Senin, 15 November 2021

Cinta Seindah Sakura

 Sakura Bumi Eropa

( Oleh : Rani Sulaeman Ummu Ahmad )


Part 10.


Sebuah syal sulam berwarna baby green bertabur bunga sulam terlipat rapi dalam kotak yang baru Andini buka. 

Andini terpana melihatnya.

Berapa lama waktu yang digunakan Nina untuk merajutnya?


Selain syal ada juga sepasang sarung tangan dengan warna dan model yang sama.  Sarung tangan tercantik yang pernah Andini lihat.

Andini mencoba mengenakannya. Pas. Sangat pas. Ya, karena Ia dan Nina mempunyai ukuran baju dan sepatu yang sama. Tentu Nina mengukurnya dengan ukuran tangannya  


Andini tahu kalau Nina sangat suka dan terampil merajut. Seorang yang cukup terampil tentu tidak memerlukan waktu yang cukup banyak. Tapi tetap saja, satu set rajutan rompi, syal, tutup kepala dan sarung tangan tentunya bukan hal yang mudah untuk dikerjakan dalam waktu singkat.


Andini melihat satu lagi bungkusan yang tertinggal di dalam box. Sebuah photobook.

Andini membukanya.

Ada rasa haru saat melihat lembar demi lembarnya. 


Foto-foto lama yang direpro. Difoto ulang lalu dicetak.

Di tata dan diedit satu persatu. Setiap fotonya diberi caption. 

Foto masa lalu, masa muda, masa SMP, saat teknologi Digital belum terlalu populer.

Nina adalah salah satu diantara sedikit orang yang sudah menikmati teknologi foto digital  lebih awal.


"Persahabatan itu seperti tanaman, perjumpaan adalah bibitnya, saling pengertian adalah pupuknya, saling memberi hadiah adalah bunganya, petunjuk Allah dalam Al Quran dan sunnah adalah matahari yang menyinari dan menghidupkannya, saling mendoakan adalah udara yang diserap dan dihembuskannya. Mimbar cahaya adalah buahnya yang kelak akan didapat saat di surgaNya".


Andini terharu membacanya.

Jarak dan waktu yang memisahkan ternyata tidak mematikan persahabatan. Andini merasa malu, ia merasa tak sebaik dan setulus Armanina. Ia memang masih menyimpan semua hadiah dan surat-surat juga foto dari Nina. Ia simpan di dalam koper kecil di gudang rumahnya. Kesibukan, ujian & perjuangan hidup terpaksa membuatnya demikian.


Arika dan Arina sedari tadi memandangi Andini. Andini tak menyadari.

"Ada apa Kak Andin?" Arika memberanikan diri bertanya.

"Ini photobook dari Mba Nina"

"Ini dari Mba Nina yang tadinya mau ta'aruf sama Kak Hamid?" Arika bertanya tak percaya.

Andini menganngguk menyodorkan dan memperlihatkan foto-fotonya.


"Kak Andin sahabatan sama Kak Nina waktu SMP?" Arina bertanya tak percaya.

Andini tersenyum mengangguk.

"Iya, nama panjangnya Armanina Syahida, kak Andin biasa memanggilnya Arma"

Arika dan Arina seolah tak peduli dengan jawaban Andini.


"Beda banget ya" Arika mengomentari.

"Bener kan aku bilang cantikan fotonya dari aslinya" Arina menimpali.

"Ga boleh begitu" Andini mengingatkan. "Ada orang yang kalau difoto tampak lebih cantik dari aslinya. Namanya wajah photogenic, ini biasanya cocok jadi model untuk produk2 fashion" Andini menjelaskan.


Andini membungkus kembali rajutan-rajutan hadiah dari Nina.

Arika dan Arina melihat. 

"Ini bagus banget" Arina memegang syal.

"Itu mba Nina yang merajut"

"Masa?" Arina seolah tak percaya.

"Armannina dari SMP suka merajut. Bagi dia sehari tangannya tak merajut mungkin akan terasa sakit. Kalau tidak ada target model rajutan, Arma akan membuat bunga-bunga kecil seperti ini" Andini menunjukkan.

"Rajin amet ya" Arika menimpali.

Andini tersenyum.


"Ada apa.ini, kayaknya lagi pada seneng" tiba-tiba Hamid ikut nimbrung.

"Ternyata Mba Nina itu temennya Kak Andini* Arina menjelaskan.

"Oh ya?" Hamid bertanya. Tapi sama sekali tak menunjukkan ekspresi kekagetan.

"Iya, sahabat SMP, nama Aslinya Armanina, Andin manggilnya Arma"

Hamid hanya tersenyum.


"Ini kakak bawakan oleh-oleh" Hamid menyerahkan dua bungkus asinan dan 1 kotak besar es krim.

"Dari mana Kak?" Andini bertanya.

"Abis jalan-jalan sama Utsman, sambil beli obat-obatan pribadi dan bumbu untuk di Muenchen nanti" Hamid menjelaskan.

"Obat-obatan?" Andini bertanya

"Iya, Maret - April itu masuk spring, musim semi, bunga2 mulai mekar, & polen biasanya nyebar dihembus angin. Beberapa orang tidak kuat, biasanya jadi flu & lemes. Kakak beli persediaan obat flu, vitamin & madu yang disana jarang ada" panjang lebar Hamid menjelaskan.

"Ooh" hanya itu yang sanggup Andini ucapkan.


*******************


Dan hari itu pun tiba.

Hari ketika Andini harus melangkah di sisi Hamid sepenuhnya. Tidak bersama keluarga yang penuh kehangatan. Bertiga mereka siap terbang.

Terbang menjemput impian.

Terbang meraih harapan kebahagiaan.

Terbang untuk bisa menabur kebaikan lebih tinggi lagi.

Terbang ke negri yang diimpikan banyak orang untuk berkelana di sana.

Terbang untuk menyimpan kenangan.


Bahagia dan haru mungkin sejoli yang tak terpisahkan. Dan sedikit kesedihan seperti sesuatu yang merekatkan.

Rasa itu berkecamuk.

Andini tahu ia akan merindu.

Merindu bapak dan mama

Merindu ibu, Nura dan adik-adiknya.

Merindu anak-anak asuhnya di dua rumah tahfidz.

Merindu kotanya, merindu negrinya.

Ah, tapi biarlah. Aku akan mengenangnya. Karena Allah ciptakan kenangan agar manusia bisa kembali melihat apa yang dirindu hati. Begitu Andini menghibur diri.


Bapak, mama, ibu, Nura sekeluarga juga Arika dan Arina mengantar ke bandara. Dinda dan Zamzam hadir bersama Umar.


"Ini bukan perpisahan, karena kita akan tetap bersama, akan tetap berbagi kabar dan cerita" Hamid menghibur Andini yang berkaca-kaca.

Andini menganngguk. 

Dipeluknya satu persatu orang yang ia cinta sebelum langkah membawanya terbang menjauh.

