Jumat, 22 Februari 2008

Iman kepada Qodar & Qodir ???

“Dir, takodar kodir, takodir kodar takodar kodir, dar-dir!” lirik itu keluar dari mulut Bi Inay dengan alunan nada dangdut.  Biasa, Bi Inay emang paling suka menyanyikan lagu dangdut.  Walau nadanya sumbang dan liriknya aneh-aneh tetap saja menyanyikan lagu dengan bangga.  Tak jarang sambil meliukkan badannya bi Inay menyanyi sambil melakukan tugasnya, mengepel, cuci piring, atau ketika menyiram mawar seperti saat itu.

“Nyanyi apaan bi?” tanya Kemuning.

“Taqdir!” jawab bi Inay singkat.  Ia tak mengacuhkan Kemuning.  Perhatiannya hanya ditujukan pada mawar yang sedang ia siram.

“Dir, takodar kodir, takodir kodar takodar kodir, dar-dir!” Bi Inay kembali bersenandung.  Sumbang.

“Takdir koq kodar kodir?” Kemuning bingung.

“ Iya neng, kan kata non Tiara juga iman kepada taqdir itu adalah iman kepada kodar dan kodir”

“Apa? Kodar dan kodir?” Dari bingung Kemuning malah jadi kaget.

“iya” bi Inay mengangguk lugu.

“ whua ha..ha..ha..” Kemuning langsung terbahak begitu kagetnya hilang.

Giliran Bi Inay yang bingun.

“Kenapa Neng Nining ketawa?”

“Masak kodar dan kodir sih bi,… Qodlo dan Qodar kali” Sanggah Kemuning

“Iya neng, Qodlo dan Qodar” Bi Inay menjelaskan.

“Katanya ya neng yah,… orang sering salah paham tentang taqdir”

“Terus?”

“iya, katanya taqdir itu sering dianggap sebagai kehendak Allah terhadap manusia, misalnya maling neng, si maling menganggap bahwa ia jadi maling itu karena taqdir, padahal kata Non Tiara bukan begitu”

“Gimana kata Mba Tiara?” Kemuning memancing.  Sebenarnya Kemuning faham betul tentang makna taqdir, makna Qodlo dan Qodar, tapi ia ingin mengetahui sejauh mana Bi Inay memamahimya.  Kemuning ingin juga mengetahui sejauh mana materi yang diberikan Mba Tiara bisa dicerna dan difahami mad’unya, para pembantu rumah tangga di kompleknya.

“Padahal bukan begitu neng, manusia itu diberi pilihan, mau taqwa atau mau celaka, tinggal pilih”

“lalu apa hubungannya dengan qodlo dan qodar?”

“Begini Neng, qodlo itu adalah ketetapan Allah, dan kita tidak dimintai pertanggung jawaban, misalnya hidung bibi yang pesek, kulit engeng yang putih… siapa orang tua kita… pokoknya mah itu mah urusan Allah weh lah, kita tinggal terima”

“kalo Qodar?”

“Qodar itu katanya ukuran-ukuran dan khasiyat-khasiyat yang Allah ciptakan pada suatu benda,… tapi bibi ngga ngerti kenapa pake dikur-ukur segala”

“Kenapa bibi ngga nanya?”

“iya ya… kenapa bibi ngga nanya ya?” Bi Inay bingung sendiri “ Iya deh ntar minggu depan bibi tanya.”

“Khasiyat itu begini neng, Allah ciptakan api bisa membakar, Allah ciptakan kertas bisa terbakar, tapi kata Non Tiara bukan berarti kita harus membakar kertas setiap ada api”

“Bi…” Setengah berteriak Kemuning terlihat kaget.

Bi Inay lebih kaget lagi.

“Kenapa mawarnya disiram banjir begitu…?” antara teriakan dan kekecewaan Kemuning bertanya.

Mendengar suara setengah teriakan Kemuning Bi Inay yang sedang berkonsentrasi bercerita tentang taqdir, melompat kaget.  Keseimbangan tubuh Bi Inay yang tambun tidak terjaga.  Bi Inay pun jatuh.  Sayangnya, jatuhnya tidak pilih-pilih tempat.  Bi Inay jatuh menduduki tanaman mawar putih kemuning.  Dua tanaman itu rusak, sang satu karena kedudukin, yang satu tertimpa tangan bi Inay yang gempal.

