Rabu, 16 Januari 2019

Benang kusut bernama pertengkaran



Marah bagian dari sistem perlindungan.  Setiap orang pasti punya potensi untuk marah.  Marah tidak masalah kalau pada tempatnya.  Marah tidak salah kalau sesuai tuntunan syari'ah.  Rosululloh saw yang mulia juga pernah marah koq, tapi marahnya kalau agama Allah dihina.  Kita juga harus lah marah kalau masalah penghinaan agama Allah.  Cuma dengan segala kelemahan yang Allah ciptakan pada manusia, kadang marah itu muncul pada tempat dan waktu yang tidak kita duga.

Dalam sebuah rumah tangga, rasa marah antara suami istri sangat mungkin untuk muncul.  Setiap rasa marah biasanya dipacu oleh kekecewaan dan ketersinggungan.  Ada harapan yang tak terwujud, ada ego yang terusik.  Ada ketidaknyamanan yang menciptakan jarak.  Jarak ini tentunya akan mengganngu, karena harus segera dipapus.  Dua tangan harus segera saling menggenggam, saling merengkuh agar tak menjauh.  Karena dua insan dalam rumah tangga diikat untuk selalu saling mendekat, saling memberikan sakinah satu sama lain.  Oleh karena itu, Dalam sebuah rumah tangga yang sehat, rasa marah ini harus tersalurkan dengan baik.  Harus ada solusi yang bisa diterima oleh dua belah pihak.  Jika tidak, masalah tidak selesai ini akan menjadi selembar sekat tipis.  Sangat tipis dan transparan.  Tapi jika terus menerus terjadi, ibaratnya sekat tansparan itu akan bertambah dan bertambah hingga tanpa disadari telah menjadi dinding yang tebal yang memisahkan dua orang yang semula saling mencintai.

Memaafkan adalah cara terbaik cara terbaik.  Tapi kadang untuk memaafkan diperlukan proses yang cukup rumit tak semudah membalik dua telapak tangan.  Kenapa?  Karena dua insan yang disatukan mempunyai latar belakang yang berbeda. Dua manusia, meski terikat dengan aqidah yang sama, berpegang pada hukum yang sama, mencintai DZAT yang sama, mengikuti nabi yang sama, karena dibesarkan dalam lingkungan yang berbeda, maka akan membawa banyak hal yang berbeda.  Perbedaan yang mungkin cukup mengagetkan meskipun sebenarnya mungkin merupakan hal yang kecil.  

Untuk itu, diperlukan kesepakan bersama antara dua belahan jiwa yang telah dipersatukan Allah dalam ikatan mitsaqon gholidho untuk mengatasi masalah-masalah kecil ini.  Buatlah kesepakatan dari awal.  Landasan utama tentu hukum syara dan apa yang dicontohkan Rosulullooh saw.  Namun tips berikut mungkin bisa membantu mengurai benang kusut bernama pertengkaran.  Yang harus dicatat adalah sebuah pertengkaran suami istri hanya boleh diketahui oleh dua pasang mata.  

 9 aturan pertengkaran yg jujur & sehat.


1.  setujui waktu yg tepat ; lihat apakah tergugat sudah siap? Apakah penggugat sudah siap?

Setiap diri kita, setiap waktu setiap saat tentu ingin berkembang menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.  Termasuk juga dua insan yang dipersatukan dalam pernikahan.  Dipersatukan untuk menggenapkan agama, menyempurnakan ibadah.  Maka saling memberikan kesempatan untuk berkembang berarti saling menuntun menuju surgaNYA.  Maka yang harus disadari adalah bahwa tujuan pertengkaran adalah untuk mencapai saling pengertian yang lebih baik antara kedua belah pihak. oleh karena itu, pegang teguh hal ini : Bekal untuk mencapai saling pengertian : rasa belas kasih, kesabaran, kejujuran.

Karenanya ketika hendak masuk ke babak pertengkaran, lihatlah, apakah tergugat siap bersabar menerima keluhan dan teguran.  Apakah penggugat sudah siap dengan kata-kata yang lembut, sudah siap dengan belas kasih.  Apakah keduanya, penggugat dan tergugat sudah siap untuk membicarakan secara terbuka dan jujur tentang apa yang mereka inginkan, apa yang mereka rasakan?  Jika sudah siap, lanjut ke langkah kedua.