"Dinda, aku boleh peluk Umar ya?" pinta Andini

Dinda menganngguk.

Andini jongkok, mensejajarkan diri dengan Umar yang tengah dituntun Dinda.

"Umar anak.sholih, umma mau berangkat, jaga diri baik-baik ya"

Umar menatap tak mengerti.

Andini memeluk Umar erat.

Umar balas memeluk dan menangis.

Ya, Umar menangis.

Cinta Seindah Sakura

 Sakura Bumi Eropa

( Oleh : Rani Sulaeman Ummu Ahmad )


Part 9.


Mama Nina heran melihat keakraban antara putrinya dengan menantu temannya.

Namun ia lega, senyum di wajah anaknya telah kembali.

Tawa riangnya terlihat lagi.


Andini dan Nina terlihat beberapa kali selfie. Tak jarang mereka tertawa bersama. Sesekali terlihat serius.


"Umma" Utsman datang menghampiri ibunya.

"Iya sholih" Andini menghadapkan tubuh dan wajahnya pada Utsman.

Utsman menyodorkan coklat.

"Buka" pinta Utsman.

Andini pelan membukanya.


"Namanya siapa?" Nina bertanya

"Utsman"

Nina menyodorkan tangannya.

"Salim, aku Tante Nina" Nina memperkenalkan diri.

Utsman meraih tangan Nina, menciumnya.

"Udah sekolah belum? Nina mencoba mendekati.

Utsman menggeleng.

"Belum"


Utsman mengambil coklat yang sudah dibuka umma-nya. Ia lari mencari Arika dan Rina.


"Anakmu?" Nina bertanya.

Andini menganngguk.

Nina seolah ingin bertanya. Tapi ia ragu.  Andini memahami perasaan Nina.

"Iya, ayahnya meninggal setahun lalu, setahun lebih" Andini menjelaskan.  "Alhamdulillah, Allah berikan ayah pengganti" Andini menambahkan.

"Nin, kamu ga pengen nyusul  punya anak?" Andini bertanya.

"Pengen laah, do'ain ya, mudah-mudahan mama hatinya  terbuka, mau menerima Ryan" Nina memelas.

"Iya, aku do'ain" Andini mengiyakan.


Takdir ujung pertemuan adalah perpisahan.  Waktu adalah pengejanya. Sore itu, Nina dan mamanya pulang.

Andini memberikan oleh-oleh untuk Nina.

"Ini batik, nanti kalau kamu nikah sama Ryan, pake batik ini ya" pesan Andini.

"Makasih banyak Din, aku malah ga bawa apa-apa" 

"Kalau nanti ke sini lagi, kamu harus bawa sesuatu"

"Mau dibawain apa?"

"Undangan"

Nina tertawa.


Kedua ibu saling bersalaman. Saling memeluk sebelum berpisah.

Andini dan ibunya mengantar hingga kendaraan yang dibawa Nina berlalu.


"Alhamdulillah, legaa rasanya" ibu tersenyum. Berjalan sembari menggandeng menantunya.

"Andin seneng bisa ketemu sahabat lama".


****


"Kita harus menerjemahkan semua dokumen ke dalam bahasa Jerman, tolong disiapkan semua ya" Hamid meminta Andini.

"Iya Kak, nanti Andin siapin, semua ada di rumah bapak"

"Nanti sore kita ke rumah bapak ya" Hamid mengatur

"Iya Kak"


Semua dokumen telah siap. Hamid mengurus semua penerjemahannya secara online.


Teknologi makin canggih. Hidup manusia makin termudahkan.

Semua serba cepat. Sayangnya kecepatan laju teknologi juga memacu hidup manusia untuk serba cepat dalam hal apapun.

Hanya ada satu hal yang membuat waktu terasa berjalan lambat : penderitaan.


Derita adalah sunah qouniah. Ia pasti datang Allah jadikan derita sebagai saringan. Untuk memilih mana insan beriman, mana yang tidak. Juga untuk memilah, mana insan yang syukur,mana yang kufur.


Bagi mereka yang beriman, hidup akan selalu indah adanya. Derita adalah cara untuk melipatgandakan syukurnya menjadi sabar.

Bagi mereka yang bersyukur, derita dan duka tidak ada beda. Tak akan mempengaruhi semua sikap dan pilihannya.  Derita adalah cara untuk menunjukan pada Allah bahwa ia tetap setia meniti cintaNya.


Hamid mengurus semua persyaratan agar ia bisa membawa anak dan Istrinya ke tempat kerjanya. Ke negri Eropa.


"Nanti kita tinggal di Wiena, Mas?" Andini bertanya.

"Kita tinggal di Muenchen, sudah setahun mas tugas di BMW" Hamid menjelaskan.

"Muenchen?" Andini bertanya untuk menegaskan.

"Tepatnya desa kecil dekat Muenchen"

"Waaah, kita bakal tinggal di desa?" mata Andini berbinar.

"Iya, tapi jangan bayangkan desa di Muenchen sama dengan desa di dekat Jakarta"

Andini hanya tersenyum.


"Sini" Hamid menarik tangan Andini lembut.

Ia membuka laptop. Membuka aplikasi Google earth.

"Dari sini kita bisa lihat, kota kita nanti"

Hamid menelusuri dengan cermat. Andini terkagum-kagum.

Matanya berbinar. Dan Hamid selalu tak tahan melihat binar di mata Andini.

Dikecupnya bola mata indah itu lembut.

Andini hanya bisa pasrah dalam bahagia penuh cinta.


*******


Satu hal.yang membuat Andini cemas adalah Umar.

Namun ia tak mungkin mengajak Umar ikut pindah ke benua Eropa.

Umar selalu ada dalam do'anya meski bukan dalam pelukannya.

Umar selalu ada di hatinya, meski bukan di pangkuannya.

Umar selalu jadi salah satu penyemangatnya, meski hanya bisa dilihat fotonya.

Umar selalu menjadi kerinduannya meski Utsman selalu membersamainya.


"Apa yang sudah menjadi qodho Allah, kita hanya bisa menerimanya" begitu Hamid pernah menasehati.

"Ketika tangan kita tak bisa menjangkau apa yang kita cintai, tidak bisa mendapatkan apa yang kita rindukan, berarti tugas kita adalah mendo'akan dan rizqi kita adalah bersabar" Hamid melanjutkan.

"Aku tahu semua tak semudah yang bisa kita ucapkan. Tapi ridho dan menerima semuanya adalah cara yang benar. Ikhlas melepaskan adalah cara untuk mendapatkan kebahagiaan"


Andini hanya bisa diam. Ia tahu, ia faham.

"Bukan Kakak menggurui, Kakak hanya ingin kamu bahagia. Karena tugas kakak adalah membahagiakanmu" Hamid memeluk Andini.

Ada rasa tenang yang tiba-tiba datang. Seolah pelukan itu menyerap semua keraguan & kegelisahan.


