Jumat, 04 Maret 2022

Cinta Seindah Sakura Part 27


Terdengar bel pintu utama berbunyi.
Andini bergegas ke arah pintu, menekan tombol komunikasi'
"Ja?" hanya itu yang bisa diungkapkan Andiny untuk bertanya.
"Kana, Mba" terdengar suara menjawab.
"Panjang umur" begitu kata yang reflek diucapkan sebagian masyarakat di tatar Sunda ketika mendapati orang yang tengah dipikirkan dan dibicirakan.  Itu pula yang digumamkan Andiny di hati.
"Sama Sonia" terdengar suara wanita lain ikut menjawab.
"Sonia?"  Andiny merasa belum mengenalnya.  Tapi tak ada alasan untuk tidak membukakan pintu.  

Kana terlihat cantik dengan gamis peach.  Dipadu dengan jaket tipis sepanjang lutut.  Juga pasmina yang menutup kepala terlihat sangat serasi.  Dan bagian sisi kanan pasmina yang dibiarkan sedikit menjuntai dibelakang bahu semakin menyempunakan penampilan Kana.  Tidak hanya itu.  Kilau tuspin di pipi kanan dan kiri yang menguatkan pasmina nampak semakin menambah kilau wajahnya.  Namun nanar luka di matanya seolah mencuri semua sempurna cantiknya. 

Sonia.  gadis berwajah ayu dengan kulit sawo matangnya yang eksotis.  Bibirnya tipis.  Senyumnya ramah.  Tahi lalat dibawah bibir seolah ingin menegaskan ramah senyum milik Sonia.  Matanya cenderung sipit. Ketika seyum seolah mata itu terlihat terpejam menikmati bahagia.  Alisnya yang cenderung naik ke arah luar juga jarak antar alisnya yang proporsional seolah bercerita bahwa Sonia adalah gadis cerdas yang berwibawa.  tampaknya Sonia salah satu mahasiswa yang kuliah di Muenchen juga.  Andiny menduga.

"Assalamu'alaikum"  kompak Sonia dan Kana menyapa.
"Wa'laikum salam" Andiny menyambut dengan pelukan tak lupa cipika cipiki.  Hanya saja Andiny masih sedikit kikuk, sebab biasanya pelukan itu hanya dua kali.  tapi di sini tiga kali.  
"Ayo masuk, Zuhdan sudah menunggu" ajak Andiny.

"Zuhdan" tiba-tiba mata sipit itu seolah melebar.  Pancaran bahagia terpancar dari sinarnya.  Apakah bahagia adalah pancaran cahaya mata yang meluaskan garisnya?  entahlah.  Sebab bukan hanya itu.  Pipi sawo matang Sonia nampak merona kemerahan.
"Kalian bertiga ga janjian bareng?" pertanyaan Andiny seolah menyerap kembali semua perubahan di wajah Sonia.
"Tadi kami ketemu di toko Asia, waktu aku bilang mau ke rumah Ustadz Hamid, Sonia ingin ikut, karena ada yang mau dikonsultasikan"  Kana menjawab.  Datar.  Tanpa senyum. 

Zuhdan sejenak terperangah.  Entahlah apakah karena cantiknya Kana atau karena hadirnya Sonia.
Namun detik waktu dalam degup jantungnya seolah mengingatkannya.  Sebuah tarikan nafas yang dalam ia coba tarik perlahan, seolah sengaja disembunyikan.

Mata Kana, selalu membangkitkan naluri Zuhdan untuk melindungi.  Seolah ia ingin mengembalikan kehangatan yang harusnya hadirdalam tatapan.  Seolah ia ingin membalut luka hati yang terpantulkan dari jendala mata wanita di hadapannya.  Namun di situ juga ada Sonia.  Gadis yang setiap pagi ramah menyapa lewat pesan di handphonenya.  Gadis periang yang sangat memperhatikannya.  Gadis yang dua tahun ini paling pertama mengucapkan do'a ketika tiba tanggal lahirnya, juga kemudoian membuatkan kue imut yang nikmat rasanya.  Gadis yang sering memberikan komentar ketika Zuhdan tampil dalam acara apapun.   Zuhdan faham betul kemana Sonia ingin mengarahkan hatinya.  Namun hati bukanlah ranah manusia untuk mengendelakinannya.

Lalu seperti apakah hati?
Apakah ia sebentuk istana bening kaca yang tiba-tiba meluas ketika cahaya bahagia syukur menggema?
Ataukah ia sebentuk penjara tempat dikurungnya orang-orang yang telah meluka meski luka itu atas nama cinta?
Maha Suci Allah yang telah menciptakan hati sedemikan rupa.  Hati yang tak pernah seorangpun dapat membayangkannya.
Maha Suci Allah yang menitipkan rasa di hati manusia.  Rasa yang membuat hidup penuh dinamika.
Maha Suci Allah yang telah menemankan hati dengan akal manusia, yang paduannya adalah pilihan berujung pertanggungjawaban.

Zuhdan mencoba mengukir senyum.
"Kana, Sonia apa kabar?"  senang kalian berdua ada di sini.  Entah mengapa tiba-tiba air ludah itu tiba-tiba ada.  Apakah dari degup jantung yang tak beraturan?  Ataukah dari kenyataan yang tidak disangkakan?  Zuhdan hanya mampu menelan ludah itu.  Tidak ada pilihan.  Namun seolah ludah itu enggan masuk ke tenggorokannya.  Zuhdan mengambil teh yang telah disajikan.  Seolah berusaha memaksa ludah agar segera turun jauh ke sistem pencernaan. Pun Zuhdan seolah ingin agar seteguk teh itu mengusir gundah yang tiba-tiba datang.  Bimbang.

"Baik"  seperti paduan suara antara suara satu dan suara dua, Kana dan Sonia beriringan menjawab.
"Ayo duduk" Hamid mempersilahkan.
Hamid seolah faham akan semua yang terjadi.
"Uma, makan siang sudah disiapkan?" Hamid menatap Andiny
"Oh iya" Andiny seolah faham.
"Para gadis, maaf nih, ada yang mau bantu?"  Andiny menawarkan
"Kalau kata Bu Bagus, Sonia pinter masak loh Uma" Hamid seolah mengarahkan
"Waah, mau ga nih Sonia ngajarin aku masak?"  Andiny menatap Sonia
"Dengan senang hati"  Sonia segera beranjak.
"Gapapa nih baru datang juga?"  Andiny meyakinkan.
Sonia bergegas ke arah Andiny.  Dan dapur adalah tujuan mereka.

Memasak bersama adalah hal yang selalu menyenangkan.
Andiny menunjukan beberapa pilihan bahan untuk diolah.
Sonia memilih pasta.  "Zuhdan suka banget lasagna"  Sonia memberikan alasan.
"Oke, aku siapkan juga yang lainnya ya"  Andiny menambahkan.
"Kana ga diajak?"  Sonia bertanya
"Ga usah, dapur ini bakal terlalu penuh kalau masak bertiga" Andiny memberikan alasan.
Sonia tak menjatukan pertanyaan.  Ia mulai fokus.

Fokus pada semua bahan.  Andiny mengamati.
Maa syaa Allah, Masa Suci Allah yang telah mengilhamkan banyak hal pada manusia untuk menikmati lezatnya sebuah hidangan.
Maha Suci Allah yang telah menggerakkan dunia bahkan hanya untuk sepinggan makanan.
Bukankah Allah telah menggerakan hati petani untuk menyemai bibit, merawat tanaman hingga memanennya?
Bukankah Allah telah menggerakan pedagang besar untuk membeli hasil taninya?
Bukankah Allah telah menggerakkan banyak kendaraan untuk mempertemukan hasil jerih payah petani dengan pembelinya?
Bukankan Allah telah menggerakan hati pembeli untuk memilih apa yang ia sika dari hasil cinta petani pada tanamannya?
Bukankah Allah telah menggerakan hati manusia untuk mengolah aneka bahan menjadi sebuah sajian lezat.
Maa syaa Allah, bukankah ada semesta cinta dunia dalam sepinggan hidangan?
Sayangnya limpahan cinta yang datang tiap hari itu seolah hal biasa yang sering terlupa.

"Sudah selesai?" Andiny bertanya
Sonia menjawab dengan anggukan.  Sejurus kemudian ia mengambil nampan.
"Aku bawakan ya"  inisiatif sonia tak tercegah oleh Andiny yang kalah sigap membawanya.

"Bagaimana Kana?, apakah bisa menerima maksud baik Zuhdan?" terdengar kalimat lembut dari Hamid.  Kalimat itu seolah lampu lalu lintas yang tiba-tiba berubah merah bagi Sonia.
Sonia diam.  Behenti.  Seperti sebuah kendaraan menunggu lampu hijau menyala kembali.
"Aku ingin menikmati hidup, aku tidak tahu sampai kapan Allah memberiku umur karena akhir-akhir ini aku betul-betul merindukan kematian.  Namun sebelum kematian itu datang, aku ingin menikmati hidup.  Jika Kang Zuhdan bisa menemaniku menikmati hidup, aku bersedia menerima"  jawaban dalam helaan nafas itu terdengar jelas oleh Sonia.  Jawaban yang merampas semua energi dalam tubuhnya.  Ingin rasanya ia masuk dan mencegah semua yang ia dapati terjadi.  Tapi tak bisa.  Penasaran membuatnya mematung meski tubuh itu terasa teramat lemah kini.

"Akupun ingin menikmati hidup, menikmati semua karunia, termasuk karunia rasa ini.  Aku akan minta kepada Allah agar rasa ini penuh keberkahan untuk kita berdua"  jawaban Zuhdan kembali membuat energy Sonia berkurang.  Akhirnya ia betbalik arah kedapur.

"Sonia, ada apa?' Andiny bertanya.
"Boleh minta teh panas?" Sonia memelas
Andiny bergegas membuatkan.
"Aku tiba-tiba ingat mama, aku tiba-tiba bisa merasakan apa yangselama ini mama rasakan" Sonia berkata dalam genangan airmata.
Namun sejurus kemudian ia menarik nafas panjang.
"Sonia, ada yang bisa aku bantu?" Andiny bertanya
"Boleh aku memeluk Mba Andiny?  tiba-tiba aku kangen mama"  
Andiny reflek memeluk Sonia. 

***

Jika hidup begitu sempurna dalam keindahan
Lalu untuk apaair mata Allah ciptakan?
Jika semua impian begitu mudah kita dapatkan
lalu apa artinya perjuangan?
Jika setiap cinta manusia selalu terbalaskan
Lalu apa artinya sebuah pengharapan?
Jika hidup tanpa ujian
lalu apa makna tingginya kemuliaan?

Bukan hidup yang tidak indah
Namun langkah yang seringsalah mengarah
Bukan maksud menyakiti Allah berikan kepedihan
Namun manusialah yang tak mampu mengambil pelajaran
Seberat apapu ujian
Tak kan pernah sebanding dengan hikmah yang Allah berikan
jika
ia mau berbaik sangka pada suratan yang telah Allah gariskan.







Sabtu, 26 Februari 2022

Cinta Seindah Sakura part 26

 Part 26.

Oleh Rani Binti Sulaeman


Jika ada kata yang membuatmu ternganga

Membuat mata sedemikian terbuka

Membuat dada sedemikian membuncah bahagia

Membuat masa sedemikian ceria gembira 

Maka kata itu adalah : ajaib.


Betapa banyak orang berjalan mencari keajaiban, demi mencari kebahagiaan, menikmati sensasi gembira tak terkira.   Betapa banyak uang yang rela mereka keluarkan demi sebuah angan tentang keajaiban.  Betapa banyak yang rela menempuh perjalanan panjang demi impian keajaiban yang telah lama didambakan.   Padahal keajaiban itu dekat, teramat sangat dekat.  Sedekat kita dengan Sang Maha Pencipta.  Bukankah SangMaha Pencipta, Sang Maha Pecinta lebih dekatdari urat leher setiap manusia?


Maka keajaiban akan selalu ada bagi mereka yang menikmati kedekatannya dengan Sang Maha Pencipta, Sang Maha Pecinta.  Baginya hidup hanyalah keajaiban keajaiban yang indah.  Tiada beda antara suka maupun duka.  Bersyukur ketika semua karunia keberlimpahan datang.  Kemudian melipatgandakan syukur ketika ujian mendera.   


Ya, sabar adalah syukur yang telah berpangkat kuadrat. Syukur yang harus ditumbuhkan di setiap kisi-kisi luka.  Dan dalam sebulir air mata pun kata syukur harus tetap muncul.  Syukur atas hangat bening air mata pelarut duka.  Syukur atas terpilihnya jiwa untuk melewati ujian guna meningkat taqwa.  Maka ketika syukur yang telah berbilang sedemikian banyak  itu menyatu ketika keberlimpahan tiba, ia seperti menjadi wadah yang teramat sangat besar dan luas yang siap menerima semua indah pemberian.


Andiny kini tengah menikmati keberlimpahan pemberian itu.  Pemberian dari sang Maha Pencipta Sang Maha Pecinta.  Pemberian ajaibnya kehidupan baru yang mulai berdetak di rahimnya.  Pemberian ajaibnya cinta dari Hamid yang sama sekali tak pernah ia bayangkan.  Pemberian ajaibnya Utsman yang terus tumbuh dalam kasih sayang  ayah sambungnya.  Pemberian ajaibnya pemandangan alam  yang selama ini hanya ia lihat dalam gambar-gambar.  Andiny terus bertasbih memuji Sang Maha Pencipta yang telah melimpahinya segenap cinta.


Di sepertiga malam, dua hamparan sajadah menyaksikan sepasang kekasih yang tengah larut dalam do’a.  Do’a merdu ditengah isak tangis syukur, do’a yang berhiaskan bening bulir airmata yang menetes lambat.  Seolah setiap bulirnya ingin utuh menyerap syahdu do’a hingga sampai pada kata aamiin yang terakhir.


Episode indah itu diakhiri dengan diciumnya tangan Hamid dengan takdzim.  Seperti hari-hari yang telah berlalu, Hamid menarik nafas panjang untuk menyimpan do’a yang kemudian ia tiupkan lembut pada ubun-ubun kekasihnya.  Lalu setelah itu Andiny akan bersandar di bahu lebar Hamid sembari bermanja dalam cinta.  Dan cinta dalam ikatan pernikahan adalah ibadah indah cermin kenikmatan surgawi.


Andiny bangkit dari tempat tidurnya, sementara Hamid nampak terpejam.  Ia harus segera menyegarkan diri membasuh semua tubuhnya dengan air yang mensucikan.  Dibukanya balutan mukena yang masih ia kenakan.  Dilipatnya sajadah yang masih terhampar di sisi kamar.  Lalu Andiny melangkah ke kamar mandi.  Namun seperti biasa, Andiny akan melihat Utsman dikamarnya, memastikan bahwa buah hatinya terlihat nyaman bahagia di alam mimpinya.