Bi Inay mengaduh kesakitan.  Beberapa duri mawar menempel di daster belakang bi Inay.  Tangan bi Inay mulai meneteskan darah.  Duri-duri mawar juga melukai tangan bi Inay.

Bi Inay merintih.

 

“Mawarku…” Kemuning menangisi mawarnya.

“Maaf neng, Bibi tidak sengaja” Bi Inay memelas sambil meringis.

Kemuning hanya diam.

“itu namanya taqdir neng” Bi Inay mencoba membela diri.

Kemuning menarik nafas dalam-dalam.  Mencoba menenangkan dirinya.  Yah, ia faham betul, terkadang ada keterlibatan pihak lain tanpa sengaja dalam taqdir yang dijalani.  Tapi pihak yang terkait itu tidak bersalah karena sedari awal tidak berniat terlibat dalam kejadian yang ada, hanya menjadi perantara yang Allah sertakan didalamnya.  Seperti Bi Inay saat itu.  Kemuning sadar betul bahwa Bi Inay sama sekali tidak bermaksud merusak tanaman mawarnya.  Bahkan Bi Inay beberapa hari ini sangat berjasa membantu merawat mawarnya.  Tapi apa mau dikata, ternyata tanpa disengaja, bi Inay terjebak dalam petaka. Yah, petaka, karena bagi Kemuning mawar itu begitu berharga.  Mawar yang sangat istimewa karena merupakan hadiah dari sahabatnya tercinta.  Mawar yang selama ini selalu ia jaga, seperti ia menjaga persahabatannya di jalan Allah semata.

Kemuning mencoba menghibur diri.  “Bukankah Allah menciptakan sesuatu itu ada ajalnya, ada akhirnya, mungkin ini adalah akhir dari tanaman mawar ini, tapi bukan akhir persahabatanku dengan Nida” gumamnya.

“Neeng” Bi Inay mengamati Kemuning sedari tadi, mencari situasi yang tepat untuk mengambil hati kemuning.

“Iya Bi, ga apa-apa”

“Eneng harus ikhlas menerima taqdir ya…”Bi Inay mencoba menghibur.

Kemuning cuma tersenyum.

“iya bi, rugi kalo ga ikhlas, ga dapet bunga, ga dapet pahala juga”

“Biar bibi yang bersihin ya neng”

“Ga usah Bi, biar Nining aja yang membersihkan, bibi cari betadin aja untuk tangan bibi”

“Lukanya bukan Cuma tangan neng” kata Bi Inay sambil mencabuti duri di bagian belakang dasternya.  “Daster bibi juga jadi korban” keluh Bi Inay

***

 

13 komentar:

  1. Kata Bi Inay, taqdir itu untuk dijelaskan,... jangan ditertawakan.
    Kalau ditertawakan nanti Bi Inay tambah pusing katanya... ^_^

    BalasHapus
  2. lucu dan 'berisi', Teh, cerpenna. Nuhun nya...

    BalasHapus
  3. Iya.....dijadiin cerpen yang ringan konsep yang tadinya terasa berat jadi lebih mudah dicerna.

    BalasHapus
  4. sami-sami na, hatur nuhun oge tos keresa maca

    BalasHapus
  5. iya, ini juga lagi belajar

    BalasHapus
  6. makaih,... makasih sudah mau meembaca & mengomentarinya,

    BalasHapus
  7. udah di posting di group cerita pendek online blum mbak? bagus

    BalasHapus
  8. kalo mpers yg nyanyi pasti jadi gini...dir pak KOPDAR kodir

    BalasHapus
  9. Belum,... makasih atas idenya,
    ntar saya coba.

    BalasHapus
  10. Weleh.. bisa bisa aja si eneng ini bikin cerpen beginian. Padahal materi berat neeeehhh..... :D

    BalasHapus
  11. Kalo udah berat jangan dibikin tambah berat.... ntar keberatan

    BalasHapus