Mungkin itulah yang dinamakan sakinah.  Cinta yang menumbuhkan ketenangan.

Sementara wawaddah adalah cinta yang menyuburkan kesenangan. Adapun rohmah adalah kasih sayang yang Allah taburkan dalam keberkahan.


Andini merasa bersyukur. Baginya Hamid adalah lelaki surga yang Allah kirim untuk menyempurnakan hidupnya.

Lelaki surga yang Allah pilihkan untuk membimbingnya.


Semua telah disiapkan. Pakaian dan seluruh perlengkapan. 

Hamid beserta anak dan istri tinggal menunggu waktu untuk terbang ke negri baru.

Dua pekan lagi.


"Kak Andini, ini ada paket, tadi ada kurir nganterin" Arika menyerahkan bungkusan.

Andini melihat paket itu. Dari Nina.

Ia membuka perlahan.

Cinta Seindah Sakura

 Sakura Bumi Eropa 

( Oleh : Rani Sulaeman Ummu Ahmad )


Part 8


Entah kenapa ketika pria mengerjakan pekerjaan yang dianggap pekerjaan wanita selalu lebih terampil, lebih ahli dan hasilnya lebih baik dari pekerjaan wanita.

Apakah karena  fitrah pria untuk selalu memimpin wanita? Hanya Allah yang tahu.


Demikian juga Hamid. Di rumah ini seolah menjadi chef yang sangat handal. Hamid yang multi talenta kali ini berhasil menyajikan hidangan lezat.


Semua menikmati. Termasuk juga Utsman yang makan dengan lahapnya. Kali ini Utsman tidak mau disuapin. Ia bersikeras makan sendiri. Mulutnya belepotan dan piring di meja makannya berantakan.

Arika dan Rina berusaha menahan tawa & menahan tangan untuk tidak membantu.

Mereka sudah hafal tabiat Utsman yang : tidak suka ditertawakan dan tidak suka dibantu.


Hamid sengaja mengajak Andini pindah ke rumah ibunya. Suasana baru mungkin akan membantu Utsman untuk bangkit. Utsman mungkin belum bisa mengungkapkan perasaan, termasuk rasa rindunya. Barangkali banyak kenangan di rumah Andini yang membuat Utsman terus merindukan ayahnya. Begitu pertimbangan Hamid. Selain itu ada Arika dan Rina yang bisa mengajak Utsman bermain saat pulang sekolah.

Walaupun begitu, Utsman meminta Andini membawa foto Adlan alm. Utsman sama sekali tidak boleh melupakan ayahnya.


Di rumahnya, meski tidak mau tidur bersama ia dan Andini. Hamid setiap malam membacakan hadits untuk Utsman dilanjutkan membacakan cerita yang bertemakan hadits.


Hamid mengajarkan do'a do'a sebelum tidur. Ayat-ayat yang dibacakan juga adab tidur. Utsman mengikuti. Tak jarang Umar banyak bertanya tentang banyak hal. Hamid sabar menjawab.  Setiap anak memang Allah fitrahkan untuk belajar. Itulah mengapa anak selalu banyak bertanya.


Do'a lain yang Hamid ajarkan adalah do'a untuk orang tua.

Hamid sengaja memangku Utsman. Memegang tangannya, mengajak Utsman menengadahkan tangan sambil memandang foto Adlan alm.

"Robigjfirly, wali walidaya, warhamhumaa kamaa robayanii shogiiro"


Untuk do'a ini, sengaja Hamid ajarkan sambil memangku dan memeluk Utsman. Agar Utsman  merasakan kehangatan dan kasih sayang seorang ayah. Begitu Hamid menjelaskan pada Andini.


Andini hanya bisa bersyukur dalam haru. Lantunan do'a tak henti ia panjatkan kelitak melihat semuanya. Sengaja Andini tak berada di sisi Hamid dan Utsman pada saat-saat seperti itu. Biarlah itu menjadi urusan dua lelakinya. Anaknya, dan suaminya.


**


Andini tengah membantu ibunya mencermati dan memilih beberapa motif batik dan brukat. Ada pesanan dari keluarga almarhum ayahnya Hamid. Sepupu Hamid mau nikah dua bulan ke depan.

Semua warna dan motif, cantik menarik. Andini sendiri sedikit kebingungan. Namun ia harus memilih lima terbaik dari sekitar dua puluh motif dan warna yang disodorkan.


"Assalamualaikum," pintu diketuk.

Ibu mertuanya bangkit hendak membuka.

"Biar Andini aja Bu", Andini mencegah.

"Itu mamanya Nina, biar ibu aja"


Ada desir cemas singgah di hati Andini. Desir yang ia coba usir dengan istighfar.

"Gapapa Bu, biar Andini aja"

Ibu mengalah.


Andini membuka pintu. Seorang wanita paruh baya bersama wanita muda tampak.di depan pintu.

"Wa'alaikum salam"  


Wanita muda itu menatap Andini. Andini menunduk, tak berani membalas tatapan.

"Dini? Andini Teja Kesuma?" wanita itu setengah berteriak menatap Andini.

Andini kaget. Bagaimana mungkin Nina mengenal dirinya. Mengenal nama lengkapnya. Nama ayahnya.


Andini mencoba mengangkat muka. Memberanikan diri menatap perempuan muda bernama Nina.

"Aku Arma, Armanina" Nina menegaskan jati dirinya.


"Arma? Armanina?" Andini menatap tak percaya.

"Kenapa kamu berubah banget?"

Kedua wanita muda itu berpelukan.


Mama Nina menatap menelisik Andini.

"Bu, ini Dini Bu, sahabat Nina waktu SMP" Nina menjelaskan.

"Oooh, nak Dini" mama Nina.seperti masih mencari memori dalam ingatannya.


"Ayo masuk, ini koq malah ribut di depan" tiba-tiba ibu sudah berada di sekitar mereka.

"Loooh, Andini sama Nina sudah saling kenal toh" ibu bertanya.

"Iya Bu, ini Arma, Armanina, sahabat Andini waktu SMP, cuma waktu itu Arma ikut ayahnya ke London dan Andini ikut bapak pindah ke Pontianak, jadi kita kehilangan kontak" Andini menjelaskan.


Tiba-tiba binar di mata ibu hadir kembali setelah beberapa hari ini menghilang.

"Maa syaa Allah, skenario Allah luar biasa ya" ibu tersenyum lebar. Bahagia melihat menantunya bahagia. Bahagia memang menular.


Andini mengajak Armanina masuk. Ibu mengajak mama Nina masuk. Mama Nina sepertinya masih belum mengerti apa yang terjadi. Ia masih mencoba memahami semuanya. Memahami keriangan putrinya yang telah lama hilang.


"Aku sebenarnya tidak mau ikut mama, cuma aku ingin menghiburnya" begitu Armanina menjelaskan.