Andiny menyelimuti Utsman.  Diciumnya pipi tembem Utsman yang menggemaskan.  Andiny bersyukur dan terus bersyukur.  Tumbuh kembang Utsman adalah keajaiban.  Kasih sayang Hamid pada Utsman juga padanya adalah keajaiban.  Dan keajaiban kasih sayang itu telah menumbuhkan keajaiban detak jantung dalam rahimnya.   Detak jantung ini telah Allah tiupkan nyawa di kehadirannya yang telah menginjak bilangan empat purnama.


Air adalah keajaiban yang menyegarkan ketika ia ada dalam porsinya.  Andiny melihat jam, Masih ada waktu untuk sahur.  Hari ini hari Kamis.  Andiny bergegas ke dapur  ia ingin menyiapkan sahur untuk Hamid. Namun di dapur Hamid nampak tengah menyiapkan hidangan.  “Ayo Umma, kita sahur” ajak Hamid.  Nasi, soto ayam, perkedel, kerupuk  dan sambal  telah terhidang.  Tak lupa kurma ajwa juga menjadi penyempurna hidangan sahurnya.  


Puasa di musim panas adalah puasa terpanjang.  Maka persiapan sahur harus benar-benar maksimal.  Dan kurma yang penuh berkah benar-benar menjadi solusi.  Energinya tahan sepanjang hari.  

“Umma jam 11 siang nanti kita jadwal ketemu dokter Martia kan?” Hamid menatap lembut kekasihnya.  Andiny menangguk.  “Apa Kana bilang ke Umma kalau jam 10 pagi ini dia mau kesini bareng Zuhdan?” Andiny menggeleng.  “Zuhdan mau pinjam buku Fiqh Sunnah”  Hamid menjelaskan “Katanya sekalian janjian sama Kana mau ke rumah Alma” 

“Orang tua Kana jadi datang ke sini?”  Andiny bertanya.

“Jadi, kabarnya Oktober nanti, mungkin sekalian ingin melihat Oktober fest”

“Oktober fest?” 

“Iya, pesta rakyat tahunan di Muenchen, nanti ada karnaval, juga ada macam-macam permainan seperti di Dufan”  

“Ooh, nanti kita bisa lihat juga kan?”  Andiny berharap

“Cuma biasanya banyak yang mabuk, harus berhati-hati”

Andiny menciut.

“Hari ini Kak Hamid ke kantor jam berapa?”  Andiny mengalihkan perhatian.  

“Kakak hari ini ijin ga ke kantor” 

“Enak ya, kerja di sini dihitung target jam kerja, bukan dihitung kehadiran harian, jadi bisa fleksibel”

“Di sini semua systemnya sudah stabil, kecuali system pergaulan, ya itulah, kalau system yang dipakai buatan manusia, sejenius apapun pembuatnya, pasti ada sisi yang membuatnya timpang dan merusak”

Andiny mengiyakan penjelasan Hamid.


Hamid tengah bersama Utsman bermain.  Sepasang ayah dan anak tengah asyik menyusun kotak-kotak plastik bermerek lego.  Hadiah dari Bu Bagus dan Alma.  Andiny baru saja mengucap salam dalam sholat dhuha yang digenapkannya dua belas rakaat.  Waktu menunjukkan pukul sembilan tiga puluh ketika bel rumah berbunyi pertanda tamu bertandang.   

Hamid bergegas ke pintu, menekan tombol untuk berbicara “Tut mir leid, wer bis du?”

“Zuhdan, Kang” terdengar jawaban melalui speaker dekat pintu.  Hamid menekan tombol untuk membuka pintu utama apartemen yang ada di bawah agar Zuhdan bisa masuk dan naik.

Zuhdan dan Hamid berpelukan laykanya sahabat yang lama tak bertemu.  

“Koq sendirian, katanya janjian sama Kana?”  Hamid bertanya

“Iya janjian di sini”  Zuhdan tertawa ringan. 

“Ayo masuk”


Zuhdan menghampiri Utsman yang tengah asyik bermain.  “Waah, jagoan abuya lagi buat apa nih?”  

“Aku lagi bikin pesawat sama kereta” Utsman menjawab polos

“Waah keren, bagus sekali pesawatnya, dan ini keretanya panjaaaang”

“Ini buat Om” Utsman memberikan sebuah lego yang telah tersusun.

“Makasih banyak Utsman sholih,   tahu aja nih om suka pesawat”


Sejenak mereka bercengkrama, bermain bersama. Hingga Andiny datang membawakan minuman dan camilan.  “Ayo minum dulu”  Andiny menyimpan hidangan di meja tamu.   Zuhdan beranjak, duduk di sofa yang nyaman.  

“Bagaimana tesisnya?  Lancar kan?”  Hamid membuka pembicaraan.

“Alhamdulillaah lancar, yah, ada progress lah meskipun ga ngebut” Zuhdan menjelaskan “Disambil kerja di mini market ternyata lumayan berat bagi waktu juga”

“Alhamdulillaah, yang penting tetap bisa dikerjakan”

“Iya Kang” Zuhdan mengambil the yang terhidang.

“Antum jadi pinjam Fiqh sunnah bab munakahat?, mau ngisi pengajian atau mau persiapan?”  Hamid menggoda.

“Dua-duanya  Kang” Zuhdan menjawab pendek

“Serius?  Siapa nih akhwat Muenchen yang beruntung  dapetin Antum?, seorang mualaf kah?”

“Ngga lah Kang” Zuhdan mengelak

“Katanya Antum pengen nikah sama muslimah bule”

“Itu dulu”  Zuhdan tertawa sesaat, sejurus kemudian raut mukanya berubah nampak serius.

“Kang, mohon maaf sebelumnya, sambil minta meyakinkan juga sih nanti, sebenarnya aku janjian sama  Kana di rumah Kang Hamid, sambil ingin melamar Kana sebelum nanti datang ke orangtuanya saat keduanya kesini”  papar Zuhdan begitu hati-hati.


Andiny yang duduk di sebelah Hamid tertegun.  Masih terbayang senyum Kana saat menatap Hamid.  Masih terlihat jelas tatap mata yang hanya bisa dimengerti oleh sesama wanita, tatap mata nanar karena cinta tak sampai.  Zuhdan, apakah telah berhasil meluluhkan hati Kana?

Cinta Seindah Sakura Part 25


Oleh : Rani Sulaeman Ummu Ahmad


Part 25


Bulan adalah teman impian

Bukan teman langkah kehidupan

Maka biarlah bulan menjaga mimpimu bersama gemintang.

Agar jelaga malam menjadi indah bercahaya.


Biarkan bulan menghitungkan waktu untukmu

Dalam tasbih perubahan wujudnya

Dari sabit menuju purnama.

Cukuplah engkau menikmatinya

Biarkan bulan riang bersama gemintang.


Bulan tak kan pernah jadi kenangan

Karena taqdirnya hadir dalam kehidupan

Usah berkaca pada waktu yang telah lalu

Berkaca lah pada mentari pagi

Bahwa pada setiap taqdir kehadirannya

Ada kebahagiaan yang menghangatkan.


Bulan.

Biarkan ia tetap ada

Biarkan ia tetap menjaga

Biarkan ia dalam tasbihnya.


Puisi indah itu terbaca di layar handphone Saat ia menjelajah dunia maya.  Kana mengirimkan pertemanan di akun sosmednya. Dan sebuah gambar di time line akun Kana menjadi ikon untuk puisi itu.


Andiny tercenung. Ada yang terasa beda dengan puisi Kanaya. Andiny mengusap perutnya. Membaca ta'awudz dan do'a pengusir gelisah. "Mungkin perubahan hormonal membuat perasaanku jadi sensitif". Begitu pikir Andiny. Ia menghela nafas.


Dialihkannya pandangan ke arah semua yang tengah menikmati hidangan. Ia mencari Hamid. Rupanya para pria tengah memberi tahniah, ucapan selamat pada Hamid.


Merasa ada yang melekatkan pandangan pandangan, Hamid reflek menoleh.

Andiny kekasihnya tengah menatapnya. Hamid mendekat.


Episode baru kebahagiaan. Itulah yang Hamid rasakan. Bersiap menjadi ayah secara biologis adalah anugrah indah yang telah lama dinantikan. Keberlimpahan yang telah lama diimpikan. Kemuliaan yang lama ia rindukan. 

Buah cinta dalam ibadah indah, kini Allah hadirkan di rahim kekasih tercinta ; Andiny.


"Kenapa ga cerita dari awal, Andin?" Hamid menatap istrinya penuh kasih sayang.

Andiny tersenyum. Seolah semesta bahagia hadir di wajahnya. Seolah sinar mentari pagi nan hangat terbit di matanya.

"Tadi kakak sibuk menyiapkan semuanya, juga sibuk bersama Utsman" Andin ga berani ganggu.


Acara syukuran itu telah selesai. Andiny dan Hamid bersiap. Tas ransel yang penuh kini kosong. Ringan. Teramat sangat ringan. Hamid menuntun Utsman dan mendudukannya di Stroller.

"Bruder Utsman, ayo bersiap pulang" Hamid riang mengajak Utsman.

"Bruder itu apa?" Utsman bertanya.

"Kakak laki-laki. Utsman akan jadi kakak, Allah kasih adik untuk Utsman"

"Adiknya mana?" Utsman antusias.

"Di perut Umma" masih sangat kecil, belum kelihatan.


Utsman menatap mata Andiny.

"Umma, aku mau punya adik?"

Andiny mengangguk.

"Utsman mau punya adik laki-laki atau perempuan?" 

"Aku mau punya adik laki-laki dan perempuan" Utsman polos menjawab.

"Aamiin" Hamid menimpali.


Bertiga mereka keluar dari pintu gedung itu. Sebuah bangunan yang sebagian ruangannya disewa untuk dijadikan masjid. Tempat melaksanakan kajian. Masjid Turkey, begitu masyarakat Indonesia menyebutnya.

Gedung itu memang milik orang Turkey yang sudah lama punya ijin tinggal permanen di negara ini. Dan masyarakat Indonesia turut memanfaatkannya dengan menyewa, untuk acara-acara tertentu.


"Kang Hamid, mau ikut bareng yuk" Bu Bagus menyapa dan mengajak dari jendela mobil yang terbuka.

"Terimakasih Bu, tapi kami naik kereta aja, kan ada Utsman" Hamid bijak menjawab.

"Ini ada kindersitz koq di bagasi, kemarin habis nganter  Launa" Bu Bagus menjelaskan.

Hamid memandang Andiny. Meminta persetujuan.

Andiny menjawab dengan senyuman.


"Ngga ngerepotin nih Bu?" Andiny sopan bertanya.

"Ngga, kan sekalian lewat"

Bu Bagus membuka pintu mobil.

Turun dan membuka bagasi. Menyiapkan kindersitz.


Kindersitz. Kursi khusus yang harus dipasang di mobil jika ada anak balita ikut di dalam mobil. Jika tidak dipakai pengemudi harus siap berurusan dengan polisi. 

Itulah cara negara ini melindungi rakyatnya. Termasuk rakyat kecilnya. Anak-anak. Di negri ini angka kelahiran sangat kecil. 

Maka anak adalah aset yang sangat berharga.

Negara tak sayang mengeluarkan banyak tunjangan anak untuk membantu setiap keluarga dalam membesarkannya. Mungkin dengan cara itu, masyarakatnya akan berlomba mempunyai anak banyak. Tapi nyatanya tidak.

Entah apa dalam logika mereka.

Kabarnya banyak yang keberatan akan keberadaan anak karena membesarkan dan mengasuhnya menyita waktu, perhatian, tenaga dan juga harta.


Itulah pemikiran yang jauh dari Islam.


Islam memandang anak adalah harta yang tak ternilai.

Setiap waktu bersamanya adalah berharga.

Setiap peluh yang menetes dalam membesarkannya adalah pahala berbalas surga.

Rizqinya sudah dijamin Allah yang Maha Kaya, sama sekali tak mengurangi apa yang telah dipunya justru kehadirannya adalah pembawa keberkahan dan keberlimpahan.


Anak adalah persiapan dan kebanggaan.

Anak adalah investasi yang do'anya menjadi pahala yang tak pernah putus jika ayah dan ibunya mendidiknya menjadi hamba yang berbakti.


Meski bagi sebagian manusia anak adalah ujian. Bahkan bagi orang sholeh terpilih seperti kisah putra  Nabi Nuh as. 


Tapi bukankah ujian itu adalah keniscayaan?

Setiap apa yang Allah hadirkan adakalanya menjadi keberkahan yang membahagiakan.

Adakalanya menjadi ujian yang memeras airmata derita.


Semua seolah berputar seperti roda. Berganti posisi dikayuhan waktu. Hingga waktu mengantar pada tepi usia, pulang pada Sang Pencipta yang Maha Mencinta.

Cinta Seindah Sakura paer 24

 (Oleh Rani Binti Sulaeman)


Part 24.


"Aku mengenalnya tak disengaja, ia masuk dalam hidupku, masuk dalam logikaku, merubah total semua cara pandang aku, hingga akhirnya masuk ke dalam hatiku" Kanaya mulai bertutur.

Aliyah memberikan telinganya. Memberikan hatinya. Merengkuh dalam dekapan, agar sepasang tangannya menjadi wadah penampung resah gelisah, pelarut duka yang pecah dalam tangisan.


"Waktu itu aku tengah main ke rumah temanku di Wiena, seorang oper. Dia belum lama datang dari tanah air. Aku bermaksud membantunya mengenal Eropa. Temen SMA aku, yang dulu aku kenal sangat sholihah, ternyata dia malah berubah. Entah kenapa, ia sepertinya sakit hati dan rasa sakit hatinya itu benar-benar menjadi penyakit yang membuatnya berubah, berbalik menentang semua yang ia fahami. Dia sahabat aku, Asti." Kanaya menarik nafas panjang.


Pikirannya seolah bertualang ke masa yang belum lama berlalu. Hatinya seperti menapaki waktu. Berjalan mundur. Dan jalanan yang dulu bertabur bunga, kini menjelma duri-duri tajam yang meluka telapak kakinya. Namun darah itu tak menetes. Darah itu menjalar, mencari jalan ke matanya. Menjadi genangan bening di pelupuk yang tidak bisa dibendung lagi. Genangan itu jatuh menderas.


*


"Asti, kenapa bisa berubah begini?"

