijin pada bapak untuk menginap di rumah Nura. Rumah yang hangat dengan keramaian para penghuninya. Dua kakak kembar yang baik meski kadang mereka tertangkap basah berantem. Satu adik pendiam. Satu batita yang menggemaskan dan satu bayi mungil yang lucu.
Ramai sekali. Tak seperti di rumahku. Aku hanya sendiri. Tanpa adik, tanpa kakak. Ibu yang bekerja dan ayah yang sering ke luar kota.

Aku merasa menemukan dunia baru. Aku bermain dengan mereka. Dengan Nura dan adik-adiknya. Juga dengan Hamid dan Hamdi, kakak kembarnya.

Hamid yang pendiam dan penuh tanggung jawab, selalu siap sedia mengantar kemana saja kami ingin pergi. Selalu cekatan mencarikan apa yang aku dan Nura inginkan. Di balik itu, Hamid yang suka memasak seperti ayah Nura, tak jarang memberi kami kejutan.

Sesekali kami masak bersama.
"Untuk sop, rempahnya jangan terlalu banyak, tak enak kalau aromanya menyengat" Begitu Hamid pernah menjelaskan.
Kadang aku malu. Aku perempuan tapi dalam memasak kalah jauh di banding Hamid.
Tapi para chef ternama biasanya kan laki-laki. Begitu aku menghibur diri.

Hamid baru masuk kuliah semester pertama ketika aku dan Nura masih duduk.di bangku kelas satu SMA.
Sebenarnya Hamid dan Hamdi sudah keterima di jurusan UGM. Hamid di jurusan Farmasi dan Hamdi di jurusan psikologi. Tapi  hanya Hamdi yang melanjutkan.

"Aku takut ibu ga ada yang bantu dan ga ada yang jaga". Begitu alasannya.  Mungkin karena ayah Nura sering ke luar kota.

Hamid bukan type anak mama yang manja. Tapi type kakak yang sangat cekatan dan bertanggung jawab. Jika ibu atau adik-adiknya sakit. Hamid cekatan merawat. Bukan karena ia pernah jadi ketua Palang Merah Remaja di sekolahnya dulu. Aku kira, karena waktu kecil ibunya juga memperlakukan Hamid seperti itu.

Aku menganggap keluarga Nura seperti keluarga angkatku. Aku ikut memanggil ibu pada ibunya Nura. Ibu juga tidak membedakan aku dengan anak-anaknya yang lain.
Aku menganggap Hamid dan Hamdi sebagai kakakku sendiri.
Hamdi hanya pulang sesekali. Saat liburan saja. Tapi sekalinya datang selalu membawa keceriaan dengan aneka candanya.
"Kamu tahu kenapa aku mengambil psikologi?" Suatu hari Hamdi bertanya.
"Karena hanya psikologi yang masuk.di semua bidang & lapangan pekerjaan". Waktu itu aku hanya mengangguk meski tidak faham.

Hamid mengambil kuliah ekonomi di salah satu PTS swasta ternama di kota ini. Lulusannya dikenal banyak diterima dimana-mana karena dedikasi dan etos kerja yang tinggi. Kalau aku melihat, jikapun Hamid mendapatkan posisi yang paling bagus dan bergensi, bukan karena alamamaternya. Tapi karena kepribadiannya.

Dia kakak yang bertanggung jawab dan penuh kasih sayang.
Selain itu selalu ringan membantu.
Seperti saat itu.
"Kak, tolongin Andini & Nura ya, mau registrasi Mahasiswa baru". Nura memohon. Hamid tak menolak.

Aku dan Nura masuk di fakultas yang sama. Aku mengambil jurusan Ilmu Keluarga dan Konsumen. Sementara Nura mengambil jurusan Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat.

"Nanti kakak tunggu di perpustakaan ya". Nura mengatur.
Hamid cuma tersenyum.

Begitu semua urusanku selesai. Aku langsung ke perpustakaan kampus.
Hamid menunggu di luar. Duduk di salah satu bangku.
Aku.langsung mendekati.
"Nura belum.ke.sini?". Aku bertanya.
"Belum". Jawab Hamid santai.

Aku duduk.di sebelah Hamid.
Mengeluarkan botol minum. Udara tidak terlalu panas memang. Tapi aku termasuk yang cepat kehausan.
"Ke dalam yuk,".  Aku berdiri dan mengajak Hamid.
Hamid ikut berdiri berjalan di belakangku. Begitulah seharusnya seorang kakak.

Usai mendaftar di komputer buku tamu pengunjung, aku langsung, melihat-lihat buku. Berjalan melihat-lihat beberapa rak buku.
Seperti inilah buku-buku yang harus ku baca nanti.
"Ngga ngambil satu buku untuk dibaca?". Hamid bertanya.
"Ngga, cuma mau tahu seperti apa buku kuliahku nanti".
Hamid tertawa ringan.
"Ya udah, ayo kita duduk". Hamid mengajakku.
Aku menurut saja.

Sebuah meja dan empat kursi. Akhirnya kami memilih duduk d sana, di dekat jendela, di lantai dua. Agar mudah melihat Nura kalau Nura pulang, begitu pikirku.