"Aku bersyukur kamu kesini, alhamdulillah, akhirnya kita bisa ketemu" Andini menjelaskan.

"Dini, kamu beruntung, jodoh dan hidupmu, semuanya lancar" Armanina menatap Andini.

"Ngga juga, kita kan lama ga cerita, kamu ga tahu apa yang aku alami" Andini mengelak.

"Iya ya, lama kita ga cerita, sejak kehilangan kamu, aku ga punya teman untuk cerita tentang Ryan, mama selalu membenci Ryan" Armanina mulai terkenang.

"Ryan di mana sekarang?" Andini bertanya.

"Ryan di Makasar. Dia buka usaha restoran di sana" 

"Sepertinya kamu tidak bisa melupakan Ryan" Andini menebak.

"Iya, apalagi Ryan sudah berubah, ayahnya juga. Ryan sudah hijrah. Dia bukan musisi lagi, ayahnya juga sudah berubah, bukan pemilik beberapa club malam lagi. Bahkan beberapa club malam miliknya sudah dirubah jadi toko-toko busana muslim. Aku selalu berusaha meyakinkan mama, tapi selalu gagal. Entahlah. Sepertinya mama sangat membenci ayah dan ibunya Ryan" Armanina seperti membuka bendungan cerita duka yang selama ini ia tutup rapat.


"Kamu masih komunikasi sama Ryan?" Andini hati-hati bertanya.

"Masih, tapi tidak sesering dulu, terakhir Ryan bilang tetep akan memperjuangkan aku" 

Armanina diam. Andini juga hanya bisa diam.  Andini tahu, seperti apa dalamnya cinta diantara Armanina dan Ryan. Cinta yang tumbuh sejak di bangku SMP.

"Tapi mama terus berusaha menjodohkan aku dengan yang lain, meski aku selalu menolak, mama selalu bilang, coba dulu, temui dulu" Armanina menatap Andini.

"Dini, bantu aku ya" tangan Andini dipegang Armanina, erat.

"Aku berharap ini yang terakhir, aku harap mama bisa menerima Ryan, lewat nasehatmu"

Cinta Seindah Sakura

 

( Oleh Rani Sulaeman Ummu Ahmad )


Part 7.


Utsman benar-benar menikmati suasana baru di rumah barunya. Rumah Hamid.

Ia betah bermain dengan Arina dan Rika. Bahkan tidurpun bersama mereka.

Arina dan Rika merasa terhibur dengan lucunya tingkah polah Utsman.


Andini menikmati semuanya.

Menikmati keceriaan Utsman. Menikmati kebahagiaannya bersama Hamid. Menikmati menjadi bagian dari keluarga Nura seutuhnya.  Bagi Nura, kebahagiaan kakaknya, kebahagiaan Andini adalah kebahagiaannya. Kebahagiaan dua orang yang sangat dicintainya.


"Kak, hari ini aku yang masak ya, mau dimasakin apa?" Andini bertanya pada Hamid.

"Masakan andalanmu aja dek" Hamid tersenyum. Andini cemberut. Untuk masalah masakan, Hamid lebih piawai. 

"Kalau gitu kakak aja yang masak" Andini menyerah.

"Kita masak bareng aja yuk, buat semua"

"Masak apa?" Andini bertanya. Riang namun penasaran.

"Laghman, mie khas Uighur" Hamid menjawab.

"Emang Kakak pernah ke Uighur?" Andini penasaran.

"Ngga, di Austria ada rumah makan halal milik imigran Uighur" Hamid menjelaskan.

"Kakak nanya resepnya?" Hamid tertawa ringan.

"Nanti kalau Andin sudah pinter masak, Andin bakal langsung tahu bahan dan bumbu sebuah masakan, bahkan termasuk bumbu mana dulu yang dimasukan"

"Begitu kah?" Andini tak percaya.

"Tapi chef tertentu mencampur satu atau beberapa bumbu dulu sebelum dimasak, nah ini kadang yang disebut bumbu rahasia" panjang lebar Hamid menjelaskan.

"Ayo Kak" Andin mengajak.

Namun Hamid lebih kuat menarik Andini ke pelukannya.

Andini tak menolak.

Gelora cinta yang tertahan lama, akhirnya tersampaikan juga.


****


Mungkin karena tahu anaknya suka memasak, ayah dan ibu Hamid membuat dapur yang cukup luas. Peralatan yang lengkap. Dapur ini akan sepi kalau Hamid pergi. Lemari bahan mentahnya juga kosong kalau Hamid lama tak berada di rumah. 


Keadaan akan berubah ketika Hamid ada. Bagi Hamid, masak adalah salah satu cara untuk menikmati hari.

Seperti saat itu. Bersama Andini, Hamid menyiapkan semuanya.


Hamid membuat mie sendiri. Mie Udon. Lebih sehat, lebih kenyal, lebih enak dan lebih murah, meski lebih repot. Begitu kata Hamid.

Andini memperhatikan seksama, sambil sesekali siap membantu Hamid, melaksanakan apa yang diinstruksikan.


Ibu datang mengambil gelas. Menyeduh teh.

"Masak apa?" ibu bertanya.

"Mie Laghman Bu, Mie dengan variasi sapi rempah" Hamid menjelaskan. Ia menatap ibunya lembut.

Sang ibu menganngguk. Lalu berlalu.


"Andini temenin ibu dulu ya" Hamid meminta. 

Andini heran. "Ada apa Kak?"

"Ibu lagi gelisah, ada yang mengganggu hatinya"

"Apa ibu cerita masalahnya apa?" Andini bertanya hati-hati.

"Ibu tak kan cerita kalau kita ga nanya, itupun harus perlahan-lahan dan ga boleh mendesak, temani aja" Hamid meminta. Andini menta'ati.

Ia mencuci tangannya dan segera menemui ibu yang kini jadi mertuanya.


Ibu tengah duduk di sofa ruang tamu. Ia tengah memegang handphone. Tampaknya tengah berkomunikasi dengan seseorang.

Andini membawakan gula, cream dan sedikit camilan yang ada di lemari es.

"Bu, barangkali mau tambah gula ini Andin bawakan"

Andini menatanya di meja.

"Iya, terima kasih" 

Andini duduk di sebrang kursi ibu angkatnya yang kini jadi  mertuanya.


"Ngga bantu Hamid?" ibu bertanya

"Ngga Bu, Kak Hamid kayaknya lebih suka masak sendiri"

"Emang kalau sudah masak, Hamid suka susah diganggu"

Andini sudah tahu hal itu dari dulu. Tapi ia menghormati ibu mertuanya.

"Bu, kalau Kak Hamid, makanan kesukaannya apa?"

"Hamid sukanya masakan baru, resep baru yang ditambah-tambah sendiri"

Ini juga Andini sudah menduga.