"Panjang ceritanya Kana, tapi aku sekarang ga mau deh ikutan ngasah biji lagi alias ngaji"

"Loh koq?, bukannya kamu yang dulu rajin ngajakin aku ngaji"

"Itu sebelum aku dibantai"

"Dibantai?"

"Iya, aku pernah dipermalukan di forum. Aku dituduh melakukan kesalahan, padahal itu bukan aku. Mereka ga nanya dulu lagi maen tuduh aja, udah aku buktikan kalau aku difitnah, tetep aku yang disalahin. Sejak itu aku pikir, mereka orang-orang yang ga berfikir pake logika" nada kemarahan seolah menggumpal di dada Asti.


"Mungkin mereka memang orang-orang aneh. Kadang aku pikir, bener juga ya, kata misionaris, orang muslim itu aneh, kentut itu pelakunya anus, yang dibasahi muka" Asti tertawa. Tawa palsu dalam kepedihannya.


"Asti kamu tidak meninggalkan sholat kan?" Kanaya bertanya hati-hati.

"Ngga lah, aku ga akan ninggalin sholat, ayah aku bisa marah besar & aku ga akan mampu menyakiti ayahku. Dia sudah tersakiti oleh ibu" Asti diam. Diikuti Kanaya.


"Kana, apa kabar, lagi main ke Wina koq ga ngasih kabar?" Dani menyapa. Ia memegang nampan makanannya. Ia bersama orang baru nampaknya. Orang itu bernama Hamid.

"Di sini kosong kan?, aku sama teman aku duduk di sini ya" Dani langsung menempati kursi kosong tanpa menunggu Kanaya dan Asti mengiyakan. Begitu juga Hamid.


"Mas Dani, ini teman aku waktu SMA, Asti" Kana mengenalkan.

"Asti baru dua bulan di sini, nanti mungkin bisa diajak ikut pengajian"

Asti menatap Kanaya. Seolah tak suka.

"Oh iya, saya Dani dan ini teman saya Hamid"

Hamid mengangguk dan tersenyum.


Siang menjelang sore. Semua nampak menikmati hidangan spesial dengan menu ikan dan pelengkapnya. Ikan, pilihan paling aman, meski harus dipastikan dulu pada pramusajinya, tanpa alkohol tanpa campuran babi.


"Pengajian di Muenchen gimana? Tambah rame kan?" Dani bertanya.

"Alhamdulillah" Kanaya menjawab pendek.

"Ini Kang Hamid boleh tuh diminta ngisi pengajian di Muenchen"

"Oh ya?" Kanaya antusias,

"Sekalian aku mau tanya deh"

Kanaya menatap Asti sekilas.

Lalu menatap Hamid.

"Kang, sebenarnya kenapa sih, maaf ya, yang membatalkan wudu itu kan buang angin, kenapa malah harus wudhu lagi, & membasuh muka" 

Asti menatap Kanaya tajam. Seolah tak setuju. Kanaya mengabaikan.


Hamid tersenyum. Ringan & manis. 

"Kalau orang dimarahin, difitnah, itu yang denger kuping, yang berdebar tambah kenceng jantung, yang sakit hati, eh yang nangis malah mata. Itu kira-kira kenapa ya?" Hamid menjawab pertanyaan Kanaya dengan pertanyaan.


Wajah Asti.terlihat pucat pasi.

Kanaya tersenyum. Senyum bahagia antara kemenangan & ketenangan.


"Itu.semua ada di otak, proses di otak" Asti membalas.

"Iya betul, kata ilmuwan begitu, tapi apakah prosesnya bagaimana otak mengalirkan sinyal secara cepat ke berbagai arah secara serempak dalam waktu kilat bisa kita lihat?" Hamid bertanya kembali.


Ada sinar kekaguman di mata Kanaya. Mata yang menatap.pria bernama Hamid.

"Kadang kita tidak perlu memikirkan sesuatu yang kita tidak bisa melihat prosesnya, tapi bisa merasakannya. Allah menciptakan sesuatu sudah sempurna hitungannya & karakternya. Atau lihat bagaimana orang tang sembuh dengan refleksi atau akupuntur, yang sakit dimana, yang dipijat atau ditusuk dimana. Katakanlah, kalau kita objek atau pasien, terima saja. Demikian juga dalam tuntunan beribadah, kita objek yang dituntun, ikut saja" Hamid menggenapkan.


"Tapi itu berarti dogma dong, apa bedanya dengan agama lain?" Asti masih bertahan.


Kanaya terkejut. Sama sekali tidak menyangka kalau rasa sakit hati yang ada di Asti telah menjelma menjadi tameng penerima kebaikan. Penghalang dan penentang nasehat.

Seolah sakit hati itu telah menyihir dan merubah Asti menjadi monster penuh luka yang siap menyerang siapa saja.


"Kita yakin ga kalau Al Quran itu mukjizat?, Mba Asti yakin?" Hamid memastikan.

Asti mengangguk, diikuti Kanaya.


"Ada ga yang pernah berhasil meniru gaya bahasa Al Quran?" Hamid bertanya.

Asti dan Kanaya menggeleng.

"Kenapa Al Quran dibaca dengan tajwid sedangkan hadits tidak?" Hamid kembali bertanya.

"Karena Al Quran dari Allah" Kanaya menjawab.

"Kalau Hadits, kan sama-sama sumber hukum Islam?" Hamid bertanya kembali.

"Hadits perkataan Muhammad saw yang berfungsi menjelaskan Al Quran, cuma seperti disebutkan dalam salah satu.ayat, bahwa yang dikatakan Rosulullooh itu bukan hawa nafsu, tapi dibimbing wahyu Allah" Kanaya menjawab.

"Yang bilang kalau buang angin harus wudhu lagi itu siapa, atas bimbingan siapa?"


Kanaya dan Asti.terdiam.


"Kalau kata pembuat HP ini kalau macet harus direstrart, kalau ga direstrart gimana? Ini lagi yang macet ketahuan dari layarnya, kenapa yang dipencet malah tombol on off nya?" Andi ikut nimbrung.  Gaya bahasanya ringan dan kocak.


Asti, Kanaya & Hamid tertawa melihat mimik Andi.


**"


"Sejak itu, aku merasa menemukan sosok yang aku cari. Sosok.yang mampu menjawab semua logikaku yang akhirnya menentramkan hatiku" Kanaya menghela nafas panjang.


Aliyah terdiam. Ia mencoba menyelemi samudra hati Kanaya.

Aliyah tahu. Badai cinta tengah bergolak di dalamnya. Deru rindu tengah menerjang semua pertahanan rasa sakitnya.


"Kana, kamu ga mencoba membuka hati pada yang telah lama menunggu jawaban cinta kamu?" Aliyah berusaha hati-hati mengalihkan arah rasa Kanaya.


Kanaya terdiam.

Menarik nafas panjang.

"Entahlah, Hamid pernah bilang kalau cinta itu.naluri & naluri.itu bisa dialihkan. Meski Hamid pernah bilang kalau rasa cinta itu ujian" Kanaya seolah berbicara pada dirinya.

"Iya, dialihkan pada naluri yang lain, naluri untuk meng-esakan Allah, sejalan dengan ujian, itu sebenarnya cara Allah untuk memaksa hambaNya mendekat" seperti menghafal sebuah teori, Kanaya kembali menjelaskan pada dirinya sendiri. Meski sebuah teori kadang tak mudah diwujudkan dalam kehidupan.

Ya.

Antara teori dan kenyataan, ada sebuah jembatan bernama ujian kehidupan.


"Hamid sudah bahagia, sudah sampai pada cinta yang selama ini ditunggunya, apalah aku?" Kanaya menangis di pelukan Aliyah.


Dari kejauhan sepasang mata tengah memandang adegan pilu itu. Sepasang mata dari seorang pria yang masih menunggu Kanaya untuk mau membalas rasa di hatinya.

Cinta Seindah Sakura Part 23


Oleh : Rani Sulaeman Ummu Ahmad


Part 22


"Kak Hamid kenal Kanaya?"

"Semua masyarakat Indonesia yang ada di sini in syaa Allah saling mengenal, apalagi yang muslim, ada wadah pengajiannya tersendiri"

"Ooh"

"Ada apa Dik?" Hamid balik bertanya.

"Tangannya dingin sekali" Andiny menjelaskan.

"Kabar di group katanya baru sembuh, sudah 3 bulan sakit"

"Lama juga ya tiga bulan, berarti pas Kak Hamid pulang?" 

"Sepertinya begitu"

"Aku koq merasa kasihan ya begitu melihat Kanaya"

"Kenapa?"

"Kayak di drama-drama gitu, matanya terkesan sedih banget tapi bibirnya berusaha tersenyum"


Hamid tersenyum.  Ia tahu, Andiny hatinya halus dan peka. Ia tahu, Andiny selalu peduli.

Namun ia tidak mungkin bercerita tentang Kanaya.


"Sebelum pulang kita ke toko Asia dulu ya" Hamid mengalihkan pembicaraan.

"Toko Asia?"

"Iya, toko yang menjual bahan-bahan makanan khas Asia. Biasanya pemiliknya orang Asia yang sudah punya ijin tinggal permanen di sini"

"Ooh, mau belanja apa kak? Bukannya bekal dari tanah air kemarin masih banyak?"

"Hari Ahad.depan kita akan syukuran di pengajian. Syukuran pernikahan kita, sambil kenalan sama teman-teman pengajian"

Andiny faham.


Tersanjung, itu yang ia rasakan.

Setelah perjalanan pedih nan perih, dalam liku taqdir yang ia jalani, akhirnya Allah berikan lagi cahaya kebahagiaan. Allah tak pernah mendzalimi hambaNya.


Selalu ada maksud dalam setiap langkah kehidupan yang Allah berikan. Dan maksud Allah hanya satu, menyampaikan pesan bahwa Allah mencintai hambaNya.

Sering ujian itu hanya masalah rasa. Rasa yang berat menerima kenyataan.

Kenyataan bahwa hidup orang lain lebih lengkap, lebih bahagia, lalu ingin sepertinya.

Kenyataan bahwa apa yang Allah beri tidak seperti apa yang kita minta dalam do'a. Lalu merasa Allah tidak cinta.

 Padahal Allah hanya memberi yang terbaik saja, sesuai dengan kondisi setiap hamba, melalui perhitungan ilmuNya yang Maha Luas.


Ya, semua ujian adalah tentang rasa, ketika tidak mau menerima.

Semua ujian adalah tentang rasa ketika tidak mau berbaik sangka.

Karena musibah dan bahagia pasti akan datang silih berganti, menyapa.setiap manusia yang pernah tercipta, entah ia beriman atau tidak.


Lihat saja drama-drama atau film di layar kaca. Bukankah ceritanya selalu juga tentang pedih perih dan bahagia? Padahal pemerannya mungkin jauh dari iman.


Atau tengoklah kisah indah mereka yang dijanjikan surga.

Adakah lepas dari derita dan bahagia? Tidak.


Yang membedakan adalah iman dan rasa.

Siapapun yang merasa bisa menerima kepahitan dalam hidup, beban dunia akan ringan baginya. Hanya saja, bagi mereka yang beriman, ringannya ujian dunia akan membuahkan surga. Surga di hatinya, dan surga kekal di akhirat nanti.


Andiny pernah merasa ujian yang teramat sangat berat. Ketika mimpinya hancur dan ia merasa kecewa. Ketika ia harus berjuang dan ia merasa lelah luar biasa.

Rasa, rasa dan rasa. Itulah ujian yang sesungguhnya. Merasa tidak mau menerima taqdir yang ada, itulah kepahitan yang paling kelam.


"Kita naik Sbahn yang ini" Hamid mengajak.

Andiny mengikuti.

Hamid mendorong stoller. Utsman tertidur. Utsman yang harus terpisah dari Umar. Inilah pilihan. Pilihan yang menyulam taqdir berikutnya. Sebagai ibu, Andiny masih dan selalu merindukan Umar. Apalagi ketika menyaksikan kasih sayang Hamid yang melimpah. Namun ia tahu. Umar di belahan bumi sana, juga mendapatkan cinta yang melimpah dari nenek dan orang tua angkatnya. Paman Utsman & Umar sendiri.


Hamid tahu tentang kerinduan itu. Namun ia tak bisa melangkah banyak. Karena keluarga paman Utsman & Umar, bukan wilayah yang boleh ia sentuh. Ia hanya bisa berusaha membuat bidadarinya bahagia.


"Kita turun di sini" Hamid mengajak Andiny mendekati pintu kereta.

Mereka turun & berjalan ke arah lift.

Sama seperti di pusat kota. Di sini suasana kota tua masih terasa. Meski tak semegah.di pusat kota.

"Andin pikir pusat kota & sekitarnya itu suasananya metropolis, ternyata tidak" Andiny menikmati suasana di sekitarnya

"Jerman Selatan itu kabarnya daerahnya paling bagus dibanding daerah lainnya. Nanti semoga Allah kasih rizqi & kesempatan, kita akan lihat suasana kota tua yang sebenarnya"

"Aamiin"

 Hanya itu yang Andiny ucapkan. Bagi Andiny,semua ucapan dan harapan baik adalah do'a.


Mereka berjalan ke arah sebuah toko. Benar seperti namanya. Semua bahan-bahan masakan Asia ada di sini. Ada yang khas Thailand, Vietnam, Philipina, termasuk makanan-makanan Indonesia juga ada"


"Kak, nanti kita masak?" Andiny bertanya.

"Iya, Kakak ingin masak soto mie"

"Hanya itu?" Andiny bertanya.

"Nanti setiap keluarga biasanya akan membawa masakannya masing-masing"

Andiny mengerti.


Di kasir, Andiny memperhatikan semuanya. WaoW ... Harganya lumayan berlipat dari harga yang di tanah air. Wajar.


"Kita langsung pulang?" Andiny bertanya.

"Iya, kasihan Utsman, pasti lelah"

"Utsman dari tadi tidur koq"

Andiny menjelaskan.


Andiny menatap Utsman yang tengah tertidur.

Pada saat yang sama, dua mata juga tengah menatap Andiny. Mata lembut yang menyimpan luka mendalam.  Mata Kanaya.

[11:51, 2/26/2022] Rani: Sakura Bumi Eropa

(Oleh : Rani Sulaeman Ummu Ahmad)


Part 23


"Coba dong ceritakan bagaimana pertemuan pertama" pinta Zuhdan, yang bertugas sebagai MC pada acara penyambutan dan syukuran Hamid-Andiny di Aula masjid Turkey di Freiman.


Hamid tersenyum menanggapi.

Didekatkannya mike ke dekat bibirnya. 

Senyum itu seolah tengah membawa hati Hamid terbang menuju kenangan.

Ya. Kenangan adalah tempat kembali mencari apa yang dirindu hati.