2 Pastikan bahwa senjata kita tak akan mematikan lawan
Setiap perang mempunyai aturan, aturan perang kecil bernama pertengkaran dalam rumah tangga yang pertama dan utama adalah bahwa : Bahwa Allah telah memuliakan Bany Adam, termasuk diantaranya adalah belahan jiwamu.  Maka, walaupun harus bertengkar, tetap jaga kemuliannya, jaga perasaan dan hatinya.  Tips berikut ini in syaa Allah akan membantu.
πŸ’™ jangan mencela sesuatu yg sudah menjadi qodlo Allaah.
πŸ’™ sampaikan kritik dengan cara yang lembut
πŸ’™ jangan ucapkan ungkapkan yang sudah sering dikemukakan hingga jadi menjemukan, hindari kata kau tak pernah & kau selalu
πŸ’™ adakalanya diam merupakan jawaban yang tepat. Ada saatnya sesuatu harus diungkapkan
❤ pelajari aturan ini & laksanakan pada tempat & waktu yang tepat.

3. Lirihkan suara, jangan pernah mengeraskannya.
Mungkin ini perlu perjuangan, tapi ingat : senjata wanita adalah keindahan suaranya yg begitu halus, lembut & lirih.  Ingat, Dua belahan jiwa Allah satukan untuk saling mendekat dalam cinta.  Suara yang keras pertanda jauhnya dua hati.  Karena itu mendekatlah.  Wudhu, pegang tangan erat, sampaikan dan dengarkan walaupun berat.

4. Tidak di depan siapapun, hanya 2 pasang mata. & tidak membuka rahasia pribadi pada siapapun.
Ingat seni kedua : kalian Allah ciptakan sebagai pakaian satu sama lain.  Saling menutupi hal-hal yang pribadi, saling menjaga.  Kehormatannya adalah kehormatanmu.

5. Rundingkan gencatan senjata kalau salah satu pihak bilang "stop"
Adakalanya tergugat atau penggugat  merasa sangat terbebani & tidak kuat lagi menghadapi ungkapan kekecewaan yang disampaikan.
Jika salah satu ingin berhenti, sementara yg 1 merasa belum, katakan : "aku faham, tp aku butuh waktu untuk merenung & mempertimbangkan bahwa yang kau katakan adalah benar"  Kadang memang diperlukan waktu untuk mencerna sesuatu.  Berikan waktu untuk merenung.  Berikan kesempatan hingga dadanya lapang.

6. Kalau sudah berdamai, sudah selesai, jangan ungkit lagi kecuali jika sepakat perlu ada yg diperbaiki.
Jika sebuah masalah sudah disepakati dianggap selesai, jangan pernah mengungkitnya lagi.  Azzamkan bahwa untuk masalah tersebut kalian sebagai dua belahan jiwa yang berjanji saling menuntun menuju surgaNYA, akan memulai tema yang menjadi pertengkaran dari awal lagi.  Belajar lagi.  Simpan rapat-rapat rahasia pertengkaran tersebut dalam sebuah peti es.  Kunci rapat, buang kuncinya dan terbangkan peti esnya ke kutub selatan, atau buang ke lautan tropis.  Biarlah larut disana, bukan dalam hatimu, bukan dalam surga rumah tanggamu.

7. Maafkan
Penghuni surga adalah orang yang dengan ikhlas penuh kelapangan dada memaafkan kesalahan manusia.  Dan kalian sepasang belahan jiwa yang Allah ciptakan dalam ikatan cintaNYA tengah membangun rumah surga, dalam rumah tangga.  Rumah yang dibangun untuk membumikan kalamNYA, melaksanakan semua titah kemulian dariNYA, maka jadikanlah kemuliaan memaafkan sebagai perbekalan yang harus selalu ada.  Maafkan, lupakan, hapuskan kesalahan & catat semua kebaikan-kebaikan dari belahan jiwamu.  Buka catatanmu tentang always be an adamirer.  Lihat & rasakan betapa mempesonanya belahan jiwamu.  Terutama untuk suami, sebagai pemegang kunci surga sang istri.  Maafkan, beri jalan yang lapang untuk istrimu menuju surgaNYA, surga yang pondasinya tengah kau bangun di sini, di dunia, di dalam rumah tanggamu.

8. Jangan tunda sampai esok hari
Camkan dan jawab pertanyaan berikut :
Siapa yang menjamin bahwa esok kita masih bisa merasakan nikmatnya pagi?
Siapa yang menjamin bahwa esok masih ada waktu lagi?
Siapa yang menjamin bahwa waktu kita masih tersisa banyak dan banyak lagi?
Bagaimana jika esok nafas kita terhenti?
Bagaimana jika suami belum meridhoi istri sementara nilai baktinya telah ia sampaikan sepenuh hati?
Bagaimana jika Allah lebih mencintai belahan jiwa yang kita cintai dengan cara memanggilnya ke hadirat ilahi?