"Waah, berarti Andin harus banyak belajar masak nih"

"Ga usah, Hamid paling suka lemon tea, tehnya teh tubruk, sajikan jangan terlalu panas, itu aja yang ia suka"

Andini baru mengerti kenapa di rumah ini selalu ada lemon dan teh.

"Oh gitu ya, nanti Andin coba" Andini mulai kebingungan, karena ibu sama sekali tidak terlihat gelisah.

"Ibu nampaknya lagi sibuk ya, ada pesanan desain baju bukan bu?" akhirnya Andini bertanya.

"Ngga, ini mamanya Nina nanyain Hamid, ibu sudah berusaha menjelaskan, tapi nampaknya dia belum terima"


Ada desir disertai cemas dan kaget yang melintas di hati Andini.

"Ibu tak pernah menjanjikan apapun, bahkan ngasih CV Hamid juga ngga, cuma pernah mengenalkan Hamid, itu pun foto keluarga, bukan sendiri" panjang lebar sang mertua memaparkan. Seolah tak ingin Andini berburuk sangka padanya.

"Pasti orang akan berharap banyak sih Bu pada Kak Hamid, itu wajar, tidak usah dicemaskan. Yang penting dari pihak kita kan tidak melakukan kesalahan" Andini mencoba menenangkan.

"Iya betul, tapi mamanya Nina tetep minta Hamid ketemu Nina dulu, ibu sudah katakan bahwa Hamid sudah menikah dan akan segera kembali ke Austria bersama istrinya, tapi mamanya Nina tetep meminta Hamid ketemu Nina dulu"

"Ya kalau sekedar ketemu gapapa Bu"

"Andini  ga takut?"

"Takut kenapa Bu?" Andini balik bertanya.

"Ga takut Hamid direbut orang?"


Desir cemas itu hadir kembali.

Andin diam. Melihat ke dalam hatinya. Iya, ia takut. Tapi ia ingin permasalahan ini selesai. Ia tak ingin ibu mertuanya terganggu dan resah. Ia mencoba menenangkan dirinya. Percaya sama Allah. Apapun yang terjadi percaya bahwa semua yang terbaik dari Allah.


*********


Seperti apakah cinta?

Tak ada yang tahu,

Kau hanya bisa menggambarkannya dalam bentuk hati.

Tapi cinta bukan hati

Hati hanya tempat terasanya cinta

Seperti juga tempat terasanya benci.

Hati adalah tempat rasa bertahta.


Cinta bukan hanya tentang bahagia

Karena tak jarang cinta pun menoreh luka.


Cinta bahagia tanpa duka adalah cinta yang telah menemukan taqdirnya.

Dan taqdir cinta adalah dikembalikannya pada Sang Pemberi Cinta.


Cinta yang tak kembali pada Sang Pencipta cinta seperti pedang yang terus mencari sarungnya.

Kau mungkin bisa memegangnya.

Tapi tak jarang kau pun terluka karenanya.


Maka persembahkanlah cinta untukNya saja. 

Agar nyata bahagia kan kau rasa.


******


Bandung : Baper yang Tak Terbendung

Rabu, 18 Maret 2020

Cinta Seindah Sakura part6

Sakura Bumi Eropa
(Oleh : Rani Sulaeman Ummu Ahmad )

Part 6.

Sudah sejak lama Andini merasa rumah Nura adalah rumahnya. Ibu Nura adalah ibunya. Kakak Nura adalah kakaknya. Adik-adik Nura adalah adik-adiknya.

Andini sudah hafal semua sudut-sudut yang ada di rumah ini. Hanya dua tempat yang tidak pernah ia masuki. Kamar Hamid dan kamar Hamdi.
Inilah pertama kali ia membuka kamar Hamid yang selanjutnya akan menjadi kamarnya.
Jika dulu ia sangat tidak peduli. Sangat datar menanggapi.
Kini ada getar-getar di dada dalam hatinya saat membuka pintu kamar itu untuk pertama kalinya.

Ada tanya yang menggelayut di hatinya.
Akankah ia bisa membahagiakan Hamid.
Akankah ia bisa menjadi bidadari untuk Hamid
Akankah ia bisa menjadi wanita sholihah dalam bimbingan lelaki yang dulu selalu dianggap sebagai saudaranya.
Akankah ia bisa mendampingi Hamid meraih semua cita dalam bahagia.
"Bismillaah" hanya itu jawaban yang Andini tancapkan untuk mengusir semua tanya yang mengundang keraguan.

Semerbak harum menyambut pemilik baru kamar itu.
Kamar yang rapi dan bersih.
Ranjangnya ditutup kelambu yang dihiasi bunga-bunga.
Putih dan harum bunga melati bertabur di atas ranjang itu.

Di salah satu sudut di dekat jendela ada sepasang kursi mengapit sebuah meja.
Ada bunga mawar merah, se dalam vas bunga kristal. Cantik.
Tidak hanya bunga. Di atas meja juga ada beberapa buku.
Andini tahu, Hamid memang sangat suka membaca.

Hamid memegang lembut tangan Andini. Menuntunnya untuk duduk di kursi itu.
"Sini, kakak ingin menunjukkan sesuatu"
Andini hanya menurut.
Tidak ada pilihan selain ta'at.
Ta'at yang ia harapkan dengannya akan memancing ridho Allah, hingga Allah berkenan memasukannya ke dalam surgaNya.

Hamid mengambil salah satu buku. Memberikannya pada Andini.
Andini terpana memegang buku  itu. Buku dengan cover Warna baby green. Sama seperti gaun yang ia pakai.
Ada setangkai mawar merah di atas sajadah berwarna pink muda. Itu gambar yang terlukis di cover buku.
Mata Andini menggenang membaca judul yang tertera di buku itu. Haru bahagia tiba-tiba menyergapnya saat ia mengeja kata yang tertera.
"Sajadah Cinta Untuk Andini"
Oleh : Abdul Hamid Syauqil Firdaus.

"Ini Kakak yang nulis?" Andini bertanya tak percaya.
"Iya" Hamid menjawab pendek.
"Terima kasih Kak" Andini tiba-tiba berlutut, mengambil tangan  suaminya dan menciumnya takdzim.
Hamid tak sama sekali tak menduga.
Namun refleks ia mencium ubun-ubun sang istri.
Khusyu ia meminta pada Sang Maha Pencipta.
"Yaa Allah, berkahillaah istriku. Ijinkan hamba membimbingnya menuju surgaMu. Ijinkan hamba menuntunnya dalam bahagia atas namaMu.
Yaa Allah, lindungi istriku, lindungi kami dari segala macam kesedihan, kemalangan, kejahatan dan hal-hal yang membuat kami menjauh dariMu. Laa haulaa wa laa quwata illaa billaah"

Ia meraih lengan Andini.
Mengajaknya bangkit, berjalan menuju ranjang.
Andini masih membawa buku itu.
Di atas ranjang ia masih membuka lembar demi lembarnya. Buku antologi puisi.
"Ini cara kakak menjalani ujian cinta yang Allah berikan. Kakak tuangkan semuanya dalam tulisan" Hamid menjelaskan.

Ada banyak rangkaian kata dalam keindahan.
Puisi cinta penuh kerinduan. Semuanya tentang Andini.
Tentang pengaduan Hamid pada Allah akan cinta yang Allah jadikan ujian untuknya.

Satu puisi yang Andini suka.
Ia baca ulang dan ulang lagi.

Di sini aku menghamparkan sajadah.
Menyimpan wajah hingga sejajar tanah.
Ijinkan padaMu aku berbisik ya Robb,
Meski ku tahu tak ada yang tersembunyi bagiMu.
Ijinkan ku mengadu padaMu ya Robb,
tentang ujian cinta yang Kau titipkan padaku.
Karena semua telah sedemikian berat, meski ku tahu Kau tak kan pernah mendzalimi hambaMu, dan aku hambaMu
Bukan hamba hawa nafsu.

Yaa Robb,
Andai mata ini telah lalai dalam melihat, aku ridho jika Engkau mengambilnya.
Yaa Robb,
Andai hati ini salah mencintai, aku ridho Engkau menghukumnya dengan ujian ini
Namun andai aku boleh meminta, aku meminta ridhoMu agar ia Kau sandingkan denganku.

Yaa Robb,
Telah Kau hadirkan berjuta wajah, namun wajah satu itu tak hilang jua.
Telah Kau perlihatkan aneka cerita, namun cerita tentangnya tak mampu terhapus jua
Telah Kau luksikan selaksa ceria,
 namun ceria tingkahnya tak ada yang mengalahkannya.

Yaa Robb ijinkan wajah ceria bahagia itu,
melukis cerita hidupnya bersamaku di atas sajadah ini.

(Untuk Andini)

Pipi Andini memerah.
"Kakak menulis puisi ini tujuh tahun lalu?" Andini bertanya tak percaya.
"Iya" Hamid menjawab dengan senyum.
"Anti selalu jual mahal" Hamid berkata.
"Bukan, karena kakak adalah kakakku, tak mungkin kita menikah" Andini mengelak.
"Anti ga punya kakak, ga punya Adik, Anti hanya sahabat Nura, dan jadi anak angkat di rumah ini" Hamid memandang Andini penuh cinta. "Kakak bersyukur, Allah mengabulkan semuanya setelah kakak menunggu sangat lama" ada bahagia tak terkira menyertai setiap kata yang terucap.
Andini menyandarkan kepalanya ke bahu Hamid yang bidang. Hamid memeluknya penuh kehangatan.
"Sholat hajat dulu yuk" Hamid mengajak. Dan Andini selalu ta'at. Tak ada alasan baginya untuk menolak.

**********

Pernikahan adalah ibadah terindah. Ada banyak sunah menggoda di dalamnya.

Pernikahan adalah penyempurna agama, karena ada ibadah berlimpah pahala yang ada dalam ikatannya.

Pernikahan akan jadi ibadah terlama, jika sepasang insan sanggup merawat cinta yang Allah titipkan.

Pernikahan akan menjadi surga ketika sang suami memimpin dengan aturan ilahi, mengikuti arahan Nabi dan kala sang istri menjadi bidadari yang selalu mensyukuri setiap apa yang ia dapati.

Pernikahan adalah ikatan surga yang menyatukan dua manusia. Maka jagalah, dan pastikan syaitan tidak bisa mencuri setiap kebahagiaan yang ada di dalamnya.
Jadikan ikhlas menghamba pada ilahi robbi sebagai kunci utamanya.

Ingat, syaitan akan selalu berusaha menyatukan yang belum halal untuk menikmati cinta,
dan selalu berusaha untuk memisahkan mereka yang telah halal diikat oleh cinta atas Nama Sang Pencipta ; Allah subhaanahu wa ta'ala
Maka berpeganglah selalu pada cinta dalam titahNya

Cinta Seindah Sakura part 5

Sakura Bumi Eropa
( Oleh : Rani Sulaeman Ummu Ahmad )

Part 5.

"Kamu baru pulang, mau ibu masakin apa?"
"Ngga usah Bu, Hamid udah makan"
"Gimana kabar Utsman dan Andini?"
"Alhamdulillah Utsman udah sembuh"
"Alhamdulillah, ibu ikut seneng dengernya"
Sang ibu diam sejenak.
"Ibunya Nina menanyakan tentang kelanjutan ta'aruf. Ayah Nina sakit keras, ibunya Nina ingin Nina cepet nikah"

Hamid diam.
Ia mencoba menatap wajah wanita yang paling dicintainya. Wanita yang telah mengorbankan seluruh hidup untuk kebahagiaan anak-anaknya.

"Bu, apa ibu pernah menjanjikan sesuatu pada ibunya Nina?" Hamid bertanya. Sangat hati-hati.
"Seingat ibu sih ngga, waktu itu sehabis reuni, d group rame untuk saling besanan lalu didata siapa yang masih punya bujang dan gadis. Ibu dikontak ibunya Nina"
"Apa ibu menceritakan sesuatu?"
"Ibu hanya cerita kalau ibu punya bujang yang lagi di Austria, ibunya Nina cerita kalau punya anak gadis yang siap nikah, ibu cuma bilang nanti akan ibu bicarakan dulu. Lalu ibu dikasih CV. Itu yang ibu kasih ke Hamid"

"Syukurlah kalau begitu. Kita do'akan saja, semoga Nina segera Allah pertemukan dengan jodohnya dan semoga ayahnya Nina lekas sembuh"
"Kamu tidak berniat melanjutkan ta'aruf dengan Nina?"
"Tidak Bu, Hamid udah bulat mau menikahi Andini, Hamid ingin jadi ayah Utsman yang yatim, semoga ini jadi jalan bagi Hamid agar kelak di akhirat berdampingan dengan Nabi saw" panjang lebar Hamid menjelaskan.

"Bagaimana dengan Andini?" ibu bertanya ragu.
"Menurut ibu bagaimana?" Hamid balik bertanya.
"Senyum dan matamu sudah menjawabnya" ibu menjawab sambil memeluk anaknya.
"Ibu tak kan pernah berhenti mendoakanmu, nak"
"Terima kasih Bu"

Hamdi, Mukhlis, Nura, Ibu, juga Hamid duduk mengelilingi meja makan. Ibu menyiapkan makan malam.
Hamid hanya menikmati secangkir kopi.

"Hamdi, kamu ridho ga, kalau aku nikah duluan" Hamid memandang adik kembarnya serius.
"Kalau aku ga ridho gimana?" Hamdi balik bertanya. Datar
"Kenapa ga ridho?" Hamid balik bertanya.
"Kenapa ya?" Hamdi berfikir.
"Soalnya ibu ingin kita nikah bareng sampai aku harus menunggu setahun lebih"

"Seberapapun kita menginginkan dan merencanakan, kalau Allah belum ijinkan ya belum akan terlaksana" Nura menengahi
"Iya kan, Mas?" Nura meminta dukungan suaminya.

Mukhlis tersenyum.
"Biar ibu aja yang memutuskan" Mukhlis menjawab singkat.
"Ibu melihat Maya masih belum siap, itu sebenarnya. Maya masih kekanak-kanakan" ibu menjelaskan.
"Apa Maya ga cerita kalau ibu memintanya banyak belajar tentang pernikahan?" ibu bertanya.
"Cerita sih Bu, tapi emang belum sempat karena urusan pekerjaan" Hamdi menjelaskan
"Tapi nanti sambil dijalani kan bisa sambil belajar Bu" Hamdi mencoba membela.
"Kasihan nanti Maya, dia akan banyak kagetnya kalau masih belum siap dan masih mementingkan karir" Ibu menjelaskan

Hamdi tak menjawab lagi.
Ia memandang kakak kembarnya.
"Jadi Hamid serius nih mau nikah sama Andini secepatnya?" Hamdi bertanya.
"Kalau kamu.ridho, ikhlas & bisa  ikut bahagia" Hamid menjelaskan. Walau bagaimanapun, ia tak mau melihat adiknya sedih dan kecewa.
"Serius?" Hamdi menegaskan ulang.
"Iya"
"Kapan"
"Pengennya sih sekarang" Hamid tertawa.
"Ya udah, mau minta kado apa? Aku beliin" Hamdi menantang
"Serius kamu ridho?" Hamid balik bertanya
"Jangan sampai aku berbalik pikiran nih" Hamdi mengancam.
Semua tertawa. Bahagia.

******

Andini bertamu pada neneknya Utsman dan Umar. Keluarga almarhum suaminya.
Umar tampak sehat dan montok.
Dua anak kembar itu bermain. Mereka seolah tidak tahu dan tidak menyadari bahwa mereka adalah saudara kembar.
Kerinduan untuk selalu bersama Umar, memeluknya erat, sering hadir di hati Andini.
Namun Andini hanya bisa menyampaikan rindu itu dalam do'a.

Melihat Umar terawat sehat, Andini bahagia.
Melihat Umar tersenyum riang, Andini senang.
Melihat Umar tersenyum padanya seraya memanggilnya dengan panggilan "umma" bagi Andini itu adalah karunia.
Meski Andini harus menjaga hati, menjaga sikap, menjaga jarak, agar tak ada satupun yang terluka.
Tidak dirinya.
Tidak mertuanya
Tidak juga Zamzam dan Dinda.

"Andini, apa kabar?" Dinda menyambut dengan pelukan.
"Baik" Andini menjawab, pendek.
"Maaf kami belum sempat menengok Utsman lagi" Zamzam menambahkan.
"Gapapa, alhamdulillah Utsman udah sehat" Andini menjawab seperlunya. "Umi ada?" Andini bertanya.
"Ada, aku panggilkan ya" Dinda berlalu.

Andini duduk di sofa.
Dulu ia merasa sangat bebas di rumah ini. Kini ia harus bisa menahan diri. Semuanya telah berbeda. Meski ikatan darah antara keluarga ini dengan anak-anaknya tak kan pernah pupus selamanya.

Zamzam dan Dinda menemani uminya menyambut Andini.
Umi tampak semakin tua dan lelah. Kerutan di wajahnya bertambah.
Andini menyambut wanita tua itu dengan sikap takdzim. Sama seperti dulu. Andini masih mencintai dan menyayanginya.
"Umi sehat?" Andini bertanya.
"Alhamdulillah" umi menjawab pendek.
"Ini Andini bawakan martabak kesukaan umi dan abi" Andini menyodorkan bingkisan.
"Utsman mana?" sang nenek bertanya.
"Lagi main sama Umar"
"Udah sehat ya. Alhamdulillah"
"Iya My, alhamdulillah dirawatnya cuma tiga hari" Andini diam sejenak.
"Maaf Andini baru menyempatkan menengok umi lagi, Andini seminggu ini juga belum bisa ke rumah tahfidz akhwat. Ada hal-hal yang harus Andini urus" Andini menjelaskan hati-hati.

Umi diam mendengarkan. Menyimak baik-baik. Menyerap semua kata yang sampai padanya.
"Umi, sebelumnya Andini minta maaf karena Andini ingin menyampaikan sesuatu" Andini menarik nafas panjang.
Ada beban berat di dadanya.

Umi masih diam menyimak.
Zamzam dan Dinda ikut diam dan menyimak. Seolah jantung mereka seirama dengan jantung Andini.
"Sampaikan aja Kak, tidak usah sungkan" Zamzam mencoba mencairkan suasana.

"Ada seseorang yang ingin menyayangi dan menjadi ayah sambung Utsman" hanya itu yang sanggup Andini sampaikan.

"Sejak pulang nengok Utsman di rumah sakit, umi sudah menduga" umi mulai berbicara.
Andini diam. Cemas menunggu jawaban selanjutnya.

"Umi bisa melihat kalau laki-laki yang menggendong Utsman itu lelaki yang sholih" umi kembali diam.
Diam yang membuat debaran jantung Andini semakin kencang.

"Kalau dia bisa menyayangi Utsman dan menerima kamu apa adanya, umi akan mendoakan kamu. Walaupun Adlan sudah tidak ada, bagi umi kamu tetap anak umi dan umi ingin kamu bahagia"

Andini spontan tersungkur, mencium kaki umi.
"Terima kasih umi" ada air mata yang tak sanggup dibendung Andini.
"Andini janji akan tetap mendoakan mas Adlan. Andini janji akan mendidik Utsman untuk menjadi anak sholih yang akan memberi mahkota cahaya di surga untuk ayah kandungnya"

Rasa haru itu menular dengan cepatnya. Air mata juga telah tumpah di mata Zamzam. Dimata Dinda. Dimata umi yang tangannya tak henti membelai kepala Andini.
Mereka tak sadar kalau si kembar Umar dan Utsman tengah melihat pemandangan itu dengan penuh tanda tanya.

**

Akhirnya hari itu tiba.
Andini terlihat sangat cantik menggunakan baju pengantin brukat berwarna baby green.
Nura dan ibu yang merancang semuanya.
Hamid menggunakan jas warna  hijau gelap.
Pasangan yang serasi.
Keluarga menggunakan seragam batik hijau tosca motif daun. Termasuk juga Utsman.

**********
OTW ke Bandung

Bandung emang Baper yang Tak Terbendung.

Cinta Seindah Sakura part 4

Sakura Bumi Eropa
( Oleh : Rani Sulaeman Ummu Ahmad )

Part 4.

Menjaga wanita agar tetap dalam fitrahnya, laksana menjaga agar keindahan surgawi ada di bumi.

Lihatnya betapa hati lembutnya mampu mengorbankan apapun untuk kecintaannya.

Jika ia Allah ijinkan untuk memiliki seratus nyawa, sepertinya ia akan korbankan semua, agar kecintaannya bahagia.

Jika ia Allah uji hanya memiliki satu mata, ia akan rela memberikan pada kecintaanya, meski kecintaannya tak pernah meminta.

Jika ia harus memberikan nafas pada kecintaanya, agar sang kecintaan bisa menikmati hidup dalam kebahagiaan, paru-paru pun akan ia berikan, meski sang kecintaan tak pernah mengisyaratkan.

Jika ia harus memberikan jantung demi hidup sang kecintaan, itupun akan diberikan, demi menyambung nadi sang kecintaan, meski sang kecintaan tak menginginkan.

Jika ia harus memberikan tangan, maka ia akan rela memberikan anugrah untuk mencari berkah itu pada sang kecintaan, meski sang kecintaan menolaknya

Jika ia harus memberikan kaki pada sang kecintaan, ia akan rela melepaskan, agar sang kecintaan bisa berjalan menikmati indahnya alam, meski sang kecintaan enggan.

Kamu tahu, siapa yang paling dicintai wanita?
Anaknya.

Namun ketika wanita terluka, jangan salahkan jika semua cinta dan pengorbanan akan membusuk menjadi murka.
Surga yang diinginkan tak akan ada. Yang terlihat hanyalah amarah yang membakar semua.
Itulah wanita.

Pun begitulah Andini bagi Utsman, sang kecintaan yang Allah titipkan.
Andini tak menunda untuk bersegera menjemput kebahagiaan anaknya.

Apalah artinya hati jika sang anak mengingkan yang berbeda.
Apalah artinya rasa, jika sang anak terlihat lebih ceria
Apalah artinya gengsi, jika menghalang sang anak dari bahagia.
Itulah kenapa Andini sama sekali tak menunda.

Hamid sama sekali tak menyangka akan kebersegeraan Andini.

Sepuluh tahun, bukan waktu yang sebentar untuk sebuah penantian.
Sepuluh tahun, ada do'a yang tak putus agar wanita yang ia cintai Allah jaga dalam kebaikan, dalam kebahagiaan.

Sepuluh tahun,
Kadang ada rasa yang menggelora, mengantarnya pada angan bahagia
Kadang ada pedih yang memerih, mengantarnya pada sujud, mengadu pada Allah, Sang Pemberi Rindu.
Kadang putus asa menyapa dan ia ingin berbalik arah, mencari yang lain saja.

Namun apalah daya, cintanya menjadi ujian dalam masa yang begitu lama.
Kini, ujian itu seolah berakhir.
Semua telah selesai dalam waktu yang tak terduga.

Hamid merasa karpet merah seperti dihamparkan untuknya.
Taman bunga seperti dibangunkan di sisi kanan kirinya.
Istana dan mahkota seperti tengah menyambutnya.

Namun ia faham. Ada tugas dan tanggung jawab berat setelahnya.
Ia harus menjaga Utsman dan Andini, tak boleh sama sekali menyakiti mereka.
Ia harus siap berpeluh, membangunkan surga untuk keduanya.
Ia harus siap merengkuh, agar keduanya nyaman bahagia bersamanya.
Ia harus membangun pagar-pagar tinggi dalam do'a dan usaha, agar semua terjaga dari api neraka.
Ia harus siap selalu waspada dan terjaga, agar syaitan dan segala tipu dayanya tak menjerumuskan mereka.
Ia harus memberikan segenap hati dan jiwa, agar semua bisa selamat, berkumpul kembali di surgaNya kelak.

Pak Teja ternganga mendengar apa yang disampaikan putri kesayangannya. Antara tak menyangka dan sejuta bahagia yang menyapa.
Ia meneguk kopi, sekedar menenangkan diri.

"Alhamdulillah..." kalimat itu yang keluar dari mulut Hamid, juga calon mertuanya.
"Andin mau minta apa untuk mahar?" Hamid bertanya.

Andini terdiam.
Ia berfikir. Mencari apa yang ia inginkan. Ia tak menginginkan apapun. Ia hanya ingin Utsman bahagia. Itu saja.
"Andin minta tabungan haji untuk Utsman"
"Itu saja?" Hamid memastikan.
Andini menganngguk.
"Kakak tambahkan yang lain ya, seperangkat alat sholat dan perhiasan"
Andini menganngguk.
"Terima kasih Kak"

"Ayo makan dulu, masakannya  udah siap" tiba-tiba mama Andini mengingatkan.
Waktu makan siang memang sedikit terlewat. Lapar memang terlanjur pergi setelah begitu saja diabaikan. Hidangan kali ini terasa begitu nikmat dan lezat. Bukan karena lapar. Bukan karena resep bumbu rahasia. Tapi karena bahagia tengah menyapa jiwa.

"Nak Hamid, sudah memikirkan kapan waktunya?" bapak meretas kembali jalan bahagia.
"Inginnya sih segera Pak, tapi saya mau bicarakan dulu dengan ibu" Hamid menjawab.
"Ibu inginnya pernikahan saya dilaksanakan bareng dengan pernikahan Hamdi, mudah-mudahan waktunya cocok dengan keluarga calonnya Hamdi"
Bapak menganngguk.

Rumah Hamid selalu ramai. Seolah menjadi magnet untuk orang-orang di sekitarnya.
Teman-teman Rika dan Arina. Teman-teman Nura, selalu betah di rumah ini.
Kali ini rumah tengah ramai dengan celoteh Hanana dan  Jundi. Mereka bercanda dengan tante mudanya. Riang.

"Assalamualaikum" Hamid menyapa semua.
"Wa'alaikum salam warohmatuloohi wa baarokaatuh" penghuni rumah menjawab kompak.
"Tampak nya ada kabar bahagia nih" Mukhlis menyapa Hamid.
Hamid menjawab dengan senyuman lebar.
"Do'akan saja" jawabnya pendek.
"Bagi-bagi dong kabar bahagianya" Nura meminta dengan penasaran.
"Nanti pasti kakak kabarkan, Kakak juga ingin minta saran dan masukan dari semua, tapi Kakak ingin berterima kasih sama Allah dulu"
Nura sangat faham akan kebiasaan Hamid ini.
Hamid melangkah.
Nura mengejar. Lalu membisukan sesuatu pada Hamid.

Hamid melanjutkan langjahnya ke kamarnya.
Membersihkan diri. Setelah itu tersungkur bersujud.
Menghaturkan rasa syukur pada Allah yang telah mengatur semuanya.
Ada air mata membasah di pipinya. Air mata haru.
Sujud itu ia lanjutkan dengan dua raka'at sholat taubat dan dua raka'at sholat hajat.
Ia lanjutkan dengan melantunkan syahdu surat Ar Rohmaan.

Pintu kamarnya diketuk.
"Hamid, ibu boleh masuk, Nak?"