Kenangan adalah pelajaran untuk perjalanan ke depan.

Kenangan adalah cermin dari apa yang terjadi kini.

Kenangan adalah hadiah dari Allah yang Maha Indah agar sang hamba bisa menikmati keindahan yang telah berlalu.


"Pertama kali melihat Andin itu ketika pertama kali adik perempuan saya, Nura mengajaknya menginap di rumah. Wajahnya melukis kesedihan. Wajah seperti Hani be hatci, lebah kecil yang mencari induknya. Dan sejak melihat wajah itu, entah kenapa, ada perasaan ingin melindungi. Mungkin itu isyarat dari Allah ya"


"Nah, ceritain juga dong saat pertama kali nembak" Daniel menggoda.


Hamid memandang Andiny penuh kasih sayang.

Andiny tersipu dalam senyuman.


"Nah, saat pertama kali nembak, langsung ditolak, malah dibilang -ngga mungkin kakak adek nikah-"

Andiny reflek mengambil mike dari Hamid.

"Iya, aku kaget banget pas Kak Hamid mengungkapkan perasaannya. Karena aku pegang perkataan bapak. Waktu itu Hamid dan Nura mengantarku ke rumah, ngambil baju saat mau nginep, Kak Hamid ketemu bapak,pas pamitan, bapak berpesan, anggap keluarga Nura sebagai keluarga sendiri, hormati & berlalu sopan. Sejak saat itu aku pegang banget tuh perkataan bapak kalau keluarga Nura adalah keluargaku sendiri, kakaknya Nura ya kakakku, adiknya Nura juga adiikku. Apalagi ibunya tak membedakan aku dengan semua anaknya. Aku benar-benar merasa bahagia jadi bagian keluarga mereka. Makanya kaget pas Kak Hamid bilang ingin menikahi bahkan mau menunggu"


"Tapi akhirnya nikah juga ya, bagaimana ceritanya?" Layla bertanya.

"Qodarullooh, Allah mentakdirkan aku ketemu alm Mas Adlan. Ceritanya tragis, sepuluh hari menjelang pernikahan Adlan koma sampai berbulan-bulan. Mungkin Allah menghendaki Utsman & Umar terlahir. Belum setahun usia Utsman dan Umar, Mas Adlan meninggal. Aku tidak pernah berfikir untuk menikah lagi. Hanya berfikir ingin membesarkan Utsman. Termasuk ketika Kak Hamid pulang untuk Berta'aruf dengan anak teman Ibu angkat aku. Tapi ya namanya juga jodoh, Kak Hamid malah melamar aku"


"Jadi Utsman itu kembar ya? Kenapa ga dibawa ke sini?" Layla penasaran.

"Neneknya meminta Umar untuk diasuh oleh pamannya Umar & Utsman yang divonis dokter tidak akan punya keturunan" sedikit serak suara Andiny menjelaskan


Suasana tiba-tiba hening.

Reflek tangan Hamid memeluk bahu Andiny. Mencoba memberi kehangatan, mencoba menyerap semua duka yang tersirat di hati bidadarinya.


Semua terharu melihat adegan itu.


"Hebat nih Kang Hamid tetap setia dan tak pindah ke lain hati" Faris bertepuk tangan, mencoba mengganti aura suasana.

Semua ikut bertepuk tangan. Seolah riuh tepuk tangan itu memanggil agar suasana bahagia datang kembali.

Hamid tersenyum. Andiny juga.

Utsman dari tadi tengah asyik bercengkrama dengan Alma.

Semua mata nampak haru bahagia, kecuali sepasang mata milik Kanaya. Ada perih terpancar yang tak bisa disembunyikan.

"Mba Kana, mba baik-baik saja? Mba nampak pucat dari tadi" Aliyah, seorang mahasiswa pasca sarjana, tampak khawatir melihat Kanaya.

"Aku baik-baik aja koq, hanya masuk angin, lagi banyak.tugas, sama ngurusin tiket dll.untuk papa mama sama kakak yang mau datang"

"Waah, suatu kehormatan nih kalau nanti kita bisa ketemu papa mama Mba Kana".

Kanaya hanya tersenyum. Getir.


"Oke, sebagai closing statement, Kang Hamid dan Andiny, ada yang mau disampaikan, untuk keluarga pengajian muslim di sini dan juga keluarga yang tersambung lewat Skype di tanah air?" Zuhdan mengarahkan acara.


"Baiklah, terimakasih Zuhdan, juga seluruh keluarga pengajian yang hadir saat ini. Terimakasih juga untuk keluarga yang ada di tanah air.

Satu hal yang ingin saya sampaikan adalah, seberat apapun sebuah ujian, tetaplah berbaik sangka kepada Allah. Karena Allah sesuai dengan persangkaan hambaNya & baik sangka adalah kendaraan terbaik menuju apa yang kita cita-citakan. Saya bertahun-tahun diuji dengan perasaan cinta yang saya sendiri heran, kenapa tak hilang-hilang. Saya sudah berusaha untuk melupakan, untuk mencari pengganti, apalagi saat tahu kalau yang kita cinta tengah bahagia. Sakit banget rasanya, saya sudah berusaha bangkit, tapi tak bisa. Perasaan cinta ini bukan sesuatu yang bisa kita kontrol, tapi murni titipan Allah yang bisa datang dengan berbagai jalan. Ada yang jalannya lewat ketemu terus, ada yang lewat logika, ada banyak macam jalan. Karena semuanya dari Allah, maka satu-satunya jalan keluar adalah mengembalikan pada Allah. Melihat, seperti apa cara yang Allah berikan untuk mengatasinya. Bagaimana caranya? Alihkan dan alirkan cinta kita kepada makhluk Allah yang lain yang lebih lemah, lebih membutuhkan. Anak yatim misalnya. Dan ketika kita mencoba mengembalikan semua ujian termasuk ujian cinta kita kepada Allah, maka bersiaplah menjemput keajaiban yang akan Allah berikan." Hamid diam sejenak. Menatap Andiny yang sedari tadi tersipu memperhatikannya.

"Keajaiban dari Allah itu ada, tapi itu hanya untuk orang-orang yang ikhlas menerima ujiannya. Bagi saya ujian terberat adalah mencintai wanita yang menganggap saya sebagai kakak kandungnya" Hamid mengakhiri dengan tertawa ringan.


Keluarga pengajian yang hadir serasa seolah larut terbawa. Dari pesan yang memuat kisah duka luka mengharu biru. Hingga akhirnya ikut tertawa ringan bersama Hamid.


"Teh Andiny, ada yang mau disampaikan?" Zuhdan bertanya.

Andiny menjawab dengan anggukan.


"Setiap kita akan menjadi jalan ujian bagi orang lain, terutama orang terdekat kita. Setiap perilaku, perkataan, keputusan yang kita ambil akan berpengaruh pada orang-orang di sekitar kita, entah yang dekat, entah yang jauh. Berhati-hati memang perlu, memperhitungkan segalanya juga harus. Tapi selalu ada sesuatu yang diluar jangkauan kita. Sesuatu itu adalah campur tangan Allah bernama taqdir. Ketika kita mencoba ikhlas dan bisa menerima taqdir, itulah awal kebahagiaan sejati. Karena bahagia itu bukan tentang mendapatkan apa yang kita inginkan, tapi ridho terhadap semua yang Allah berikan. Seperti sekarang, ketika aku benar-benar ridho dengan pilihan Allah, jujur aku katakan bahwa bahwa Allah benar-benar memberiku bahagia dan bahagia yang sebelumnya tak pernah dirasa tak pernah disangka. Termasuk aku bahagia banget bisa hadir di sini diantara keluarga pengajian Indonesia di negri orang. Terakhir, mohon do'anya untuk kami, untuk keberkahan keluarga kami, juga untuk calon bayi yang kini Allah hadirkan di rahim aku"


Hamid menatap bidadarinya. Entahlah. Ia seperti tengah terbang ke surgaNya.

Maka nikmat dari TuhanMu yang manakah yang kamu dustakan?


"Baarokalloohu" semua serempak menjawab. Suasana meriuh. Bahagia tersebar di sana. Bahagia yang menjadi sumber sakit yang paling sakit bagi Kanaya.

Kanaya berjalan ke arah toilet.

Aliyah memperhatikan sedari tadi. Aliyah membuntuti Kanaya.

Cinta Seindah Sakura Part 22


Oleh : Rani Sulaeman Ummu Ahmad


Part 22


"Kak Hamid kenal Kanaya?"

"Semua masyarakat Indonesia yang ada di sini in syaa Allah saling mengenal, apalagi yang muslim, ada wadah pengajiannya tersendiri"

"Ooh"

"Ada apa Dik?" Hamid balik bertanya.

"Tangannya dingin sekali" Andiny menjelaskan.

"Kabar di group katanya baru sembuh, sudah 3 bulan sakit"

"Lama juga ya tiga bulan, berarti pas Kak Hamid pulang?" 

"Sepertinya begitu"

"Aku koq merasa kasihan ya begitu melihat Kanaya"

"Kenapa?"

"Kayak di drama-drama gitu, matanya terkesan sedih banget tapi bibirnya berusaha tersenyum"


Hamid tersenyum.  Ia tahu, Andiny hatinya halus dan peka. Ia tahu, Andiny selalu peduli.

Namun ia tidak mungkin bercerita tentang Kanaya.


"Sebelum pulang kita ke toko Asia dulu ya" Hamid mengalihkan pembicaraan.

"Toko Asia?"

"Iya, toko yang menjual bahan-bahan makanan khas Asia. Biasanya pemiliknya orang Asia yang sudah punya ijin tinggal permanen di sini"

"Ooh, mau belanja apa kak? Bukannya bekal dari tanah air kemarin masih banyak?"

"Hari Ahad.depan kita akan syukuran di pengajian. Syukuran pernikahan kita, sambil kenalan sama teman-teman pengajian"

Andiny faham.


Tersanjung, itu yang ia rasakan.

Setelah perjalanan pedih nan perih, dalam liku taqdir yang ia jalani, akhirnya Allah berikan lagi cahaya kebahagiaan. Allah tak pernah mendzalimi hambaNya.


Selalu ada maksud dalam setiap langkah kehidupan yang Allah berikan. Dan maksud Allah hanya satu, menyampaikan pesan bahwa Allah mencintai hambaNya.

Sering ujian itu hanya masalah rasa. Rasa yang berat menerima kenyataan.

Kenyataan bahwa hidup orang lain lebih lengkap, lebih bahagia, lalu ingin sepertinya.

Kenyataan bahwa apa yang Allah beri tidak seperti apa yang kita minta dalam do'a. Lalu merasa Allah tidak cinta.

 Padahal Allah hanya memberi yang terbaik saja, sesuai dengan kondisi setiap hamba, melalui perhitungan ilmuNya yang Maha Luas.


Ya, semua ujian adalah tentang rasa, ketika tidak mau menerima.

Semua ujian adalah tentang rasa ketika tidak mau berbaik sangka.

Karena musibah dan bahagia pasti akan datang silih berganti, menyapa.setiap manusia yang pernah tercipta, entah ia beriman atau tidak.


Lihat saja drama-drama atau film di layar kaca. Bukankah ceritanya selalu juga tentang pedih perih dan bahagia? Padahal pemerannya mungkin jauh dari iman.


Atau tengoklah kisah indah mereka yang dijanjikan surga.

Adakah lepas dari derita dan bahagia? Tidak.


Yang membedakan adalah iman dan rasa.

Siapapun yang merasa bisa menerima kepahitan dalam hidup, beban dunia akan ringan baginya. Hanya saja, bagi mereka yang beriman, ringannya ujian dunia akan membuahkan surga. Surga di hatinya, dan surga kekal di akhirat nanti.


Andiny pernah merasa ujian yang teramat sangat berat. Ketika mimpinya hancur dan ia merasa kecewa. Ketika ia harus berjuang dan ia merasa lelah luar biasa.

Rasa, rasa dan rasa. Itulah ujian yang sesungguhnya. Merasa tidak mau menerima taqdir yang ada, itulah kepahitan yang paling kelam.


"Kita naik Sbahn yang ini" Hamid mengajak.

Andiny mengikuti.

Hamid mendorong stoller. Utsman tertidur. Utsman yang harus terpisah dari Umar. Inilah pilihan. Pilihan yang menyulam taqdir berikutnya. Sebagai ibu, Andiny masih dan selalu merindukan Umar. Apalagi ketika menyaksikan kasih sayang Hamid yang melimpah. Namun ia tahu. Umar di belahan bumi sana, juga mendapatkan cinta yang melimpah dari nenek dan orang tua angkatnya. Paman Utsman & Umar sendiri.


Hamid tahu tentang kerinduan itu. Namun ia tak bisa melangkah banyak. Karena keluarga paman Utsman & Umar, bukan wilayah yang boleh ia sentuh. Ia hanya bisa berusaha membuat bidadarinya bahagia.


"Kita turun di sini" Hamid mengajak Andiny mendekati pintu kereta.

Mereka turun & berjalan ke arah lift.

Sama seperti di pusat kota. Di sini suasana kota tua masih terasa. Meski tak semegah.di pusat kota.

"Andin pikir pusat kota & sekitarnya itu suasananya metropolis, ternyata tidak" Andiny menikmati suasana di sekitarnya

"Jerman Selatan itu kabarnya daerahnya paling bagus dibanding daerah lainnya. Nanti semoga Allah kasih rizqi & kesempatan, kita akan lihat suasana kota tua yang sebenarnya"

"Aamiin"

 Hanya itu yang Andiny ucapkan. Bagi Andiny,semua ucapan dan harapan baik adalah do'a.


Mereka berjalan ke arah sebuah toko. Benar seperti namanya. Semua bahan-bahan masakan Asia ada di sini. Ada yang khas Thailand, Vietnam, Philipina, termasuk makanan-makanan Indonesia juga ada"


"Kak, nanti kita masak?" Andiny bertanya.

"Iya, Kakak ingin masak soto mie"

"Hanya itu?" Andiny bertanya.

"Nanti setiap keluarga biasanya akan membawa masakannya masing-masing"

Andiny mengerti.


Di kasir, Andiny memperhatikan semuanya. WaoW ... Harganya lumayan berlipat dari harga yang di tanah air. Wajar.


"Kita langsung pulang?" Andiny bertanya.

"Iya, kasihan Utsman, pasti lelah"

"Utsman dari tadi tidur koq"

Andiny menjelaskan.


Andiny menatap Utsman yang tengah tertidur.

Pada saat yang sama, dua mata juga tengah menatap Andiny. Mata lembut yang menyimpan luka mendalam.  Mata Kanaya.

Cinta Seindah Sakura Part 21


Oleh : Rani Sulaeman Ummu Ahmad.


Part 21.


Sakura Bumi Eropa


Ada keindahan tersimpan dalam hadirmu.

Ketika putih suci berbaur cinta merah muda.

Hingga dedaunan pun pergi, merasa tak pantas hadir menemani.

Atas indahnya pesona yang tercipta.


Ada pancaran bahagia teduh mempesona.

Seperti teduh dari rimbunnya bungamu.

Kau yang hadir setelah dingin menusuk.

Dan sejak hadirmu, hanya ada musim semi di hatiku, di hidupku, 

Seolah panas, enggan menyapa karena hadirmu.

Seolah Hujan yang sering bertandang menemani daun beguguran, menahan derasnya demi mekarmu.

Dan dingin pun yang memutihkan semua dalam beku, seolah tak ingin mengganggu.

Dirimu sakuraku.


Dua keindahan terpatri padamu.

Ketika hadirmu ada di sini

Dibenua Eropa dengan segala indah,

Dengan segala teduh.

Tempat yang padanya tersemat kata pesona untuk mereka yang mematri cinta.

Sempurna dengan cantik megah hadirmu, sakura.


Dan kau adalah sakuraku.

Di sini.

Di bumi Eropa.


*


Hamid melihat binar mata indah yang semakin indah di wajah Andiny.

Ia tak henti memuji Robb-nya.

Atas cinta yang telah menyempurnakan hidupnya.

Bidadari yang telah lama ditunggu, kini menghangatkan hidupnya dengan binar binar cahaya yang gemerlap.


Tak henti juga Hamid beristighfar. Ia takut amanah ini melenakannya. Dalam indah bahana cinta. Yang telah terpendam dalam deru rindu, Hamid sadar, ada amanah berat dipundaknya.

Ia harus menuntun bidadarinya menuju tempat sejatinya. Menuju surga.

Dan perjalanan itu tak mudah, ada banyak ujian, ada banyak rintangan, ada banyak jebakan yang mengintainya.

Ah, bahkan kebahagian ini juga ujian. Apakah ia bersyukur atau kufur.


Betapa banyak orang yang terlena dengan harta. Betapa banyak orang yang terbuai dengan waktu. Berapa banyak orang menikmati semua tanpa sadar bahwa semua akan diminta pertanggungjawaban.

Lalu kemudian menangis tersedu, tersesak, saat Allah memintanya mendekat, mengingatkannya dengan menjauhkan darinya semua yang telah membuatnya terlena dan menjauh dari Robb-nya?.


Antara tasbih dan istighfar. Antara bersyukur dan memohon ampun. Antara bahagia dan bahagia yang kini tengah menyapa. Dalam kenikmatan, Hamid bersyukur. Dalam cinta, Hamid selalu memuja Robb-nya.

Maka nikmat dari Tuhan-mu manakah yang kamu dustakan?


Andiny tak bosan mengambil gambar. Memotret. Menyimpan keindahan dalam gadget. Membekukan waktu saat itu.

Namun sejatinya ia tengah menyimpan semesta anugrah bahagia dalam hatinya dalam hidupnya.


Hamid membiarkan bidadarinya menikmati keindahan alam yang Allah bentangkan.

Ia ingin Andiny bahagia. Itu saja.

Setelah panjang penderitaan yang menyapanya sepanjang jalan kehidupan, Hamid ingin memegang tangannya, membersamai Andiny dalam syukur dan bahagia.


"Umma aku laper" Utsman mengingatkan.

"Sini Utsman, Abuya udah siapin roti" Hamid menatap Utsman penuh kasih sayang.

"Aku ga mau roti" Utsman menggeleng.

"Ayo kita cari makan" Hamid mengajak.

"Umma, masih ingin foto-foto?" nanti hari Ahad kita ke sini lagi ya, sekarang kita ke toko Turkey dulu.

Andiny tak membantah. Selalu tak punya alasan untuk membantah. Hamid, telah memberikan semuanya. Cinta, perlindungan, hati, harta, juga tuntunan agama.


"Jauh ga kak dari sini?" Andiny bertanya.

"Kita kembali ke arah yang tadi, ga jauh"


Mereka berjalan, menikmati indah alam, menikmati indahnya hari, menikmati indahnya cinta, menikmati indahnya karunia Sang Maha Pencinta.


**


Diantara deretan pintu-pintu kaca dalam bangunan tua kokoh itu, ada satu pintu bertuliskan lafadz "halal".

Andiny melihatnya dengan jelas.

"Kita makan di sini" ajak Hamid.

Andiny mengikuti.


Tak jauh dari pintu.di sebelah kanan terdapat etalase kaca.

Terlihat jelas aneka menu makanan terpajang cantik memancarkan kelezatan.

"Umma mau apa?"

"Apa ya?, dipilihin abuya aja, soalnya umma kan belum pernah makan di sini"


Hamid memesan dalam bahasa Jerman. Andiny mengajak Utsman memilih tempat duduk.

Hamid menghampiri.

"Abuya sering ke sini?" Andiny bertanya.

"Sesekali aja"

"Kelihatannya ini masakan China Muslim ya?"

"Iya, ini rumah makan milik muslim Uighur yang sudah lama tinggal di sini"

"Masakannya beda ya sama Chinese food di Indonesia"

"Iya, di sini seperti paduan antara masakan Turkey dan masakan China" Hamid menjelaskan.


Seorang pelayan berambut pirang datang, membawa makanan yang dipesan.

Ada nasi dan ayam crispy, menu khas untuk anak-anak. Menu untuk Utsman.

Ada sepiring besar mie goreng yang dimasak dengan daging sapi kecap dengan beberapa potongan cabe hijau dan tomat plus taburan seledri.

Ada semangkuk mie yang sama, hanya saja berkuah.

"Umma mau yang kuah atau yang goreng?" Hamid menawarkan pilihan.

"Yang goreng aja"

Mereka menikmati.


"Ini menu apa namanya?" Andiny bertanya.

"Ini laghman" Hamid menjawab.

"Mie-nya tebal, enak dan khas" Andiny menjabarkan.

Hamid tersenyum. Ada bahagia tak terkira melihat sinar bahagia di diri bidadarinya.


Hidangan ditutup dengan sajian teh panas.

"Teh-nya enak" Andiny menikmati.

"Di sini nanti umma bisa menikmati aneka macam teh, tidak hanya daun teh dengan melati"

"Oh ya?" 

Hamid menjawab dengan senyum.


Usai menikmati makan siang. Hamid mengajak Andiny dan Utsman keluar.

"Kita naik kereta lagi?"

"Ngga, kita jalan aja"

"Utsman di stroller aja ya?" Hamid meminta. Utsman mengangguk.


Andiny menikmati pemandangan di sekitarnya.

Bangunan-bangunan tua yang kokoh dan megah di luar, namun di dalamnya tertata sarana-sarana modern yang menyajikan apa yang dicarinya.


Hamid mengajak Andiny masuk ke sebuah pintu.

"Di sini halal semua kan Kak?" Andiny berbisik meyakinkan.

"In syaa Allah, ini tokonya orang Turkey, banyak orang Turkey tinggal di kota ini"

Andiny mengangguk.


Sama seperti semua toko. Di toko ini banyak etalase terpajang. Termasuk etalase aneka daging di sudut sana.

Ada daging kalkun, daging ayam, daging sapi dan daging kambing. Ada juga etalase sosis dan aneka olahah daging tersendiri. Semua tertata rapi dalam etalasenya masing-masing.


Seorang penjaga toko menyapa. Hamid menjawab dalam bahasa Jerman. Andiny belum faham. Hanya mengamati.

Di ujung sana ada kasir. Seorang wanita cantik duduk di sebelahnya. Andiny terpesona dengan kecantikannya. Wajah yang putih kemerahan. Mata warna kaaramel yang indah,. Alis yang tebal. Hidung yang mancung dan bibir tebal yang proporsional. Benar kata orang, wanita Turkey,cantiknya nyaris sempurna.

Wanita itu cermat menghitung semuanya.


Andiny dan Hamid menuju pintu keluar.

"Assalamualaikum" seorang wanita muda menyapa.

"Wa'alaikum salam" Andiny dan Hamid serempak menjawab.

"Mba Kanaya, belanja juga mba?" Hamid bertanya.

Wanita bernama Kanaya itu menjawab dengan senyum.

"Ini Andiny, istri saya" Hamid mengenalkan.

Andiny tersenyum menatap Kanaya. Ia menjulurkan tangannya mengajak bersalaman.

"Andiny" begitu Andiny mengenalkan diri. Mereka bersalaman.


Andiny terpaku sejenak saat tangannya menyentuh tangan Kanaya. Dingin. Itu yang Andiny rasa.

Andiny reflek menatap wajah Kanaya lekat.

Bibir Kanaya masih melukis senyum. Namun Andiny menangkap kesedihan mendalam di mata Kanaya.

Mata tak pernah berdusta.

Cinta Seindah Sakura part 20


(Oleh : Rani Sulaeman Ummu Ahmad )


Part 20.


S Bahn, begitu nama untuk kereta api di sini. Tepatnya bukan kereta api, tapi kereta listrik. Hanya saja dalam benak masyarakat kita tetep namanya kereta api. Entah sejak kapan nama itu diwariskan.


Statiun kota cukup lengang. Hanya ada beberapa yang duduk menunggu kereta lewat. Semuanya berusia tua.

"Pertumbuhan penduduk di sini memang seperti segitiga terbalik. Orang tua lebih banyak dari pemuda dan anak-anak, angka kelahiran" begitu Hamid menjelaskan.


Sama seperti di luar. Di dalam kereta pun nampak masih lengan. Banyak tempat duduk kosong. 

Namun kekosongan itu perlahan berganti.  Di setiap stasiun berikutnya beberapa penumpang naik dan terus naik.

Nyaman. Itu yang Andiny rasakan. Beda sekali dengan comuter line yang biasanya selalu penuh sesak bahkan dari awal stasiun pemberangkatan.


Seorang wanita tua berambut perak mendekat. Ia tersenyum ramah pada Andiny. Andiny membalas dengan senyuman.

Wanita itu duduk di depan Andiny. Ia menatap Utsman yang tengah dipangku Hamid

"Deine kinder?" ia bertanya

"Ja" Hamid menjawab pendek

"Schoen vi die mutter, gleich"

Andiny tersenyum. Ia faham tapi tidak bisa menjawab.

"Sprechen sie Deutsch?"

"Nien" Andiny menggeleng.

"So, you speak English?" wanita tua itu bertanya lagi.

Andiny mengangguk

"Your son really looks like you"

Andiny tersenyum.


Utsman memandang ke arah wanita tua itu. Sepertinya ia menyadari kalau sedang dibicarakan.

"Hallo" wanita tua itu melambaikan tangan pada Utsman.

"Hallo" Utsman mengikuti apa yang ia lihat.

"Your papa is the best papa in the world, right?"

Hamid tersenyum. Utsman menatap Hamid seolah ia ingin mendapat penjelasan.


"Kita turun " Hamid mengingatkan 

Andiny reflek berdiri. Ia tersenyum & menganggukan kepala pada wanita tua berambut perak. 

"Bye" wanita itu melambaikan tangan pada Utsman.

"Babay" Utsman mengikuti.


Stasiun di bawah tanah ini terasa dingin dan sepi.  Dingin dan sepi yang tak terusir oleh terangnya cahaya lampu. 

"Sepi amet ya Kak"

"Karena bukan week end atau waktu kerja" 


Bertiga mereka berjalan menuju lift. Lift yang membawa mereka muncul di sebuah trotoar di jalan yang terlihat sepi. Andiny sama sekali tak menyangka kalau mereka akan muncul langsung di tempat umum yang terlihat seperti tempat wisata. Di negrinya, menuju stasiun adalah sebuah perjuangan. Ada jalan yang panjang yang harus ditempuh jika ingin menuju pusat kota atau tempat-tempat wisata.

Tidak bisa dibandingkan memang. Muenchen dikenal sebagai kota dengan system transportasi terbaik sedunia.

Setiap tempat tempat penting dan tempat wisata selalu terhubung dekat dan mudah dengan sarana transportasi umum. 


Muenchen, kota tua yang cantik. Bangunan-bangunan tua tampak menjulang. Tua namun kokoh terawat. Andiny terkagum-kagum.

"Umm mau berfoto di.sini?" Hamid menawarkan.

"Ngga ah nanti.aja"


Hamid mengajak mereka masuk ke sebuah bangunan tua.

Galeria. Itu nama yang terpampang.di luar bangunan tua itu.

Sama sekali tak menduga, bangunan yang terbungkus arsitektur tua di luar, di dalamnya tersedia fasilitas mewah dan modern.


 Andiny melihat aneka barang mewah di dalamnya. 

Baju-baju bermerek yang biasa hanya dilihat di iklan-iklan terpampang di depan mata.

Tidak hanya itu. Tas-tas super deluxe yang jika dirupiahkan  harganya mulai 8 sampai 9 digit, tersimpan cantik di etalase.

Hm, ternyata ada juga ya yang rela membelanjakan rupiah senilai 9 digit hanya untuk sebuah tas. Dunia memang menggiurkan nan menggoda.

"Kakak mau nyari apa?" Andiny bertanya.

"Mau ngajak dik Andin milih baju. Baju musim sebelumnya biasanya harganya turun"

"Makasih Kak, tapi kayaknya ngga"

Hamid terdiam.

"Kalau gitu kita cari kinderwagen aja"

"Di.sini?, ga ada tempat yang lebih murah?"

"Ada, tapi kita lihat dulu ya"

Andiny mengangguk.


Siapa wanita yang tak.suka belanja? Sepertinya hampir tidak ada. Namun Andiny masih belum familiar dengan harga yang ada.


Bertiga mereka menuju counter anak. Semua pernak pernik untuk anak memang selalu menarik. Angka angka yang tertera memang hanya satu atau dua digit saja. Namun otak Andiny tetap bekerja mengkonversi ke rupiah.


Hamid mengajak ke sebuah sudut. Ada beberapa model kinderwagen.

Andiny ragu.

"Kak, apa nanti harganya ga terlalu mahal?"

"Biasanya model lama suka ada diskon"

Andiny diam.


Akhirnya mereka bertiga keluar. Semula Utsman selalu dipangku Hamid atau dituntun. Kini duduk manis diatas stroller.

Namun.sesekali Utsman masih minta dipangku Hamid.

Andiny faham. Ada kehangatan dalam pelukan, dalam pangkuan Hamid yang penuh kasih sayanh. Itu membuat nyaman.


"Kita jadi ke toko Turkey?" Andiny antusias bertanya.

Pulangnya aja ya. Kita jalan-jalan dulu.

"Ke mana?"

"Olympia park"


"Apa itu?" Andiny penasaran

"Sebenarnya Olympia park adalah taman nasional untuk acara-acara budaya. Dulu pertama kali dibangun untuk olimpiade musim panas. Di sana ada danaunya, nanti kita bisa naik semacam perahu kecil atau bebek goes"


"Di sana ada tamannya juga. Luas sekali malah, dan sekarang lagi musim semi"

Hamid antusias menjelaskan.

Mereka kembali menuju lift. Menempuh sisa perjalanan dengan U bahn, kereta bawah tanah. Hingga tiba di halte Olympia zentrum mereka turun. Lalu berjalan menuju lokasi. Belum jauh mereka masuk ke dalam taman, Andiny terpesona melihat pemandangan dari kejauhan.

"Kak, itu sakura?" Andiny bertanya tak percaya. Binar matanya terang memancarkan takjub bahagia

"Iya itu sakura" Hamid menegaskan.

"Maa syaa Allah, ternyata di Eropa ada sakura juga?" Andiny masih tak percaya.

"Iya, sakura kan tanaman di negri empat musim" Hamid menjelaskan.


Rasa bahagia menjelma energi dalam diri Andiny. Rasanya ia ingin berlari. Tapi ia menahan diri. Ini bukan masanya.

Rasanya ia ingin sekali duduk di sana, di bawah bangku di taman sakura yang rindang.

Rindang kini bukan dedaunan, tapi bunga bermekaran.

Rindang kini bukan balutan hijau yang menemani, tapi cantiknya paduan pink dan putih cantik mewangi.


Alam telah Allah bentangkan dalam keindahan. Semesta cinta telah Allah tebarkan dalam kehidupan.

Sketsa taqdir telah Allah tuliskan dalam ilmuNya yang penuh kesempurnaan.

Semua hanya karena Allah ingin manusia mereguk nikmat kebahagiaan.

Semua hanya karena Allah ingin tunjukkan bahwa Allah mencintai hambanya.

Tangis pasti ada, tapi Allah pasti berikan tawa.

Nestapa pasti ada, tapi Allah pasti berikan sejahtera.

Duka pasti ada, tapi Allah pasti berikan bahagia.

Luka pasti ada, tapi Allah pasti berikan obatnya.

Hanya saja, kadang hamba menjadikan kesedihan, luka, duka dan derita menjadi ilah-ilah kecil dalam kehidupannya.


Lihatlah, Allah berikan dunia dan semesta untuk menunjukkan betapa Dia memuliakan manusia dan mencintai hambaNya.

Namun ironi itu ada, ketika sang hamba malah mencintai dunia dan semesta, bukan mencintai Sang Maha Pemberi.

Sakura Bumi Eropa Part 19


(Oleh : Rani Binti Sulaeman )


Part 19.


Malam telah jelaga.

Utsman terlelap.  Hamid mencari Al Quran. Ia membacanya. Tartil. Andiny menyimak. Hatinya tersentuh. Lantunan yang begitu merdu telah menggetarkan hatinya. Getar yang menjalar ke pelupuk. Perlahan melelehkan air yang kemudian menggenang di mata.

Kalam ilahi, jika dibaca dengan hati, akan sampai pada hati.


Andiny beranjak. Ia mengambil mushaf.  Bersama lelaki surganya menyenandungkan surat cinta dari Tuhannya.

Maka nikmat dari Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan.


Andiny ikut berhenti saat Hamid berhenti.

"Dik, tolong kakak disimak ya"

Andiny tak menolak.

Matanya mengamati huruf demi huruf dari kitab mukjizat yang dipegangnya.

Telinganya mendengar seksama apa yang dilantunkan lelaki.surganya.

Hati dan  fikirannya memastikan bahwa yang ia dengar, sama persis dengan apa yang dia baca.

Ia memastikan bahwa mata membenarkan telinga. Penglihatan membenarkan pendengaran.

Hingga 2 juz pun selesai.


Malam itu indah. Kian indah karena cinta adalah ibadah.


**


"Hari ini kita akan ke kota ya, kita ke toko Turkey & ke pertokoan, nyari kinderwagen untuk Utsman" usai meliat sajadah Hamid mengingatkan.

"Jam berapa kita berangkat?"

"Jam 9 aja, biar kereta sudah mulai lengang"

Rupanya dimanapun, jam kerja akan membuat transportasi umum padat penumpang.


Andiny bergegas ke dapur.

Dibukanya pintu lemari es.

Masih ada jamur kancing, brokoli & wortel. Ia membuka lemari dapur, memeriksa bahan dan bekal yang dibawa dari tanah air. Ada kembang tahu dan ikan asin juga abon.

Akhirnya Andiny memutuskan memasak capcay. Masakan sederhana kesukaannya.


Menu sarapan sudah siap. Ada capcay, telur dadar kornet, abon, sambal dan tak lupa kerupuk. Semua terhidang cantik di meja makan. Saatnya mempercantik diri sebelum makan. Begitu pikir Andiny.


Ia segera keluar dapur.  Mencuci dan membersihkan wajah serta memakai body cream untuk tangan dan seluruh tubuhnya. Itu kebiasaan yang diajarkan bunda dulu.

Repot memang. Tapi Bunda selalu disiplin dan Andiny terpaksa harus mengikuti aturan yang dibuat bunda dulu.

"Usahakan, setiap sarapan kamu harus sudah rapi seperti hendak berangkat kerja, walaupun nanti kamu tidak bekerja" nasihat bunda yang satu ini selalu terkenang di benak Andiny.

Baru setelah menikah, Andiny tahu apa maksud bunda.  Ternyata kadang perlu belasan tahun untuk memahami pesan dari sebuah kebiasaan dan disiplin yang ditanamkan.


Andiny ke kamar. Kamar sudah rapi. Tidak ada Hamid di situ. 

Andiny ke kamar Utsman. Menengok, barangkali Hamid tengah bermain bersama Utsman di kamarnya. Tapi tidak ada juga.  Andiny berjalan ke ruang tamu. Sepi dan kosong. Rapi, tidak ada tanda-tanda bekas bermain Utsman. Semua masih sama seperti tadi malam.


Akhirnya Andiny ke kamar mandi. Andiny menguping di balik pintu, rasa penasarannya mengajak ia untuk memgintip. Dan betul, Hamid tengah memandikan Utsman, tepatnya mengajari Utsman membersihkan diri.  Utsman lagi asyik menggosok punggung Hamid dengan kasa sabun mandi. Ia tertawa-tawa. 

"Abuya geli ngga?"

"Ngga"

"Tadi aku geli waktu digosok Abuya"


Rasa hati Andiny mengajaknya untuk bergabung. Namun Andiny urung. Biarlah itu jadi acaranya kaum Adam rumah ini. Begitu pikirnya.

Seperti semula, akhirnya Andiny kembali ke kamar, mengganti baju & menghias diri.


Setelah rapi, Andiny ke kamar Utsman. Memilihkan pakaian Utsman, itu yang ingin ia lakukan. Namun Andiny tersadar. Utsman hanya akan memakai pakaian yang dipilihnya sendiri.


Kembali ke kamar mandi, Andiny mengetuk pintu pelan.

"Sarapan sudah siap" ujar Andiny

"Iya Umma, bentar lagi" Hamid menjawab.


Andiny bersiap.

Sesuai rencana hari ini akan ke kota. Ya kota. Karena Andiny & Utsman tinggal di kota kecil. Andiny tidak bisa mengatakan tempat ini sebagai desa. Semuanya rapi, bersih, sebagian besar bangunannya bukan bangunan tua. Hanya beberapa yang bergaya bangunan tua. 

Setiap jarak tertentu, ada taman bermain untuk anak-anak.


Hidangan sarapan sudah tertata rapi di meja.

Piring, sendok & garpu sudah siap. Tiga pasang gelas yang berisi susu dan air putih juga sudah ada. Tinggal menunggu Hamid dan Utsman.

Andiny tak mau menunggu lagi. Ia menuju kamar Utsman.


Benar saja. Ada Utsman dan Hamid di kamar itu. Rapi dengan pakaian bersih. Hamid berdiri, Utsman disampingnya. Mereka tengah sholat duha.


Andini tertegun. Ada haru menyeruak di dada. Seperti biasa, rasa haru itu menjalar ke pelupuk, mengenangkan air di bening mata. Haru itu itu makin menderu, ketika mata Andiny tertuju pada tiga pigura foto yang tertempel di dinding, di samping dua lelaki yang tengah khusyu dalam sholatnya.


Foto Utsman tengah tersenyum ceria diapit dua foto yang sama besar ukurannya. Di samping kanan ada foto Hamid & Andiny. Foto pernikahan. Andiny yang cantik nan anggun dalam balutan gaun satin berwarna salem. Bersanding bersama Hamid berkemeja coklat tua keemasan. Andiny tersenyum dalam harunya.

Di sebelah kiri ada foto Adlan.

Entah kapan foto itu terpasang.


"Utsman harus tahu siapa ayahnya, meski mungkin belum sekarang waktu yang tepat untuk menjelaskannya, namun biarkan memorinya menangkap dan menyimpan wajah ayahnya" begitu dulu Hamid menjelaskan ketika mengajak Andiny untuk mencetak foto Adlan.

"Kak Hamid gapapa?" Andiny waktu itu meyakinkan.

"Kakak tetap menghormati Adlan sebagai ayah kandung Utsman. Utsman adalah satu-satunya harapan baginya di alam sana. Kakak hanya dititipi Allah untuk mengasuh, dan membimbing anak yatim dari bidadari yang Allah berikan"

Andiny menyandarkan diri di bahu Hamid yang lebar. Ada ketenangan dalam bahagia yang terkira. Seolah tiba-tiba beribu malaikat membentangkan taman surga diantara mereka. Taman dengan aneka bunga yang wewangiannya membius melenakan.


"Kakak ga nyesel nyesel milih aku? Kakak ga marah dulu pernah ku tolak begitu saja?"

"Cinta itu titipan dari Sang Pemilik Cinta. Kita tidak bisa merencanakan atau memilih kepada siapa mencintai. Kita hanya bisa meminta agar Allah menumbuhkan atau menghilangkan rasa cinta di hati kita"

"Kakak ga pernah tertarik atau berencana menikahi wanita lain setelah aku menikah?"

"Pernah dua kali ingin menikahi wanita lain untuk melupakanmu, tapi Allah selalu menghalangi, ternyata Allah hanya meminta kakak menunggumu. Ada pahala tambahan yang ingin Allah berikan"


Rasa haru itu terus bertalu.

Ah, ketika Allah mengambil sesuatu yang Dia titipkan, Allah akan mengganti dengan titipan yang lebih baik.  Allah tak pernah ingin hambaNya bersedih. Allah hanya ingin hambaNya mendekat padaNya.

Beruntunglah orang yang diundang mendekat padaNya.

Meski bentuknya adalah kepedihan dan penderitaan. Justru karena pedih, sang hamba akan mencari penawar. 

Justru dengan adanya derita, sang hamba akan mencari tempat bersandar.

Sementara pemilik penawar kesedihan hanyalah yang Maha Sempurna, dan tempat bersandar yang kokoh adalah Sang Pemilik Semesta.

Bukankah para bidadari penghulu surga juga hidup dalam duka derita. Bukankah Asiyah tetap tegar dalam siksa Fir'aun? Bukankah Maryam tetap tabah dalam deraan fitnah? Bukankah Khadijah tetap bersahaja di sisi Muhammad ketika seisi kota mencerca karena kalimat tauhid yang didakwahkannya?

Bukankah Fathimah tetap bersyukur dalam kekurangannya ketika semua kemudahan harusnya mudah ia dapatkan?


Sejatinya derita bukanlah siksa. Namun derita adalah cara untuk meraih cintaNya.

Berapa banyak hamba yang dibiarkanNya terlena & menjauh dariNya?


"Umma, aku dan abuya udah duha, umma belum" tiba-tiba jemari mungil itu hangat memegang jemari putih milik Andiny.

Sakura Bumi Eropa part 18


(Oleh : Rani Sulaeman Ummu Ahmad


Part 18.


"Ayo Mba Andiny & Mas Hamid masuk" Alma mempersilahkan.

Andiny masuk, meski hatinya penuh tanya.

Sama seperti di rumahnya. Kali ini pun Andiny berjalan melewati ruangan yang mirip sebuah lorong sebelum mendapati ruang tamu.

Sebuah ruang tamu yang bersih, rapi. Dengan sofa yang unik, dan dua buah lemari hias yang unik.


"Mau minum apa? Saft, tea, atau air mineral?" Alma menawarkan.

"Apa aja Mba, tidak usah merepotkan" Andiny menjawab.


Seorang bapak yang tampak berwibawa masuk menyapa.

"Mas Hamid, apa kabar? Kapan datang dari tanah air?"

Hamid berdiri menyambut.  Mereka berdua bersalaman, berpelukan, sama seperti layaknya brother yang lama tidak bersua.

"Alhamdulillah baik, Pak kami baru tiba tiga hari yang lalu" Hamid menjawab.

"Baarokalloohu lakumaa wa baaroka 'alaikuma, wa jama'a bainakuma fii khoir" pak Bagus mengucap do'a.

"Aamiin" 

Andiny ikut mengaminkan do'a. Meski hatinya merasa bimbang. Karena akad nikah sudah dilakukan hampir 3 bulan lalu.

Namun do'a keberkahan pernikahan seperti bunga-bunga yang ditaburkan di taman hati.  Memberikan indah bahagia tak terperi.


"Eh, pengantin baru udah kembali ke Aubing ya"

Seorang wanita setengah baya.  Datang membawakan nampan berisi minuman.  Berdua bersama Alma, yang datang membawa nampan berisi kue-kue kecil.


"Sudah dua hari Bu" Hamid menjawab

Setelah menyimpan nampan. Wanita yang masih terlihat cantik itu menyalami Andiny.

"Siapa namanya Mba?"

"Andiny, Bu"

"Ini si kecil ganteng, namanya siapa?"

Utsman menatap wanita itu ragu.

"Utsman"

"Utsman udah sekolah belum?"

"Belum" Utsman menggeleng.


"Alma, ambilin lego buat Utsman"

Alma menurut.

Tak lama membawa sebuah kontainer mini berisi lego.

"Main yuk" ajak Alma.

Utsman menurut.


"Oh iya Bu, ini ada oleh-oleh dari tanah air, sale pisang, terasi, ikan asin dan kencur" Andiny memberikan bingkisan

"Waaah, makasih banyak.  Barang langka nih" bu Bagus nampak senang menerima.


"Gimana perjalanan kemarin?"

"Alhamdulillah lancar Bu" Andiny menjawab.

"Masih jetleg ya?"

"Iya, begitulah, masih menyesuaikan"

Obrolan hangat nampak mewarnai pertemuan. Diselingi tawa canda ringan.


"Ayo, kita kita makan" ajak Bu Bagus. "Alma, Utsman, ayo"

Mereka menuju ruang makan.

Hidangan eropa tersedia. Ada juga masakan khas Indonesia, sayur krecek, gudeg, lengkap dengan opor.

"Ibu dari Jogja?" Andiny bertanya.

"Iya"

"Oh iya, Alma waktu jemput cerita kalau ibu adalah salah satu jamaah Ustadzah Dewi" Andiny teringat.

Bu Bagus tersenyum.

"Iya, ibu jamaahnya Ustadzah Dewi, bapak juga kalau ke Jogja suka bertemu & berdiskusi dengan Ustadz Mukhlis.  Tapi sekarang Ustadz Mukhlis fokus di Bogor ya, di rumah tahfidz Hamid"


Andiny sejenak tercenung. 


"Mudah-mudahan cabang yang di Bogor bisa berkembang pesat sama seperti di Jogja.  Hamid beruntung punya adik ipar seperti Ustadz Mukhlis"


Andiny hanya tersenyum. Sama sekali tak menyangka kalau Bu Bagus tahu semua. Sama sekali tak menduga kalau respon yang diberikan tentang Ustadz Mukhlis berbeda dengan anaknya, Alma.


Setelah sholat maghrib di rumah Pak Bagus. Hamid, Andiny dan Utsman pamit.

"Ini untuk Utsman" Alma memberikan sebuah bungkusan besar.

"Wah, jadi merepotkan. Terima kasih banyak" Andiny menerima.

"Ini ada lego koleksi adiknya Alma dulu, sekarang sudah ga di.pakai lagi. Sama ada permen dan cemilan untuk Utsman"

"Jazakumulloohu khoir"  Hamid berterima kasih dengan do'a.


Sama seperti saat berangkat. Kali ini mereka naik bis yang sama.

Utsman nampak mengantuk. Hamid menggendong di pundak.


Seorang wanita berambut pirang menyapa ramah dalam bahasa Jerman. Hamid menjawab. Mereka terlihat membicarakan Utsman.

"Diene kinder?"

"Ja"

Andiny hanya bisa menjawab dengan senyum.

Tidak terlalu faham akan apa yang dibicarakan.


Dua halte telah dilalui.

Andiny turun bersama Utsman.

Berjalan menuju rumah.

"Wanita pirang tadi nanya apa Kak?"

"Itu ... Kenapa anaknya ga pake stroller kalau di sini namanya kinderwagen"

"Oooh"

"Kak, kenapa Alma dan ibunya ga pake jilbab dan kerudung?" Andiny lanjut bertanya, melampiaskan rasa penasaran.

"Kalau di sini biasa.  Tidak semua muslimah Indonesia berjilbab dan berkerudung, tantangannya berat. Sebagian hanya menutup aurat saat ke pengajian atau event-event tertentu.  Hanya yang siap dengan segala macam resiko yang bisa istiqomah menutup aurat"


"Emang tantangannya apa?"

"Banyak, lingkungan pergaulan, sistem rekruitmen kerja, belum semua siap menerima, belum lagi pandangan orang yang cenderung negatif terhadap Islam"

"Hmm" Andiny mencoba memahami.


"Bukannya di sini banyak orang Turkey" Andiny belum faham, belum puas.

"Orang Turkey yang pertama kali datang ke sini adalah orang Turkey yang bekerja untuk membangun kerusakan setelah perang dunia kedua. Karena itu orang sini kadang memandang rendah. Walaupun sebenarnya banyak orang Turkey yang sudah memberikan kontribusi di bidang pendidikan maupun pemerintahan, tapi kebanyakan masih memandang sebelah mata, walaupun tidak semua. Sementara Turkey identik dengan Islam"

"Oh begitu"

"Tapi pandangan mereka terhadap muslim dari Arab malah berbeda" Hamid menambahkan.

"Koq bisa?"

"Muslim Arab biasanya datang ke sini di akhir summer, menjelang herb.  Mereka kesini datang untuk belanja. Kalau dirata-ratakan per-orangnya bisa menghabiskan 5000 Euro perhari. Angka yang sangat fantastis. Itulah kenapa mereka sangat menghormati"

"Oh begitu, ... Bener ya, uang bisa menentukan kedudukan"

"Itulah sistem kapitalis" Hamid menegaskan.

"Orang Arab juga banyak yang sengaja berobat ke sini di luar dua musim tadi" lanjut Hamid.


"Assalamualaikum"

Seorang lelaki berambut pirang bermata biru menyapa Hamid.  Di sebelahnya seorang wanita cantik berkulit putih, bermata karamel beralis hitam. Wanita yang menggunakan kerudung segi empat bermotif, khas Turkey.

"Wa'alaikum salam, brother" Hamid menjawab dengan senyum.

Mereka berjalan kembali ke arah yang berlawanan. Hanya berpapasan.


"Siapa itu Kak?"

"Brother Ahmed, orang Jerman yang menikah dengan wanita Turkey, beliau salah satu pengurus masjid Turkey yang kita suka ikut sewa untuk mengadakan pengajian"

Cinta Seindah Sakura Part 17


(Oleh : Rani Sulaeman Ummu Ahmad )


Part 17


"Nanti sore kita main ke Pak Lurah ya"

"Di sini ada lurah?" Andiny merasa heran.

"Pak Bagus, beliau orang Indonesia yang paling lama tinggal di sini, paling dituakan" Hamid menjelaskan.

"Oooh, kirain"


Perjalanan pulang selalu menyenangkan. Hanya Utsman yang nampak kelelahan. Matanya mulai terlihat sayu. Kantuk mulai menjemput.

Untungnya perjalanan tak lama.


Hamid mengantar Utsman tidur.

Andini membereskan dan menata belanjaan di dapur.

Ada perasaan bahagia yang menyelimuti sejak dua hari ini. Sejak menjadi orang dewasa berdua saja bersama Hamid.


Perasaan yang semula hanya karena luluh melihat kebaikan Hamid pada Utsman, kini telah berubah. Entah sejak kapan. Andiny tak tahu.

Andiny hanya tahu, cinta ini tak kalah indah. Cinta ini bukan kehendaknya. Tapi cinta ini adalah karunia dari Sang Maha Pencinta.


Teringat Andiny pada catatan bundanya tentang hidup berdua. Kali ini Andiny baru benar-benar merasakan makna setiap pesannya.


Andiny, kelak ketika kau menikah, menjauhlah dari bapak dan bunda. Bukan karena Bunda dan bapak tak cinta. Namun kalian harus menapaki indah kisah cinta manusia pertama, Nabi Adam yang mulia.


Lihatlah Nabi Adam bercengkrama berdua di surga.

Dan, kelak, ketika kalian hidup hanya berdua, itulah surga rumah tangga, kalian akan saling bebas membahagiakan satu sama lain tanpa harus sungkan, tanpa ada batasan selain hukum syara.


Namun dalam betdua, akan ada penggoda yang mengintai untuk mencuri bahagia. Maka itulah kalian harus waspada, berpegang bersama.

Mungkin pencuri bahagia itu adalah prasangka. Bisa juga ia sesuatu yang tak biasa. Maka berpeganglah berdua pada titahNya.


Andiny, lelaki adalah tulang punggung. Maka setelah menikah lelaki.surgamu lah yang akan membuat hidupmu tegak, lelaki surgamu lah yang kini menjadi tulang sumsum yang memproduksi setiap sel darah dalam kehidupanmu, lelaki surgamu lah yang menjadi pangkal cerita hidupmu selanjutnya. Jika semua baik, maka kau akan bahagia. Namun jika salah satu two terjaga, maka kelumpuhan akan menyapa.


Kamu tahu Andiny, mengapa wanita diciptakan dari tulang rusuk? Karena tulang rusuk adalah penyempurna dan penjaga.

Tulang rusuk menjaga jantung agar terlindung, sehingga ia bisa tetap memompakan darah segar dalam kehidupan.

Maka tugasmu sebagai tulang rusuk adalah menjaga agar debaran jantung itu tetap berirama, agar denyut nadi itu tetap ada.


Andiny, tulang rusuk juga melindungi paru-paru manusia.

Kumpulan gelembung ruang kosong itu begitu rapuh. Padahal tugasnya memompa udara begitu utama dan berharga. Maka ketahuilah Andiny, tugasmu adalah menjaga paru-paru lelaki surgamu agar tetap betnafas.  Agar gelembung yang rapuh itu terlindung kuat dibalik lengkung pelukmu. Sehingga nafas itu akan tetap berhembus. Dan kau pun akan seriring menikmati setiap hembusan nafas dalam tasbih bersamanya.


Satu lagi Andiny, tulang rusuk yang bengkok itu, Allah ciptakan untuk melindungi hati.  Hati, segumpal daging yang jika ia baik, maka seluruh tubuhnya akan baik. Pun sebaliknya.

Maka.tugasmu Andiny, adalah menjaga agar hati lelaki surgamu tak terluka. Karena jika ia terluka, maka rasa sakitnya akan meresonansi pada hidupmu, akan membahanakan sakit berlipat, perih yang semakin perih. Maka setialah menjaganya. Agar bahagianya melipat kuadrat menjadi bahagiamu.


Andiny, jika kau bertanya kenapa tulang rusuk itu bengkok. Kamu sudah tahu jawabannya. Namun satu hal, bengkok di ujung itu adalah pertanda tunduk merunduk.

Maka tetap tunduk pada lelaki surgamu selama ia tunduk pada perintah yang akan membawamu ke surgaNya.

Jangan pernah mencoba untuk menghentikan ketundukan. Karena itu berarti kau akan merusak kehidupan. Hati akan terluka, jantung akan tertusuk, dan nafas akan berhenti.


Andiny, tak henti bunda berdoa' agar lelaki.surgamu kelak adalah yang telah mencintaimu sejak lama dan akan membersamaimu saja selamanya.


Catatan yang tak pernah Andiny lupakan.


**


Hari menjelang sore.  Hamid, Utsman dan Andiny bersiap.

"Kita naik bis ya" Hamid mengarahkan.

Bertiga mereka menuju halte.

Halte yang teduh dan bersih.  Ada dua bangku memanjang bersebelahan.  Di salah satu dinding ada informasi dan jadwal bis.  Bis datang setiap 20 menit sekali. Dan tidak menunggu penuh.


Tidak sampai sepuluh menit menunggu, bis datang. 

Ada beberapa penumpang.

Ada supir dan seorang kondetur.

Tapi sang kondektur tidak mendatangi untuk memeriksa tiket. Nampaknya tugasnya hanya membantu penumpang yang kesulitan, sambil sesekali menyebut nama halte berikutnya.


Halte ketiga, Hamid mengajak turun.

"Mas, tadi koq kita tidak diminta bayar atau menunjukkan tiket?" Andiny penasaran.

"Karena di sini sudah sepaket. Mas sudah pesan tiket yang untuk family, tiketnya berlaku untung semua kendaraan umum, kereta, bis dan tram, kecuali kendaraan di tempat wisata"

Andiny faham.


Suasana sama seperti tadi pagi. Terasa sepi, tak.ramai seperti di kota-kota atau desa di tanah air. Hanya terlihat beberapa orang yang lewat. Rata-rata berusia separuh baya.


Tak jauh dari halte, rumah yang dituju tiba.

Sama seperti yang lain. Bangunannya sederhana.

Hamid memencet bel. 

"Ya" terdengar suara dari mikrofon.

"Hamid,"

Setelah itu pintu apartemen baru bisa terbuka.

"Rumah Pak Bagus di lantai dua" Hamid menjelaskan.

Andiny hanya mengangguk.

Di depan pintu Hamid memencet bel lagi.


Pintu dibuka, seorang wanita cantik berkulit sawo matang cenderung putih, khas Indonesia membukakannya.

Matanya hitam bersinar. Hidungnya mancung. Bibirnya agak tebal. Merah dipoles sedikit gincu. Rambutnya indah tebal bergelombang. 

Andiny menatap wanita yang membukakan pintu. Ia tak percaya melihat wanita yang tengah tersenyum padanya.

"Alma?" Andiny bertanya. Teramat sangat ingin meyakinkan diri.

Cinta Seindah Sakura Part 16

 Sakura Bumi Eropa

(Oleh : Rani Sulaeman Ummu Ahmad )


Part 16.


Berjalan ke tempat yang belum pernah ditapaki, ternyata bukan hanya membawa langkah pada hal baru yang dituju.  Tapi juga membawa akal untuk menalar, membawa hati untuk berdzikir.

Betapa banyak indah ciptaan Allah di bumiNya.  Betapa banyak nikmat karunia terlimpah pada semua makhluqNya.  Bahkan ketika sekalipun makhluqNya ingkar padaNya, pada semesta cintaNya. Tak henti Allah memberi.

Allah ArRohmaan. Maha penyayang pada semua yang di dunia. Pada yang terlihat dan pada yang tidak terlihat. Pada yang bergerak, dan pada yang tidak bergerak. Tak ada yang luput dari curahan kasih sayangNya.

Dan bentuk kasih terindahNya adalah hidayah. Jalan untuk mengenal dan mendekat padaNya. Agar kelak di surga bisa melihat indah wajahNya.

Tak henti tebaran hidayah menyapa manusia. Namun tak semua ringan ingin menyambutnya.

Tak bosan Allah menunggu manusia datang padaNya, menunggu taubatnya. Namun tak semua peduli dengan keselamatannya di akhirat nanti.


Padahal Allah telah memberi manusia akal sebagai jalan untuk menemukanNya. Tapi ternyata tak semua manusia menggunakan akal dengan sebenar tujuan penciptaan.

Jalan kehidupan memang pilihan. Allah telah berikan dua jalan. Kebaikan dan kebalikannya.


Jalan kebaikan terbentang dalam semesta ciptaNya, di setiap jengkal bumiNya. Termasuk di sini. Di bumi Eropa.

Andiny tak henti menatap pemandangan di sepanjang jalan. Ini bukan kota. Tapi ini juga tidak bisa dianggap desa.  Semua fasilitas modern tersedia. Namun bangunan-bangunan rumah yang dijumpai sederhana. Tak nampak kemewahan terlihat dari luarnya. Dan selalu diantara jarak dari rumah ke rumah, dari apartemen ke apartemen, terdapat taman-taman indah tertata.

Bersih, rapi, nyaris tak ada sampah tercecer.  Tempat sampah tersedia dalam jarak teratur. 

Hanya saja Andiny masih merasa asing. Asing melihat orang-orang yang ia jumpa.

Orang-orang yang selama ini hanya ia lihat dalam layar kaca.


Beberapa ramah menyapa "Guten tag" mungkin yang sering bertemu dengan Hamid sebelumnya. Begitu pikir Andini.

Hamid, Andiny dan Utsman berjalan. Jalanan yang sepi, karena bukan jalan utama. Utsman dan Hamid nampak gembira. Sesekali mereka berlomba. Lari saling kejar. Lantas sama-sama menunggu Andiny.  


Akhirnya mereka tiba ditempat yang dituju.  Sebuah toko bertuliskan EDEKA. 

Hamid mengambil troli belanja.

Mendudukan Utsman di bagian depan.

Andiny mengikuti kemana Hamid pergi.

Hamid menunjukkan semua yang biasa ia beli.

Ia juga menunjukkan beberapa makanan yang mengandung zat makanan yang tidak boleh dimakan oleh seorang muslim.

Andiny mencocokannya dengan catatan yang ia pegang.


Beras, mie, pizza, ayam beku berlabel halal, ikan, roti, beberapa bumbu, coklat, dan aneka snack, memenuhi keranjang belanjaan.

Hamid mengajak ke kasir. Antrian tidak terlalu panjang. Semua meletakan belanjaan di meja berjalan. Ada sekat untuk masing-masing customer. Andiny memperhatikan.

Tugas kasir hanya sebagai kasir yang menghitung belanjaan. Sama sekali tidak membantu pelanggan seperti di negrinya.  Semua pelanggan mandiri melakukannya.


Utsman pulang dengan senang. Tangannya memegang coklat.

Ia sudah ingin memakannya. Tapi Hamid mengingatkan. Hanya boleh dimakan sambil duduk. Artinya, hanya boleh dimakan di rumah.

Sama seperti anak lainnya, Utsman mengeluarkan senjata utama, yaitu menangis.

Lembut Hamid memeluk Utsman.

"Kalau dibiasakan makan sambil jalan, nanti sudah besar  perutnya sakit, itulah mengapa Rasulullah bilang ga boleh makan sambil jalan. Sekarang Utsman pegang dulu aja ya"

Utsman masih menangis.

Namun pelukan Hamid lama-lama menenangkannya.


Mereka.berjalan pulang. Namun ke arah yang berbeda dengan jalan saat berangkat.  Andiny tak bertanya. Seperti biasa. Ia sepenuhnya telah percaya pada Hamid, lelaki surganya.

Sama seperti jalan saat berangkat. Jalan pulang juga terasa sepi.

"Kita ke spielplatz dulu ya" Hamid menjelaskan.

"Apa itu mas?"

"Taman bermain"

"Seperti TK?"

"Bukan, kalau TK itu kindergarten"


Tempat yang dituju sepi. Mungkin karena anak-anaknya masih sekolah.

Ada aneka mainan anak-anak yang biasa ada di TK.  Ada juga yang biasa terlihat hanya di tempat outbond, seperti jaring dari tambang besar. Ada rumah-rumahan kecil di sebuah pohon besar. Lengkap dengan tangga yang berlorong untuk menujunya.

Utsman dengan gembira langsung menuju ayunan. Seolah ia lupa dengan coklatnya.

Andiny duduk di salah satu bangku. Belanjaannya ia pangku.

"Letakkan saja, aman koq" Hamid memberi tahu.

Andiny ragu. Tapi tak ada pilihan lain selain ta'at.


Tak lama datang seorang anak sendiri. Andiny mengira, anak berambut pirang itu berusia sekitar sepuluh tahun. Anak.itu langsung menuju tangga dan lorong untuk menaiki rumah di dahan pohon. Tampak anak lelaki itu sangat menikmati.

Utsman asik bermain, Andiny menikmati pemandangan, melihat-lihat. 

Namun Andiny kaget, dua orang berseragam coklat muda masuk ke area bermain itu. Politzei. Andiny tahu, itu artinya polisi. Jantungnya berdebar kencang. Andiny melihat ke arah Hamid. Ia tahu, Hamid sadar akan kedatangan polisi itu. Tapi Hamid nampak tak peduli.


Polisi itu mendekat ke arah rumah di dahan pohon. Ia berbicara dengan anak laki-laki berambut pirang.

Akhirnya anak itu turun, kemudian pergi.

Dengan berdebar Andiny melihat semuanya. Seorang polisi melihat kepadanya. Andiny menganggukan sedikit kepalanya & tersenyum sebagai isyarat menyapa.


Namun sang polisi hanya memandangnya.


Akhirnya Andiny mendekat ke arah Hamid.

"Abuya, ayo pulang"

"Gapapa, polisi di sini selalu betpatroli, jika ada anak yang main di jam sekolah, apalagi tidak didampingi orang tua, akan disuruh pulang"

"Oooh" akhirnya Andiny lega.

"Bener ya kata orang, di sini lebih islami daripada orang islam sendiri" Andiny menyimpulkan.

"Dari apanya?" Hamid bertanya

"Dari kebersihannya, dari keamanannya, dari sikap menghargainya" Andiny menjabarkan.

"Apa betul hanya itu yang menjadi tolok ukur sesuatu dikatakan islamy?" Hamid seolah mengajak Andiny berfikir.

"Ngga juga sih, tapi Rosulullooh mengajarkan akhlak yang baik"

"Kenapa Rosulullooh berakhlaq baik, apa karena tradisi?, atau apa?"

"Ya bukan tradisi, kan tradisinya jahiliyah, tapi karena perintah Allah"

"Kalau menurut Umma, kenapa orang-orang sini bersikap baik dan menjaga kebersihan & keamanan? Apa karena tradisi atau karena perintah Allah?"

"Tradisi" Andiny pendek menjawab.

"Jadi, apa betul disini bisa dikatakan islami, sementara mereka tidak melaksanakan semua karena Allah?"

Andiny diam.

"Umma, yang membedakan seorang muslim dengan yang bukan adalah keimanan pada Allah, Sesuatu yang islami.adalah sesuatu yang disematkan padanya.apa yang dibawa oleh Rosulullooh, jadi apa yang mereka lakukan tidak bisa dibilang islami, karena mereka belum beriman"

"Tapi mereka melakukan apa yang dianjurkan oleh Rosululloh"

"Betul, karena Rosulullooh sikapnya sangat humanis, akhlaknya sangat mulia, jadi yang mereka lakukan adalah karena mereka menjunjung tinggi sikap humanisme yang terlihat sebagai akhlak"

Andiny mencoba mencerna.

"Kenapa Abuya bilang begini, karena Islam.itu tinggi, dan ketinggian itu karena beriman kepada Allah ta'ala, Allah yang maha tinggi. Tidak layak seseorang yang tidak beriman dikatakan lebih islami. Orang yang tidak beriman itu belum menggunakan akal sesuai dengan tujuannya yaitu untuk mengenal Allah, maka bagaimanapun, tetep orang muslim.itu lebih islamy dari yang belum muslim".

Andiny diam. Kalimat demi kalimat dicoba disaring dan dimasukkan ke dalam qolbunya.


"Akhlak mulia itu, ketika semua perbuatan dilakukan karena Allah, dan dicontohkan oleh Rosulullooh, akhlaq mulia itu melaksanakan hukum syara, ada nilai tauhid yang murni di dalamnya, karena Rosul diutus untuk membumikan tauhid" Hamid masih menambahkan.

Andiny masih mencerna semua kata, menyaringnya menjadi sebuah hikmah

Cinta Seindah Sakura Part 15

 Sakura Bumi Eropa

(Oleh : Rani Sulaeman Ummu Ahmad)


Part 15


Ada sepi menyapa ketika teman-teman yang tadi ada pamit pulang menuju rumahnya.

Ada do'a keberkahan yang ditinggalkan sebelum langkah kaki-kaki itu keluar.

Namun do'a nampaknya masih seperti bibit.

Denting sepi menyapa hati Andiny.

Ada hangat suasana yang telah ia tinggalkan jauh di negrinya.

Ada jiwa-jiwa tercinta yang harus rela ia terpisah datinya

Ada wajah-wajah yang kini hilang di depan pandang mata.

Ada senyum dan tawa bahagia yang kini tersekat jarak waktu dan langkah yang teramat sangat jauh.


Andiny melangkah ke arah jendela.  Disibaknya tirai jendela.

Gelap mulai menyapa.

Ada terang yang muncul dari setiap jendela.  Jendela dari rumah yang mengelilingi sebuah lapangan rumput yang cukup luas.  Lapangan rumput yang diisi beberapa tanaman kecil di tengah.  Ada juga beberapa pohon besar di pinggir lapangan, seolah ia menjadi penjaga.


Sepi. Tak ada suara.  Andiny menarik nafas panjang. Bersyukur memuji ilahi atas semua nikmat yang ia rasa kini.

Pikirannya jauh terbang mengenang sesosok bunda yang luar biasa.  Bunda Hajar.  Adakah dulu ia merasa kesepian di gurun sunyi sendiri dan hanya bertemankan tangis sang bayi?

Adakah lelah memaksa keluh terucapa ketika ia harus berlari-dan berlari.demi menyambung hidup sang bayi?

Adalah lelah yang lebih lelah dari perjalanannya?

Adakah sepi yang lebih sepi dari kisah hidupnya?


Seperti apakah sepi?

Sepi itu seperti bunyi denting yang tinggi. Tarian gelombangnya bisa meretak kaca hati, memeras air mata yang luruh memerih jiwa.

Namun jika dalam sepi digemakan cinta ilahi, maka sepi adalah karunia tak bertepi.

Karena sepi dalam gema cinta ilahi dentingnya mengundang semesta cintaNya untuk membawa bahagia.

Lihatlah karunia yang Allah berikan pada Bunda Hajar yang mulia.  Adakah yang lebih bermakna, lebih indah dari balasan yang ia terima sebagai hadiah atas tulus cinta ikhlasnya?


Andiny merenung. Melihat ke dalam hatinya. Mengukur cinta yang masih ada untukNya.

"Yaa Robb, dimanapun, asal bersamaMu, dalam cintaMu, aku ridho"


"Ada sesuatu yang mengganggu perasaanmu, dik?"

lembut suara Hamid di telinga Andiny.

Andiny menjawab dengan tatapan lembut penuh cinta.

Ada rasa syukur mendalam. Syukur atas kehadiran lelaki surga yang Allah berikan padanya.  Lelaki surga yang kini menatapnya penuh cinta. Cinta yang Allah titipkan untuk Andiny.

"Aku senang melihat pemandangan di sini. Sepertinya di vila-vila puncak" akhirnya Andiny bicara.

Hamid tersenyum. Kebahagiaan di mata istrinya melangitkan kebahagiaan di hatinya.

"Utsman mana?" Andiny bertanya.

"Utsman tidur"

Hangat tangan Hamid menggenggam lembut jemari istrinya.  Sepasang insan larut dalam ibadah surga cinta.

Cinta yang membahanakan bahagia.


**


Suara adzan terdengar merdu. Namun kali ini bukan terdengar dari masjid.  Hanya dari laptop yang menyala terbuka.

Hamid nampak tengah khusyu berdzikir.


Andiny tak berani mengganggu.

Ia turun perlahan dari peraduan.

Melangkah menuju ruang tamu.  Mengambil koper yang berisi makanan dan bekal-bekal dari tanah air membawanya  menuju dapur. Menatanya di kitchen set yang sederhana namun lengkap.  Andini memasak nasi.


Ia bergegas kembali ke ruang tamu. Membuka koper-koper yang tersisa. Mengeluarkan isinya dan menata rapi di lemari.

Ada beberapa pakaian Hamid rapi tergantung di lemari.  Ada beberapa jaket. 

Kini, isi lemari itu berbagi dengan baju-baju Andiny juga Ustsman.  Karena kini, berbagi adalah menjadi kewajiban yang membahagiakan. Betapa setiap kewajiban yang Allah tetapkan hanya membawa bahagia dan bahagia.


Kadang Andiny tak habis pikir. Kenapa manusia tak bisa membedakan antara kesenangan nafsu dan kebahagiaan hakiki. Kesenangan hanya sementara. Dan yang sementara itu ada dalam kebahagiaan abadi jika mau mengikuti semua titah Robbnya.  Betapa banyak manusia yang terlena dalam kesenangan semua dunia dari nafsu yang diperturutkan.

Andiny ingin mengungkapkan semua yang ada dalam pikirannya saat itu pada Hamid.

Namun Hamid tengah di depan laptop.  Ada headset melengkung menutup dua telinganya.  Nampaknya Hamid tengah mengisi pengajian.

Akhirnya Andiny melanjutkan tugasnya.


Hari mulai terang.

"Hari ini kita lihat-lihat dulu sekilas kota ini ya" Hamid berkata.

"Kak Hamid belum ngantor?" Andiny bertanya.

"Masih ada sisa cuti tiga hari"


"Alhamdulillah, hari ini kita ke mana?" Andiny bertanya.

"Kita ke beberapa toko, supaya nanti Dik Andin hafal"

Hamid mengeluarkan sesuatu dari dompet. Sebuah kartu ATM dan sebuah kartu dari karton yang dilaminating.

"Ini untuk belanja" 

"Dua-duanya?" Andiny bertanya.

"Iya, kartu ini adalah kode-kode bahan makanan yang tidak boleh kita konsumsi"

Andiny memperhatikan kartu yang dilaminating.

"Berarti selama dalam kemasannya ada kode ini, ga boleh dimakan ya?"

"Iya, kecuali yang ada tulisan vegetarisch, apa yang dimakan kalangan vegetarian, in sya Allah aman"

Andiny mengangguk.


Mereka bersiap. "Udara masih agak dingin, pake jaket yang tipis" Hamid mengingatkan.

Andiny mengiyakan.

"Utsman, hari ini kita jalan-jalan ya, biar sehat" Hamid lembut menyampaikan

"Jalan-jalan ke mana?"

"Lihat-lihat di sekitar, sambil nanti beli susu"

"Utsman mau susu beruang"

"Iya boleh, nanti banyak di toko"


Mereka keluar.  Di depan lift nampak ada wanita separuh baya.

"Guten Morgen" Hamid menyapa.

"Morgen" Wanita tua itu menjawab. "Daine Frau?" ia lanjut bertanya.

"Ya, Andiny, meine Frau" Hamid menjelaskan.

Andiny tersenyum dan menganggukan kepala setengah membungkukukan badan.

"Und daine kinder?" wanita itu menatap Utsman.

"Ya, Utsman, meine kinder" Hamid menjawab.

Wanita tua itu tersenyum. "So schoon".  Tangan wanita tua itu merogoh saku. Lalu mengeluarkan sesuatu. Permen-permen munggil berbungkus aneka warna.

"Vielendank" Hamid mengucapkan terimakasih.

"Bitte" wanita setengah baya itu menjawab.