9. Rayakan
Sebelum merayakan, pastikan dulu bahwa win-win solution telah berhasil didaptakan.  Setelah itu, sadari bahwa sebuah pertengkaran telah membuat hati dan tubuh jadi kaku, maka segera lakukan relaksasi.  Hilangkan segala penat dan sakit yang melanda hati.  Segera ambil wudhu, rengkuh belahan jiwamu dan berikan sentuhan juga pelukan.  Sempurnakan akhir semuanya dengan sebuah ibadah cinta yang indah.  Singkirkan rasa malu, buang jauh ego, dan nikmatilah karunia air kehidupan dari Ilahi.  Semoga dalam ibadah cinta yang indah ini Allah berkahi hingga lahir buah hati. 

Ingat, Allah hanya ingin kalian bahagia, maka jadilah kalian sepasang belahan jiwa yang selalu bisa memberikan kenikmatan dan kebahagiaan atas ijinNYA.





11 komentar:

  1. Menikah itu memang tidak mudah, karena sejatinya menikah itu membersamai 2 insan yang berbeda karakter😊, tapi walaupun berbeda karakter tidak menutup kemungkinan untuk menjadi keluarga samara, eaaaa♥️

    BalasHapus
  2. Makasii tipsnya Mak.
    Kalo lagi marah, aku inget2 sabda Rasul Laa taghdhob walakal jannah.
    Ini sih ajaiiibb bgt, bisa bikin marah2 kelar :D

    BalasHapus
  3. Kunjungan pertama. Masya allah blognya keren. Memaafkan memang paling baik, tapi susahnya kadang-kadang di hati masih nggondhok hehe... duh manusia :)

    BalasHapus
  4. Nomor 6 paling sulit ya. Kalau kelak kita emosi, kadang tanpa sadar masa lalu yg seharusnya berhenti terkuak kembali hix

    Makasih remindernya

    BalasHapus
  5. Terima kasih sudah mengingatkan, anger management memang perlu dilatih agar bisa marah dengan tepat..

    BalasHapus
  6. Terima kasih sudah diingatkan tentang hal ini Mbak. Memang dalam rumah tangga. Pertengkaran tidak dapat dihindarkan. Dari masalah yang sepele sampai masalah yang besar, terkadang ada saja jalannya untuk bergesekan. Tetapi benar yang Mbak Rani tulis. Semua ada aturan dan caranya, agar pernikahan tetap bahagia, langgeng dan penuh cinta.

    BalasHapus
  7. Mbak Rani, bahasanya coba diubah ke Indo di setting komentarnya. Tadi nyari kolom komentar soalnya.

    Marah pada pasangan kayaknya semua orang pernah mengalami, ya. Bener banget kalau ada permasalahan lebih baik diselesaikan berdua khawatirnya kalau udah ada pihak lain malah bertambah masalah lagi. Memang memaafkan dan meminta maaf solusi terbaik.n

    BalasHapus
  8. Ternyata bertengkar dengan pasangan pun ada seninya ya, Mbak. Kalau mengikuti cara-cara ini sepertinya pertengkaran rumah tangga pasti akan berakhir dengan indah ya.

    BalasHapus
  9. Membaca tulisan Mba Rani serasa sedang diberi nasihat pernikahan. Nasehat yang indah untuk diresapi sekaligus jadi pengingat diri. Dan betul Mba, memamaafkan itu melapangkan hati, tapi proses untuk menjadi lapang hati memang tidak mudah.

    BalasHapus
  10. Bagus nasehatnya nih. Bisa jadi acuan pasangan yang sedang berselisih. Eh...tapi...kalau marahan mana inget aturan 1-2-3-dst nih.
    Intinya jangan lama-lama kalau bertengkar...

    BalasHapus
  11. Hehe agak asing dg istilah tergugat penggugat dalam konteks suami-istri.

    But so well. Marah dengan cara yang benar itu perlu.

    At taubah ayat 41 turun saat Rasulullaah marah pada ka'ab bin malik dan 2 sahbat lain. Rasulullaah mendiamkan (tidak menyapa) 3 sahabat tersebut selama 40 hari.

    Yes rasulullaah pernah marah. Cara marah yang baik itu yang harus di garis bawahi bersama.

    Pahalanya surga euy.

    BalasHapus