"Gimana tadi?" Hamid membuka percakapan.
"Alhamdulillah, antriannya ga terlalu panjang".
"Syukurlah". Hamid tersenyum.
"Di sini enak ya, suasananya nyaman". Aku melihat ke luar.
"Iya, pemandangannya juga bagus".
"Iya". Aku menyetujui.

"Andini, boleh kakak bicara serius?". Tiba-tiba Hamid bertanya.
"Iya kak". Aku merasa semuanya santai saja.
"Kalau ada seseorang yang suka sama Andini, kemudian ingin jadi suami Andini, gimana?".
"Aku kan baru masuk kuliah, suruh cari yang lain aja".
"Kalau dia bersedia menunggu?"
"Emang ada yang mau lama-lama nunggu?". Aku menjawab dengan pertanyaan.
"Kalau ada?"  Hamid mengulang untuk menegaskan.
"Kalau ada, itu mah lelaki hebat". Aku asal menjawab.
"Ini serius".
Aku diam. Mencoba berfikir.
"Kayaknya Andini ga mau kalau kuliah Andini terganggu, kalau ada yang nunggu gitu kan jadi terburu-buru".
"Ya ngga terburu-buru juga, kan mau nunggu. Kalau ga mau nunggu harus sekarang". Hamid  menjelaskan ulang.
"Emang siapa?". Aku bertanya.
"Aku". Hamid menjawab pendek. Matanya melihatku sekilas, tapi segera dipalingkan ketika aku balik menatap.
Hamid memandang ke luar kaca.
Aku juga.
"Jangan bercanda Kak, mana ada kakak menikah dengan adiknya sendiri, kita kan sudah seperti keluarga". Akhirnya aku mampu menyusun kata-kata.
"Aku ga bercanda, aku serius". Hamid menegaskan.
Aku diam. Aku baru sadar kalau antara aku dan keluarga Nura tidak ada ikatan darah. Namun aku tetap merasa mereka adalah keluarga dan aku selalu menganggap mereka keluarga. Bersikap pun seperti layaknya keluarga. Layaknya kakak adik, kadang bercanda dengan tawa lepas.

Tapi itu dulu. Dulu sebelum aku hijrah dan mengenal Islam. Sebelum aku mengenal Zamzam. Ya. Zamzam yang mengenalkan aku pada pengajian. Zamzam yang mengenalkan aku pada Yumna yang akhirnya menjadi mentorku. "Yumna koordinator pengajian akhwat". Begitu Zamzam mengenalkan.

Setelah mengenal Islam, aku mulai menjaga jarak dengan Hamid dan Hamdi. Walaupun aku tetap menghormati mereka sebagai bagian dari keluarga. Keluarga angkatku.

***

Hari ini aku harus membereskan laporan kegiatan santri rumah tahfidz. Aku harus membuat anecdotal record. Semua harus tercatat. Untuk memudahkan evaluasi. Bapak sebagai penasehat yayasan menjelaskan. Sebagia sektretaris yayasan. Akulah yang mengerjakannya. Membuat laporan bulanan.

"Andini, sini yuk, mas Mukhlis mau bicara". Nura mengajakku, langsung menggandeng tanganku.
Aku tak punya pilihan.
"Ada apa nih?". Aku bertanya.
"Ngga". Nura hanya mengucapkan sepatah kata.

Kami.duduk bertiga di atas karpet.
"Bagaimana, laporannya? Ada yang bisa kami bantu?". Mukhlis bertanya
"Alhamdulillah beres". Hanya itu yang bisa kujawab.
"Anti jadi mau berangkat ke karantina tahfid?" Mukhlis bertanya.
"In syaa Allah, nanti laporannya aku serahkan semua ke Nura".
"Nura masih pusing-pusing dan sering mual di kehamilan trimester pertamanya. Biar Nanti Azzam yang ngerjain". Mukhlis menjelaskan. Aku faham & hanya bisa menganngguk.

"Satu lagi, Andini". Mukhlis nampak hendak menyampaikan sesuatu.
"Apakah Anti akan berubah pikiran, atau tetap menunggu Adlan sembuh?". Mukhlis kembali bertanya.
"Aku melangkah sejauh ini untuk menjadi penghafal Quran, semua atas ijin Allah. Allah menuntunku ke sini dengan tangan Mas Adlan. Seseorang yang tidak berterima kasih pada manusia, berarti dia tidak berterima kasih pada Allah. Dan aku akan menunggu Adlan sebagai rasa terima kasihku padanya, dan rasa syukurku pada Allah karena aku telah sampai di titik ini". Aku.memaparkan. mencoba bersikap tenang.
"Alhamdulillah, baiklah kalau begitu". Mukhlis nampak memahami.
"Aku pamit".

Nura mengantarku sampai ke pintu.
"Maafkan aku ya, maafkan Hamid, maafkan Mukhlis kalau jadi membuatmu sulit". Nura memelukku di.depan pintu.
"Ngga Nur, mungkin dengan cara ini Allah memintaku menajamkan niatku".
"Aku sendiri sudah berusaha membantu Kak Hamid untuk mau membuka hati pada yang lain, tapi Kak Hamid belum.bisa".
"Gapapa Nur, aku yang salah, aku yang harus minta maaf".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar